Homili Bapa Uskup Mgr. I Suharyo saat Misa Pembukaan Temu Unio Regio Jawa: “Menjadi Imam yang Suci dan Pandai”

325
Misa Pembukaan Temu Unio Regio Jawa
Homili Bapa Uskup Mgr. I Suharyo saat Misa Pembukaan Temu Unio Regio Jawa: “Menjadi Imam yang Suci dan Pandai”
Silahkan memberi Rating!

Misa Pembukaan Temu Unio Regio JawaSenin, 3 September 2012

Misa Pembukaan :

Oleh Uskup Agung KAJ Mgr. Ignatius Suharyo didampingi Kardinal Mgr. Julius Darmaatmadja, Ketua Unio KAJ, Rm Hadi Suryono dan ditambah 8 Imam Diosesan lain.

Koor dan Petugas Liturgi Misa dari Paroki Kalvari, misa nuansa Keroncong.

Pertemuan unio region jawa merupakan rahmat Allah sendiri, semoga perjumpaan ini menjadi berkat bagi kita smua untuk semakin merasakan anugerah Allah pd kita khususnya anugerah imamat. SMoga perjumpaan inmi semkin meneguhkan panggilan ini.

Bac I: 1 Kor 2:1-5

Injil: Luk 4: 16-30 (Oleh Rm Adi Prasojo RD)

Homili: Mgr. Suharyo:

Bersyukur atas rahmat Allah atas kesempatan pertemuan ini. Selamat berjumpa untuk kita semua. Terima kasih untuk kita semua terutama panitia penyelenggara dan seluruh umat.

Tema kita: “Imam kami Suci dan Pandai.” Tidak mudah untuk menyatukan tema ini dan bacaan Misa ini. (Judul perikop ini adalah “Yesus ditolak oleh orang Nazaret.”)

Mengapa Peristiwa ini yang letaknya biasanya di tengah Injil pada ketiga injil lainnya, sedangkan Lukas menaruhnya di Depan Injinya. Maksudnya agar kita menjadi imam yang suci dan pandai (langsung disambut senyum dan anggukan oleh para umat yang hadir).

Yesus pertama kali diterima tapi kemudian ditolak. Paulus demikian juga, dia diterima di antiokhia tapi sesudah perjumpaan kedua di anthiokia Paulus kemudian juga diusir dari situ.

Lukas ingin menampilkan Yesus sbg pewarta sabda yg tidak mengikutkan arus Achievement Orianted, artinya Dia bukan berorientasi pada hasil. Karena kalau berorientasi pada hasil, hasilnya terlihat gagal. Yg mau dikatakan oleh Lukas, adalah ia tampak tampil didalam kebebasan rohaninya yg sangat sempurna. Yesus tidak mau diikat oleh interest (Kepentingan) apapun kecuali Allah sendiri.

Nampak dalam kisah, bagaimana  Yesus ditolak namun tetap mau mewartakan di kota-kota lain juga. Ketika mau masuk ke Yerusalem juga Dia ditakuti-takuti tapi dia menjawabnya bahwa hari ini lusa atau seterusnya Dia akan tetap ke Yerusalem.

Yesus adalah pribadi Imam yang Suci dan Pandai. Dalam hal ini Suci tidak boleh terpisah dari Pandai. Suci dan Pandai ini adalah bermakna lepas bebas, dan hanya diikat oleh perspektif Allah, “Kedalam tanganmu kuserahkan nyawaku,” demikian Yesus ketika wafat di Salib.

Selain Yesus sebagai tokoh utama ada juga tokoh lain yaitu orang banyak. Orang banyak itu diceritakan mengalami dinamika batin yang menarik, yaitu kekecewaan. “Bukankah dia ini anak Yusup.” Ungkapan ini ungkapan kecewa. “Saya pikir dia anak hebat ternyata anak tukang kayu.”

Biasanya orang yang kecewa akan bertambah besar pengharapannya dan semakin pengharapan itu tidak terwujud maka mereka akan sangat marah dan gelap mata. Maka mereka hendak melempar Yesus ke tebing. Tokoh ini jelas bukan teladan Imam Suci dan Pandai.

Paulus pun dalam Bacaan Pertama dikisahkan pelan-pelan didik dalam rahmat hingga mencapai kesimpulan: “Supaya imanmu bukan bergantung pada hikmat manusia melainkan pada kekuatan Allah semata.” Demikianlah seharusnya kita menjadi Imam yang Suci dan Pandai layaknya Yesus dan Paulus.

“Saya mengajak para Imam untuk mengucapkan “Menjadi Imam yang Suci dan Pandai.” Ucapkan kalimat ini sebagai “mantra”: bangun tidur, mau tidur, mau makan dsb., selalu hendaknya diucapkan kalimat ini. Maka perlahan hal ini akan teringat dan kemudian terwujud dlm kehidupan sehari-hari kita sebagai Imam,” ungkap Mgr Suharyo.

Tuhan Memberkati.

Setelah Misa dilanjutkan dengan Pemberkatan baju dan colar oleh Bapak Kardinal yang akan diberikan satu persatu kepada para Imam untuk digunakan.