“One Planet, One Chance” Seminar tentang Global Warming-Climate Change

249
“One Planet, One Chance” Seminar tentang Global Warming-Climate Change
Silahkan memberi Rating!


Narasumber: Ibu Susi Hutomo (CEO the Body Shop Indonesia dan member Greenpeace dari Asia Tenggara).

The Body Shop Indonesia merupakan perusahaan yang fokus memperjuangkan Green Behavior.

 “Mudah-mudahan melalui seminar ini, kita bisa memperoleh pencerahan yang bisa kita bawa pulang ke tempat kita berkarya dan menjadi pondasi pergerakan Green Behavior kita,” ungkap RD Kuswardiyanto atau yang akrab disapa Romo Anton ketika membuka seminar lingkungan hidup yang difasilitasi oleh The Body Shop Indonesia di Paroki Maria Regina Bintaro (6/9).

 Mengawali presentasinya, Susi Hutomo selaku narasumber memutar lagu “Earth” yang mengisahkan kerusakan ekosistem bumi. Kemudian dilanjutkan pemaparan tentang apa itu Global Warming dan efek negative yang ditimbulkannya.

“Global Warming berarti Pemanasan Global yang diakibatkan oleh radiasi sinar infra merah matahari yang terperangkap di bumi,” ungkap CEO The Body Shop ini. Seharusnya sinar infra merah dari matahari itu dipantulkan kembali ke luar angkasa. Namun akibat tingginya kadar gas Karbondioksida (CO2) dan methana (CH4) membuat lapisan ozon menjadi berlubang. Padahal lapisan ozon ini yang seharusnya melindungi bumi dari terjangan sinar infra merah dengan cara memantulkannya kembali ke angkasa.

“Kadar gas karbondioksida dan metana ini paling besar dihasilkan oleh aktivitas manusia yang kebanyakan negative bagi lingkungan seperti hasil pembakaran bahan bakar fosil yaitu minyak bumi dan batu bara. Selain itu juga pembukaan lahan hutan primer untuk dijadikan ladang industry, pembuangan sampah yang tidak bisa didaur ulang secara sembarangan, pembakaran sampah dsb,” jelas Susi Hutomo secara panjang lebar.

Lebih lanjut salah satu aktivis Green Peace di regional Asia Tenggara ini menjelaskan bahwa salah satu efek langsung dari pemanasan global ini adalah Perubahan Cuaca yang ekstrem dan tidak dapat  atau susah diprediksi. “Kita lihat saja Glaciers (selimut es abadi) di puncak gunung-gunung tertinggi di dunia mulai banyak yang mencair. Lapisan Es tebal di kutub utara dan selatan juga semakin terkikis secara cepat. Ini tentunya sangat mengancam kehidupan di bumi ini.”

Di suatu negara mengalami musim kering yang luar biasa, sedangkan di negara lain mengalami banjir badang dan badai yang sangat besar. Ini merupakan salah satu perubahan iklim ekstrem yang diakibatkan oleh global warming.

Di Indonesia sendiri khususnya di Jakarta banjir, kemarau, dan hujan lebat sudah tidak sesuai dengan musimnya (tidak bisa diprediksi lagi). Selain itu permukaan air laut pun semakin meninggi akibatnya akan banyak pulau tenggelam. Diperkirakan pada 2050 kenaikan air laut akan menggenangi sekitar 160,4 km2 wilayah DKI Jakarta.

 “Sungguh mengerikan bahwa hutan primer dai Kalimantan dan Sumatera mengalami penebangan hutan besar-besaran, dan Papua sendiri pun sudah mulai mengalami hal tersebut juga,” papar Susi, Semua hutan dibuka dan diubah menjadi hutan produksi seperti Kelapa Sawit, dsb. “Indonesia berada pada urutan kedua dunia yang mengalami deforestation (pembukaan lahan hutan primer secara massif untuk menjadi lahan industri) setelah Brazil,” lanjut Susi.

Usai penjelasan dari narasumber, RD Danto dari Keuskupan Agung Jakarta kemudian melontarkan pertanyaan, “Lalu kami sebagai para pastor, tindakan apa yang harus dilakukan untuk menjawab tantangan ini, dan apakah isu global warming ini betul-betul murni isu lingkungan hidup atau isu politik-ekonomi semata?”

Menanggapi hal tersebut Susi menjelaskan bahwa salah satu tindakan nyata dan sederhana adalah 3R yaitu Reduce, Reuse dan Recycle. Reduce yaitu mengurangi atau bahkan tidak menggunakan bahan-bahan yang menghasilkan sampah yang tidak atau susah didaur ulang. Reuse menggunakan kembali bahan-bahan yang telah digunakan semaksimal mungkin dan Recycle yaitu mendaur ulang sampah menjadi sesuatu yang berguna kembali.

Terkait dengan hal ini juga, Susi menambahkan bahwa proses penghematan energy merupakan hal yang sangat penting juga. Gunakan air dan listrik seperlunya. “Dan sebaiknya kita menggunakan energy terbaharukan seperti energy panas matahari (Solar Cell), energy angin, energy panas bumi, dsb,” pungkasnya.

Kemudian menanggapi pertanyaan kedua Susi menjelaskan bahwa Global Warming merupakan isu yang mencakup bidang apa saja; politik, ekonomi, sosial, dsb.

“Mari kita mulai melakukan sesuatu yang sederhana di tempat kita misalnya membuat biopori, pembuatan kompos, penghematan listrik dan air, dsb,”

RD Tunjung Kesuma menutup rangkaian kegiatan siang itu dengan menuturkan bahwa Imam yang suci dan pandai adalah Imam yang juga memberi perhatian pada kelestarian lingkungan hidup.