Gereja Mencari Jati Diri

352
Gereja Mencari Jati Diri
Silahkan memberi Rating!

Selama dua pekan, 1-4 Agustus dan 8-11 Agustus 2011, Uskup Agung Jakarta bersama ratusan imam menyelenggarakan Temu Pastoral (Tepas) dalam dua gelombang di Via Renata, Cimacan. Vikaris Jendral Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), Pastor Yohanes Subagyo Pr, menekankan tujuan umum Tepas, yang sudah diadakan sejak 1994. Tujuan itu adalah agar para pastor di KAJ bisa belajar bersama tentang aneka topik pastoral aktual. Adapun topik yang diangkat adalah ”Membangun Kepemimpinan Pastoral Berdasarkan Arah Dasar KAJ 2011-2015”. Arah Dasar (Ardas) KAJ 2011-2015 ini dipromulgasikan oleh Mgr I. Suharyo pada Minggu Paskah, 24 April 2011.

Ardas ini diharapkan menjadi inspirasi dan aspirasi dasar bagi dinamika seluruh imam dan umat KAJ menuju keadaan yang dicita-citakan. Tiga tujuan pokok yang hendak dicapai dalam Temu Pastoral ini adalah memahami kepemimpinan pastoral, menentukan sasaran strategis, serta membangun budaya pastoral KAJ.

Kepemimpinan pastoral

Ardas KAJ sebagai sebuah teks adalah cita-cita yang dituju oleh Gereja Katolik sebagai ”umat Allah” di wilayah Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, yang ingin bertumbuh dalam kesetiaan kepada Tuhan dan kepada bangsa. Ardas ini mengandung tiga pilar pokok yang diarah oleh KAJ, yakni berakar dalam ‘iman’, bertumbuh dalam ‘persaudaraan sejati’, berbuah dalam ‘karya pelayanan’.

”Iman-Persaudaraan-Pelayanan” adalah tiga kata yang ingin menampilkan wajah dan jatidiri Gereja KAJ secara utuh. Gereja meyakini bahwa, ”iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan, dan oleh perbuatan-perbuatan itu, iman menjadi sempurna” (Yak 2:22). Sedangkan ungkapan ”umat Allah” yang berziarah sepanjang zaman dalam dorongan dan tuntunan Roh Kudus bersama umat beragama lain dinyatakan dalam Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium Bab II, art 14-17.

Berangkat dari sebuah kesadaran bahwa para pastor adalah garda depan sosialisasi serta implementasi Ardas KAJ, maka setiap pastor diajak merefleksikan kembali arti kepemimpinan pastoral. Secara umum, dalam banyak sharing antarpastor yang notabene sebagai pemimpin umat, dirasakan kebutuhan sebuah Tata Pelayanan Pastoral yang menekankan jatidiri kepemimpinan berdimensi partisipatif (keterlibatan) dan transformatif (perubahan).

Salah satu isi Tata Pelayanan Pastoral di atas adalah penjabaran tiga entitas pokok yang semestinya dibuat oleh para pastor sebagai pemimpin pastoral.

Tiga entitas pokok itu adalah (1) Kesadaran: Menentukan arah, cita-cita dan tujuan, sesuai dengan Ardas KAJ; (2) Kesaksian: Menunjukkan kualitas karakter pribadi yang ditampilkan secara nyata dalam hidup kesehariannya; (3) Keterlibatan: Menggerakkan setiap umat secara sinergis.

Sasaran strategis

Secara ideal, seorang pemimpin perlu merumuskan sasaran strategis untuk mewujudkannya. Secara riil, para pastor – sebagai pemimpin umat – kerap hanya berhenti pada ”kegiatan” apa yang ingin diadakan, bukan dilihat dari ”pencapaian” sesuai dengan acuan Ardas KAJ. Mereka jatuh pada ”pastoral kegiatan”. Maka, perlulah setiap pastor bersama umat KAJ mengartikan konteks sekaligus melihat sasaran strategis Ardas. Sasaran strategis ini bisa berangkat dari tiga konteks sosial yang diangkat oleh Ardas KAJ, antara lain kemiskinan, kerusakan lingkungan hidup, dan intoleransi dalam masyarakat.

