SURAT GEMBALA: Pembukaan Tahun Pelayanan Dan Pemberlakuan Pedoman Dasar Dewan Paroki 2014

358
SURAT GEMBALA: Pembukaan Tahun Pelayanan Dan Pemberlakuan Pedoman Dasar Dewan Paroki 2014
Silahkan memberi Rating!

uskup suharyo

Para Ibu/Bapak/ Suster/Bruder/Frater/ Kaum Muda/Remaja dan Anak-anak yang terkasih dalam Tuhan,

1. Meskipun sudah agak terlambat, saya masih ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Natal 2013 dan Selamat Tahun Baru 2014. Yesus adalah Immanuel – Tuhan yang menyertai kita. Semoga penyertaan-Nya bagi kita masing-masing, keluarga-keluarga dan komunitas kita membantu dan menguatkan kita untuk semakin tekun dan setia menapaki peziarahan hidup kita di tengah-tengah tantangan-tantangan hidup yang semakin kompleks.

2. Pada hari ini bersama seluruh Gereja kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan. Ketika saya menyiapkan renungan ini saya ingat lagi akan seorang pribadi istimewa yang bernama Edith Stein. Ia lahir pada tahun 1891 dalam keluarga Yahudi yang amat saleh. Namun pada usia 14 ia sampai pada kesimpulan bahwa Allah tidak ada. Ia menulis, “Dengan sadar saya memutuskan, atas kemauan saya sendiri, untuk berhenti berdoa”. Sesudah beberapa lama menjadi perawat dalam Perang Dunia I, ia memutuskan untuk belajar filsafat, suatu disiplin ilmu yang selalu mengajukan pertanyaan mengenai hakekat realitas dan hidup manusia. Meskipun keputusan eksistensial untuk berhenti berdoa sudah diambil, tetapi pencarian mengenai arti hidup tidak pernah berhenti mengusik hatinya.

3. Sampai pada suatu hari, ia berjumpa dengan seorang teman yang baru saja kehilangan suami karena meninggal. Edith Stein yang sampai waktu itu tidak percaya akan adanya Allah tersentuh oleh yang ia lihat dan alami sebagai “ketabahan ilahi” yang tampak pada diri temannya itu. Selanjutnya ia akan menulis bahwa kekuatan itu diberikan oleh salib kepada “orang-orang yang memikulnya … Saat itulah ketidakpercayaan saya runtuh dan Kristus mulai memancarkan sinar-Nya kepada saya”. Boleh dikatakan ketabahan ilahi yang ia saksikan dalam diri teman yang baru ditinggal oleh suaminya itu adalah salah satu wujud dari penampakan Tuhan. Pengalaman ini mengubah seluruh hidupnya. Pada tahun 1922 ia dibaptis ke dalam Gereja Katolik, masuk biara kontemplatif dengan nama Suster Teresa Benedikta dari Salib. Ia menulis wasiat :”Saya mohon kepada Tuhan untuk menerima hidup dan mati saya … sehingga kerajaan-Nya akan datang dalam kemuliaan … demi damai di dunia”. Sebagai orang yang berdarah Yahud, ia menjadi korban kebencian etnis dan meninggal pada tanggal 9 Agustus 1942 di kamp konsentrasi Auschwitz. Pada tahun 1987 Paus Yohanes Paulus II menyatakannya sebagai beata. Bagi Gereja semesta dan bagi dunia, Suster Teresa Benedikta adalah penampakan Tuhan.

4. Kisah orang majus dalam kutipan Injil yang dibacakan pada hari ini juga bercerita mengenai penampakan Tuhan. Tuhan menampakkan diri lewat berbagai isyarat seperti bintang (Mat 2:2.7.9.10) yang menuntun orang-orang majus itu menemukan Yesus; atau mimpi (ay 11) yang mengarahkan mereka pulang lewat jalan lain. Bintang dan mimpi bisa dipahami sebagai kemampuan batin untuk menangkap kehadiran Tuhan dalam peristiwa dan pengalaman hidup sehari-hari. Selain itu Tuhan juga menampakkan diri melalui tanda-tanda yang tidak terduga, yaitu orang-orang majus itu sendiri. Mereka tidak termasuk orang pilihan menurut paham umum pada jaman itu. Tetapi merekalah yang melihat Tuhan (ay 11), bersukacita karenanya (ay 10) lalu sujud menyembah-Nya (ay 11) dan pulang untuk menjadi terang dan memberitakan perbuatan-perbuatan Tuhan yang agung (bdk Yes 60: 6).

Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus,

5. Sesuai dengan dinamika pastoral Keuskupan Agung Jakarta yang sudah direncanakan, kita semua akan menjalani tahun 2014 sebagai Tahun Pelayanan. Dengan sengaja Tahun Pelayanan dimulai pada Hari Raya Penampakan Tuhan. Semakin banyak dan kreatif bentuk-bentuk pelayanan yang kita lakukan, akan semakin tampak pula wajah Allah Sang Kasih. Adapun tema yang telah ditetapkan adalah Dipilih Untuk Melayani. Tema ini bisa dibaca dalam dua konteks. Dalam konteks gerejawi, memilih dan melayani adalah dua kata yang amat dekat dengan jatidiri kita sebagai murid-murid Kristus. Sementara dalam konteks tahun politik, tema itu bisa dikaitkan dengan pemilu legislatif dan pemilu presiden-wakil presiden yang akan dilaksanakan pada tahun 2014 ini. Harapannya agar para tokoh yang akan terpilih dalam pemilu legislatif maupun pemilu presiden dan wakil presiden benar-benar melayani demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Pada waktunya Konferensi Waligereja Indonesia akan mengeluarkan Surat Gembala yang berkaitan dengan tahun politik ini.

6. Tahun Pelayanan tidak bisa dipisahkan dari Tahun Iman dan Tahun Persaudaraan yang sudah kita jalani. Iman yang sejati akan berbuah persaudaraan. Belum atau kurang adanya persaudaraan merupakan tanda bahwa iman belumlah kuat dan mendalam. Selanjutnya persaudaraan yang sejati akan berbuah pelayanan yang tulus dan gembira. Persaudaraan yang tidak atau belum berbuah pelayanan kasih barulah egoisme dalam bentuk yang terselubung. Sementara itu pelayanan mempunyai isi dan pengertian yang amat kaya. Setiap usaha untuk semakin memuliakan martabat manusia, mewujudkan kesejahteraan umum, mengembangkan solidaritas, memberi perhatian lebih kepada saudari-saudara kita yang kurang beruntung dan melestarikan keutuhan ciptaan adalah pelayanan. Bentuk-bentuk pelayanan itu dapat kita temukan bersama kalau setiap kali kita bertanya, “Apa yang harus kita lakukan, agar lingkungan hidup kita menjadi semakin manusiawi dan dengan sendirinya semakin Kristiani pula?” Pertanyaan sama yang diajukan oleh komunitas yang hidup dalam konteks yang berbeda, dengan mudah akan membuahkan jawaban yang berbeda pula. Dengan demikian kreativitas pelayanan akan berkembang pula. Semoga dengan kreativitas pelayanan yang kita usahakan bersama, wajah Gereja Yang Melayani akan menjadi semakin nyata di wilayah Keuskupan Agung Jakarta yang kita cintai ini. Antara lain dalam rangka menghadirkan wajah Gereja Yang Melayani itu pulalah, pada awal tahun 2014 ini diberlakukan Pedoman Dasar Dewan Paroki baru untuk semua paroki di Keuskupan Agung Jakarta.

Apa yang harus kita lakukan, agar lingkungan hidup kita menjadi semakin manusiawi dan dengan sendirinya semakin Kristiani pula?

7. Akhirnya bersama-sama dengan para imam dan semua pelayan umat saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para Ibu/Bapak/Suster/ Bruder/Frater/ Kaum Muda/Remaja dan Anak-anak sekalian, yang dengan peran berbeda-beda telah ikut membangun Keuskupan Agung Jakarta sebagai Gereja yang semakin berwajah melayani. Amat banyak yang sudah kita lakukan. Kita yakin, melalui berbagai pelayanan sederhana yang kita lakukan dan prakarsa-prakarsa kreatif yang kita usahakan, baik sendiri maupun bersama-sama sebagai keluarga, komunitas, lingkungan, wilayah, stasi, paroki maupun keuskupan, kita menampakkan kemuliaan Allah. Salam dan Berkat Tuhan untuk Anda sekalian, keluarga-keluarga dan komunitas Anda.

Jakarta, 1 Januari 2014

+ I. Suharyo

Uskup Keuskupan Agung Jakarta