Berlari Bersama Tuhan
Refleksi Seorang Imam tentang Tubuh, Disiplin, dan Panggilan
Setiap pagi, sebelum kota Jakarta benar-benar bangun, saya sudah mengikat tali sepatu dan melangkah keluar. Bukan karena ingin menjadi atlet. Bukan karena mengejar medali. Saya berlari karena saya adalah seorang imam — dan saya percaya bahwa tubuh ini pun adalah bagian dari panggilan saya.
Kita sering berbicara tentang pertumbuhan rohani, tentang doa, tentang pelayanan. Namun ada satu dimensi yang kerap luput dari perhatian para pelayan Gereja: dimensi tubuh. Manusia adalah kesatuan tubuh, jiwa, dan roh. Ketiganya tidak bisa dipisahkan. Ketiganya harus tumbuh bersama, sehat bersama, dijaga bersama. Mengabaikan tubuh bukan tanda kesalehan — itu kelalaian atas anugerah Tuhan.
Komitmen Kecil yang Setia
Saya tidak memulai dengan target besar. Saya memulai dengan langkah-langkah kecil yang konsisten. Tiga hingga empat kali seminggu, saya berlari. Bukan selalu jauh. Bukan selalu cepat. Kadang tubuh meminta istirahat — dan saya belajar mendengarkannya. Karena mendengarkan tubuh juga bagian dari kebijaksanaan.
Dalam setahun, berat badan saya turun sepuluh kilogram. Kapasitas jantung dan paru-paru saya meningkat drastis. Tetapi yang lebih berharga dari angka-angka itu adalah sesuatu yang terjadi di dalam diri saya: saya menjadi lebih fokus, lebih sabar, lebih tahan dalam menghadapi tantangan pelayanan. Daya tahan fisik ternyata membentuk daya tahan mental dan spiritual.
Saya percaya ada prinsip rohani yang bekerja di sini: komitmen kecil yang dijalani dengan setia akan melahirkan kapasitas untuk menanggung komitmen-komitmen yang lebih besar. Orang yang setia dalam perkara kecil akan dipercaya dalam perkara besar. Lari pagi adalah sekolah kesetiaan yang sederhana namun nyata.
Doa yang Bergerak
Saya pernah berlari di tepi laut Barcelona, subuh-subuh, ketika rombongan ziarah masih terlelap. Udara dingin, langit mulai terang, suara ombak Mediterania menemani langkah kaki saya. Dalam kesunyian dan ritme lari itu, saya merasakan sesuatu yang sulit saya namai — semacam doa yang bergerak. Tubuh bergerak, napas berirama, dan hati bersyukur.
Tradisi Ignatian mengajarkan bahwa Allah hadir dalam segala hal — in omnibus. Dalam doa, dalam pelayanan, dalam percakapan, dalam keindahan alam. Mengapa tidak juga dalam langkah-langkah lari pagi? Tubuh yang bergerak dalam kesadaran dan syukur juga adalah bentuk ibadah.
Tanggung Jawab atas Anugerah
Tubuh ini bukan milik saya sepenuhnya. Ia adalah anugerah yang dipercayakan. Dan anugerah menuntut tanggung jawab. Seorang imam yang jatuh sakit karena mengabaikan kesehatan bukan hanya menanggung akibatnya sendiri — pelayanan ikut terdampak, umat ikut merasakan.
Saya ingin melayani dengan panjang umur dan kualitas. Saya ingin hadir di depan altar, di rumah umat, di ruang-ruang rapat dengan tubuh yang segar, pikiran yang jernih, dan hati yang penuh. Bukan ngos-ngosan di tengah khotbah. Bukan kelelahan kronis yang menutupi sukacita panggilan.
Jaga tubuhmu. Bukan demi penampilan. Bukan demi rekor. Tetapi karena tubuhmu adalah bait Roh Kudus, kendaraan panggilan, dan tanda syukur atas hidup yang dikaruniakan. Mulailah kecil. Mulailah hari ini. Dan jalani dengan setia.
RA — Seorang imam yang masih terus belajar berlari, lahir batin, bersama Tuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here