Download File Katalog Lembaga Sosial KAJ

1995
Download File Katalog Lembaga Sosial KAJ

Dalam Yesus, Allah pencipta semua orang kita sebut Bapa, dan manusia ciptaan adalah anak-anak Allah yang diciptakan sebagai citra Allah. Maka semua manusia adalah saudara-saudari satu sama lain dalam Allah yang satu dan sama. Ini alasan kita harus terus meningkatkan persaudaraan dan belarasa terhadap sesama ciptaan Allah yang berbelarasa. Allah yang berbelarasa itu nyata dalam diri Tuhan Yesus yang berbelarasa terhadap perempuan yang sakit pendarahan (Markus 5:25-34), terhadap lima ribu orang yang lapar (Markus 6:34), terhadap perempuan Siro-Fenesia yang anaknya sakit (Markus 7:24-30), terhadap janda Nain yang anaknya meninggal (Lukas 7:13).

Kata belarasa juga dipakai dalam kisah orang Samaria yang baik hati yang menolong korban perampokan (Lukas 10:25-37). Kalau belarasa adalah karakter utama Allah dalam diri Yesus, tentu saja hal itu juga menjadi dasar pewartaan dan pemakluman kerajaan Allah dalam kata, sikap, dan tindakan Yesus lainnya. Kalau kita ingin semakin beriman, kita dipanggil untuk beriman terhadap Allah yang berbelarasa. Apakah artinya orang berbelarasa? Pada intinya, orang berbelarasa berarti orang sedemikian ikut merasakan penderitaan yang dialami sesama manusia yang menderita sehingga orang itu merasa harus berbuat sesuatu untuk mengatasi penderitaan sesama manusia itu.

Dengan demikian, perasaan belarasa (compassion) membawa orang pada keadaan berbelarasa (compassionate). Kata Ibrani untuk belarasa yang bentuk tunggalnya berarti rahim sering dipakai untuk Allah dalam Perjanjian Lama. Kata ini diterjemahkan sebagai murah hati untuk menggambarkan sifat Allah yang pengasih dan penyayang. Jadi Alkitab Ibrani sering berbicara tentang Allah sebagai Allah yang berbelarasa dengan kata murah hati. Dengan demikian pernyataan Yesus Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Allah murah hati berakar pada tradisi Yahudi sebagai suatu gambaran mengenai sifat pokok Allah.

Kepada siapa belarasa itu kita tujukan? Belarasa kita tujukan kepada sesama kita pada umumnya, terutama orang yang lebih menderita, terutama orang lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Ini adalah pilihan Gereja yang sumbernya adalah identifikasi Yesus dalam diri orang lemah, miskin, tersingkir, difabel, serta membutuhkan (Matius 25:36-47) dan Ia datang melayani untuk mereka yang membutuhkan, Aku datang bukan untuk orang yang sehat, melainkan orang yang sakit. Keadilan sosial hanya dapat terwujud kalau yang lemah, miskin, tersingkir dan cacat diutamakan agar ketidakadilan dan kesenjangan sosial tidak semakin lebar.

Konsili Vatikan II dalam dokumen Kerasulan Awam (Apostolicam Actuositatem) juga menegaskan pentingnya belarasa terhadap mereka yang lemah: Di mana saja ada orang yang berkekurangan makanan dan minuman, pakaian, perumahan, obat-obatan, pekerjaan, pendidikan, kemudahan yang diperlukan untuk hidup yang benar-benar manusiawi; di mana saja ada orang yang tersiksa karena kesehatannya yang rapuh, yang menderita karena dibuang dan ditahan, di situ cinta kasih kristiani harus mencari dan menemukan mereka, menghibur mereka dengan perhatian intensif serta meringankan beban mereka dengan memberi bantuan (art. 8).

Dewasa ini, Gereja mengadopsi ungkapan pilihan bagi orang miskin untuk menggambarkan prinsip moral ini. Yohanes Paulus II telah berbicara tentang kewajiban khusus terhadap orang miskin sebagai cinta yang memihak, bukan eksklusif, orang miskin. Dia menggambarkan kasih yang memihak orang miskin ini sebagai suatu panggilan untuk memiliki keterbukaan istimewa dengan orang kecil dan lemah, mereka yang menderita dan berduka, mereka yang direndahkan dan disingkirkan oleh masyarakat, dan membantu mereka memenangkan martabat mereka sebagai pribadi manusia dan anak-anak Allah (Yohanes Paulus III, “Pidato pada para uskup Brazil,” Origin,31 Juli, 1980 hal. 35).

