Tradisi Mendoakan Arwah

936
mendoakan arwah
Tradisi Mendoakan Arwah

 

Apakah menurut iman Katolik, tradisi mendoakan arwah sepanjang tahun bisa dibenarkan? Butir-butir iman Katolik apa yang harus kami hayati agar tradisi ini sungguh bernafaskan iman Katolik?

Pertama, tradisi mendoakan arwah anggota keluarga terus sepanjang tahun, adalah tradisi yang baik dan bisa dibenarkan dalam Gereja Katolik. Malahan, tradisi ini bisa dianjurkan untuk semua keluarga Katolik. Banyak nilai iman Kristiani yang diungkapkan dalam kebiasaan mendoakan arwah sepanjang tahun. Kebiasaan ini akan meneguhkan iman kita.

mendoakan arwah

Kedua, bila kita biasa mengajak anak-anak atau anggota keluarga untuk mendoakan arwah kakek, nenek, atau anggota lain dari keluarga yang sudah meninggal, secara sadar atau tidak, kita mengajarkan satu butir iman penting, yaitu bahwa ada


Ketiga,
 kematian menyadarkan kita akan ketidakberdayaan kita berhadapan dengan sengat dosa ini. Dalam situasi ini, tidak terlalu penting indahnya ajaran hidup agama atau meriahnya ritus doa. Yang menentukan ialah bahwa ajaran dan ritus doa itu berkaitan dengan seseorang yang telah mengalahkan kematian atau menang atas kematian. Itulah Yesus Kristus yang bangkit. Kristus adalah buah sulung kebangkitan. (1Kor 15:22-26; Kol 2:15; Rm 6:9-10; KGK 651). Inilah jantung iman kristiani. (bdk HIDUP No 12, 23 Maret 2012). Maka, iman pada kebangkitan Kristus diteguhkan ulang setiap kali kita mendoakan para arwah, karena kita percaya bahwa para arwah akan menikmati juga kebangkitan karena pahala kematian dan kebangkitan Kristus yang kita mohonkan untuk mereka. (bdk HIDUP, No 13, 30 Maret 2008). