Ketika Azan dan Lonceng Bersahutan Penuh Harmoni di Kampung Sawah

344
Ketika Azan dan Lonceng Bersahutan Penuh Harmoni di Kampung Sawah
Silahkan memberi Rating!

Azan zuhur berkumandang merdu dari Masjid Al Jauhar milik Yayasan Pendidikan Fisabilillah (YASFI) yang berlokasi di Kampung Sawah, Kelurahan Jati Murni, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis pekan lalu. Dalam waktu hampir bersamaan, dentang lonceng terdengar dari belakang masjid. Sekitar 200 meter dari sana berdiri Gereja Kristen Pasundan.

“Lonceng bunyi, kita di sini azan, sudah menjadi hal biasa,” ujar pendiri YASFI Rahmadin Afif saat berbincang dengan  di rumahnya. Suasana seperti itu di Kampung Sawah sudah terjadi sejak zaman Belanda. Meski berbeda agama, kerukunan antara umat Nasrani dan Islam dapat tercipta begitu kuat. Rahmadin juga mengatakan kebudayaan Kampung Sawah tidak banyak memiliki perbedaan dengan adat Betawi meski secara geografis tidak masuk wilayah Jakarta. Dia membenarkan kelompok Nasrani menggunakan simbol-simbol Betawi untuk melestarikan budaya. “Karena bahasanya juga sama sih. Di sini kan omongnya sama dengan Betawi,” katanya. “Makanya gereja Katolik ini menghidupkan budaya Betawi.”

Tradisi Berpakaian dan Balikin Rantang

Rahmadin tidak menampik ada penolakan dari komunitas Islam saat kalangan Katolik mengenakan simbol-simbol Betawi dan Islam. Tetapi masyarakat akhirnya dapat menerima setelah mendapat penjelasan dari kelompok Katolik. “Kalau baju muslim kan jilbab, dia pakai kerudung, kebaya. Ada juga baju koko,” ujarnya. “Baju koko itu baju China, cuma dipakai orang Betawi.”

Rahmadin mengakui toleransi antar umat beragama telah mengakar di sana. Ini lantaran setiap orang terikat identitas sama, yakni penduduk Kampung Sawah. “Karena masih satu keturunan, bahasanya sama dan penduduk asli, jadi kita tidak ada masalah. Saling menghormati dan menghargai,” katanya.

Sekretaris Kelurahan Jati Murni Mohamad Ali menjelaskan kadang warga dari masing-masing agama saling bertukar makanan saat hari raya tertentu. Dia mencontohkan saat Natal jemaat Nasrani memberi makanan kepada orang Islam. Begitu juga sebaliknya, orang Islam berbagi hal serupa atau istilahnya balikin rantang.

Alhasil, suasana kehidupan beragama di Kampung Sawah berjalan kondusif. Bahkan mereka saling menjaga keamanan dan ketertiban saat tiap penganut agama beribadah. Misalnya kalau Natal ada organisasi kemasyarakatan Islam menjaga parkir jemaat Nasrani. Begitu pula sebaliknya ketika Idul Fitri. “Itu berjalan alami dan tanpa dikomandoi,” kata Ali.

“Kebiasaan Kampung Sawah ini bisa dibilang unik,” kata Mohamad Ali, dia mengatakan itu lantaran melihat sendiri sesuatu mungkin tidak ditemukan di desa lain. Jemaat Nasrani beribadah menggunakan pakaian khas Betawi. Padahal Betawi terlanjur identik dengan nilai-nilai Islam.

Paguyuban Umat Beragama (PUB) Sangat Berperan Aktif Menjaga Kerukunan Beragama

Untuk menjaga dan meningkatkan komunikasi antar penganut agama terdapat wadah bernama Paguyuban Umat Beragama (PUB). Lembaga ini digunakan warga untuk kegiatan sosial kemasyarakatan di Kecamatan Pondok Melati, khususnya di Kampung Sawah. “Pengurusnya dari Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha. Jadi (kegiatan) sifatnya sosial, tidak ada hubungannya dengan akidah,” tutur Jacobus Napiun, yang merupakan salah satu pengurus PUB Pondok Melati. Lelaki asli Kampung Sawah ini bahkan berani bertaruh identitas semacam itu tidak ada di daerah lain. “Tradisi Kampung Sawah bukan produk dari generasi sekarang, melainkan sejak nenek moyang kami,” ucapnya.

Tradisi Sedekah Bumi

Ia juga menjelaskan kelompok Katolik dan Protestan di Kampung Sawah kadang menggunakan simbol adat Betawi dalam peribadatan tertentu. Beberapa perayaan menjadi tradisi Betawi juga menjadi kebiasaan di gereja.

“Ada sebuah tradisi berkembang di masyarakat seperti kenduri. Kami sebut itu sedekah bumi,” ujar Jacobus. “Itu ditempatkan dalam sebuah ritual. Ini kan tema pokoknya bersyukur baik dalam komunitas kecil atau besar.”

Ritual sedekah bumi ini digelar umat Katolik di Gereja Santo Servatius saban 13 Mei. Saat peringatan ini, seluruh jemaat mengenakan pakaian adat Betawi, kebaya dan kerudung bagi perempuan serta baju jawara atau baju koko bagi laki-laki.

Jacobus mengungkapkan hal ini merupakan bagian dari upaya melestarikan kebudayaan Betawi sudah lama ada di Kampung Sawah. “Tradisi Kampung Sawah memang identik dengan Betawi, tapi ada juga pengaruh Sunda,” tuturnya.

Dia pun akrab dengan busana tradisional Betawi. Dia sering berbaju koko dan berpeci tidak hanya saat beribadah, melainkan juga ketika menghadiri undangan hajatan. Bahkan dandanannya itu kerap disebut lebih ustaz ketimbang ustaz beneran.

Dia tidak sependapat dengan pandangan menyebut simbol kebudayaan Betawi di Kampung Sawah adalah ajaran Islam. “Kami tidak mau ada dikotomi seolah ini produk orang muslim. Ini produknya orang Kampung Sawah.”

Kebiasaan ini tidak hanya dijalankan oleh orang asli dan keturunannya. Warga pendatang diwajibkan mengikuti tradisi Kampung Sawah dan tidak boleh memaksakan kebiasaan daerah asalnya. “Kalau orang datang dan sudah minum air Kampung Sawah maka dia harus menjadi orang Kampung Sawah.”

Sungguh indah menyaksikan secara nyata bahwa masih ada sebuah tempat yang betul-betul menjadikan kerukunan beragama sebagai bagian dari tradisi asli masyarakatnya yang heterogen. Kiranya kita wajib proaktif dengan segala cara untuk meningkatkan kerukunan beragama di wilayah kita masing-masing, jangan hanya berpangku tangan saja menunggu hal itu terjadi. Bukankah kewajiban Hukum Cinta Kasih Tuhan dijalankan pertama-tama dalam bentuk perbuatan aksi nyata? (Merdeka.Com)