Di sekitar Pelayanan Iman, pelbagai sasaran strategis yang perlu dituju, yakni (1) Meningkatkan kecintaan dan penghayatan umat terhadap Sakramen Ekaristi; (2) Meningkatkan penghayatan umat akan aneka sakramentali, khususnya kaitan antara liturgi dan devosi, maupun tradisi berdoa bersama dalam keluarga; (3) Membangun kebanggaan dan kesetiaan umat akan iman Katolik (sensus catholicus); (4) Meningkatkan kecintaan dan pemahaman umat terhadap dunia Kitab Suci; (5) Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman Ajaran Iman, khususnya Ajaran Sosial Gereja, baik dalam katekisasi maupun mistagogi; Memberikan per-HATI-an pada pelayanan Bina Iman Anak dan Remaja serta pelbagai kelompok Orang Muda Katolik untuk menjadi komunitas beriman yang semakin berkualitas.

Di sekitar Pembangunan Persaudaraan, pelbagai sasaran strategis, antara lain (1) Meningkatkan persaudaraan dan keterlibatan umat di lingkungan basis; (2) Mengembangkan relasi Gereja dengan tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh umat beragama lain; (3) Menggiatkan komunikasi antarumat, khususnya komunikasi lintas unit, baik kategorial maupun teritorial; (4) Meningkatkan keterlibatan umat (khususnya orang muda) dalam pelbagai acara masyarakat; (5) Mengadakan dialog karya antara umat Katolik dengan umat beragama lain; (6) Mempererat kolegialitas imam, biarawan biarawati dalam kesatuan gerak di keuskupan; (7) Menggalakkan kerjasama Dewan Paroki dan seksi-seksi antarparoki dan dekanat di dalam keuskupan.

Di sekitar Pelayanan Kasih, pelbagai sasaran strategis, antara lain (1) Meningkatkan kepedulian umat pada sesama manusia, terutama pada masalah pendidikan, kesehatan, dan kematian; (2) Menggalakkan kepedulian umat akan gerakan orangtua asuh; (3) Meningkatkan kecintaan dan kepedulian Gereja terhadap lingkungan hidup; (4) Memberdayakan OMK dalam aneka keterlibatan sosial; (5) Meningkatkan pelayanan pastoral di penjara dan rumah sakit; (6) Mendorong keterlibatan aktif semua umat pada momentum Aksi Puasa Pembangunan dan Hari Pangan se-Dunia.

Pelbagai sasaran strategis di atas dilaksanakan dengan mengembangkan tata layanan pastoral berbasis data, memberdayakan komunitas teritorial lingkungan dan kategorial, menggerakkan karya-karya pastoral yang kontekstual, menggiatkan kerasulan awam, serta menjalankan kaderisasi dan pendampingan berkelanjutan bagi para pelayan pastoral.

Budaya pastoral

Ardas KAJ dilandasi oleh dua budaya dasar, yakni spiritualitas Gembala Baik dan pelayanan murah hati. Spiritualitas Gembala Baik berarti bertindak seturut teladan Yesus, Sang Gembala Baik. Gembala baik mengenal dan dikenal domba-domba-Nya (Yoh 1:14) serta peduli pada domba-Nya yang kesusahan dan tersesat (Yeh 34:16). Sedangkan pelayanan murah hati berarti bersumber pada Allah (Luk 6:36) dan dilakukan dengan kerendahan hati (Kis 20:19).

Berangkat dari dua budaya dasar di atas, dihasilkan enam budaya pastoral yang menjadi simpulan para pastor di KAJ, yakni ”berpeduli, berintegritas, bermisioner, beriman, bersukacita, serta bersaudara”.

Tercatat juga tiga rekomendasi akhir yang disimpulkan, antara lain: (1) Menerapkan proses perencanaan strategis dalam perencanaan reksa pastoral di paroki dan kategorial; (2) Membangun mekanisme koordinasi, monitoring, dan evaluasi penerapan tersebut di tingkat dekanat dan kategorial; (3) Mengolah lebih lanjut hasil/temuan Temu Pastoral sebagai panduan bersama dalam membudayakan cara berpastoral sesuai Ardas KAJ.

Di KAJ, para imam, bruder, dan suster berjumlah sekitar 1.500 orang dengan aneka puluhan tarekat, sementara jumlah umat sekitar 465 ribu. Dari perbandingan kasar ini, Gereja KAJ terdiri dari mayoritas kaum awam. Dengan demikian, budaya kerjasama imam dengan awam mutlak diperlukan dalam membangun jatidiri Gereja. Karena, bukankah tepat sebuah pameo lama, ”Ecclesia semper reformanda – Gereja selalu memperbarui diri?”