Maksud utama komitmen istimewa pada yang miskin adalah untuk memampukan orang miskin menjadi orang yang terlibat aktif dalam kehidupan masyarakat. Artinya sekaligus memampukan semua pribadi berbagi demi kesejahteraan bersama. Komitmen ini lebih menyatakan bahwa kehilangan martabat pribadi manusia dan ketidakberdayaan orang-orang miskin melukai seluruh masyarakat (Keadilan Bagi Semua, art. 88.). Gereja yang memihak kaum miskin semakin kelihatan tegas ditampilkan oleh Paus Fransiskus dalam tindakan, sikap dan kata-katanya. Suatu saat dia mengatakan pada para jurnalis “Oh, how I would like a poor Church, and for the poor.” (Reuters, 16 Maret 2013).

Daftar berbagai lembaga pelayanan sosial di Keuskupan Agung Jakarta ini, merupakan salah satu penanda Gereja yang memihak kaum miskin. Meski tidak bisa mencantumkan semuanya, daftar ini dimaksudkan untuk melengkapi karya sosial paroki, baik itu yang dikelola oleh Seksi Sosial Paroki maupun Gerakan Ayo Sekolah yang sudah mulai tumbuh dimana-mana.

Dalam katalog ini dicantumkan beberapa kategori pelayanan baik yang dilakukan sebuah lembaga berbentuk yayasan maupun komunitas kategorial. Selain itu, dicantumkan juga beberapa pelayanan yang dikerjakan umat Keuskupan Agung Jakarta tetapi bertempat di luar keuskupan.

Dengan daftar ini, diharapkan upaya belarasa kita pada mereka yang membutuhkan menjadi lebih merata, lebih terkoordinasi, dan tentunya diharapkan menjadi lebih berkualitas. Lebih merata artinya bahwa perhatian kita tidak tertumpuk pada salah satu lembaga/pelayanan saja. Supaya perhatian kita juga lebih merata, di bagian akhir dicantumkan daftar lembaga sosial berdasarkan lokasinya (pembagian per dekenat). Lebih terkoordinasi artinya jika ada suatu lingkungan atau wilayah ingin melakukan bakti/pelayanan sosial, koordinator acara atau ketua lingkungan/wilayah bisa menginformasikan ke pantia paskah atau seksi sosial paroki tentang acara bakti sosial tersebut, supaya kemungkinan pemerataan perhatian juga bisa menjadi lebih baik. Demikian halnya untuk komunitas-komunitas kategorial atau persekutuan doa, yang sangat dianjurkan memberi informasi kepada koordinator dari berbagai komunitas atau persekutuan doa, misalnya Pemikat dan BPK PKK KAJ.

Salah satu maksud dari menuliskan daftar pelayanan sosial di KAJ ini adalah membantu umat KAJ yang sering bertanya apakah suatu lembaga yang memakai nama berbau Katolik itu di bawah payung Gereja atau tidak. Jika tercantum dalam katalog ini, dapat dipastikan bahwa panti/pelayanan sosial ini dalam payung Gereja Katolik Keuskupan Agung Jakarta. Jika tidak, kemungkinan memang baru inisiatif pribadi atau memang sebenarnya tidak ada hubungan langsung dengan Gereja Katolik. Karena itu, jika masih ragu-ragu atau ada pertanyaan, silahkan menghubungi sekretariat Pemikat di Gedung Karya Pastoral KAJ, Jl. Katedral No.7, Jakarta Pusat 10710, telp. (021) 3519193

Masih banyak hal yang bisa dipikirkan dan dikerjakan agar iman kita bisa bertumbuh dan berbuah lebih banyak dan lebih baik melalui dan bersama yayasan/lembaga sosial Katolik. Karena itu, jika ada usulan, silahkan ke alamat yang telah disebut di atas. Akhirnya, selamat melayani. Selamat berbelarasa. Semoga Tuhan selalu memberkati upaya kita dan kita dapat menjadi berkat bagi sesama.

Jakarta, 27 Agustus 2020

Yusup Edi Mulyono, SJ
Vikaris Episkopalis Kategorial Keuskupan Agung Jakarta

DOWNLOAD KATALOG SOSIAL KAJ