Tokoh Lintas Agama Serukan Pilpres Damai

214
Tokoh Lintas Agama Serukan Pilpres Damai
Silahkan memberi Rating!

52Capres-2014

Perwakilan tokoh Agama Islam, Protestan, Katholik, Hindu, Budha, dan Konghucu menyerukan kepada masyarakat agar menjaga pemilihan presiden (pilpres) 2014 berlangsung berjalan dengan damai. Mereka juga mengimbau para pasangan capres-cawapres dan pendukungnya untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Hal itu terungkap dalam sebuah kesepakatan yang dihadiri oleh wakil dari agama masing-masing seperti dikutip dalam rilis yang diterima detikcom, Sabtu (21/6/2014). Kesepakatan itu ditandatangani oleh Din Syamsuddin yang juga menjabat Ketua MUI dan Ketua PP Muhammadiyah, Pdt Gomar Gultom sebagai Sekum PGI, Nyoman Udayana dari Parisada Hindu Dharma Indonesia, M Iqbal Sullam dari PBNU, Romo YR Edy Purwanto dari Sekretaris Eksekutif KWI, WS Wawan Wiratma dari Matakin, Slamet Effendy Yusuf dari MUI, dan Rusli dari Walubi.

“Seruan ini kami ungkapkan semoga dengan begitu kita dapat menghindarkan terjadinya chaos, kekacauan, apalagi konflik sesama anak bangsa dalam momentum Pilpres ini. Kami menyerukan semua pihak agar menyatukan tekad bagi terwujudnya Pilpres yang aman dan damai,” tulis rilis tersebut.

Berikut seruan yang disepakati oleh para tokoh lintas agama tersebut:

1. Agar pihak-pihak yang bersaing dalam penyuksesan calon Presiden dan Wakil Presiden memegang teguh cara bersaing yang menjunjung tinggi kejujuran yang dilandasi oleh semangat persaudaraan sesama anak bangsa. Karena itu harus dihindari cara-cara yang dapat memecah belah masyarakat, menimbulkan permusuhan sesama anak bangsa , dan merusak persatuan.

2. Agar semua pihak dapat menggunakan momentum Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden ini sebagai bagian dari pendidikan politik bagi rakyat Indonesia untuk secara terus menerus makin mematangkan kesadaran dan meningkatkan partisipasi politiknya dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan kita. Untuk itu mesti dihindarkan praktik politik uang, kampanye hitam (black campaign) yang hanya memperbodoh masyarakat dan mengurangi kualitas demokrasi.

3. Agar kemuliaan dan universalitas nilai agama dapat didayagunakan sebagai pegangan oleh semua yang terlibat dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Maka kami menyerukan agar pihak-pihak dan lembaga yang berkontestasi tidak memanfaatkan sentimen agama untuk kepentingan politik sesaat dan mempolitisasi agama, dengan mengedepankan kebajikan, kemaslahatan, kejujuran, keadilan, dan kemaslahatan umum menjadi dasar dan tujuan dalam bersikap, bertindak dan mengambil kebijakan.

4. Agar seluruh rakyat dapat menggunakan hak politiknya secara bertanggung jawab, menjunjung tinggi demokrasi, dan saling menghormati hak sesama warga negara Republik Indonesia, sehingga apapun hasilnya Rakyat Indonesia menerima dan mengakui hasil Pemilihan Presiden/Wakil Presiden. (Detik.Com)

Akhir-akhir ini banyak masyarakat Indonesia gelisah akan Pilpres 2014 ini yang lebih panas dari pada Pilpres sebelumnya. Indikator yang paling terlihat adalahnya banyaknya Kampanye Hitam (fitnah) dan Kampanye Negatif yang bertebaran dimana-mana yang memprovokasi masyarakat Indonesia. Kita sebagai Gereja Katolik tentu bersikap netral! Tidak memihak capres-cawapres manapun! Namun Kita tetap wajib mengusahakan Pemilu untuk berjalan Damai dan Harmoni.

Marilah secara khusus kita mendoakan Ibu Pertiwi kita, agar proses demokrasi ini berjalan penuh kedamaian tanpa terjadi konflik besar apalagi berdarah. Dan marilah kita proaktif menyerukan Pemilu untuk berjalan damai tanpa ada kebencian. Semoga Allah Bapa di Surga menunjukkan jalan terbaik bagi masa depan bagi Indonesia yang berdemokrasi dan berbhineka tunggal Ika ini. Amin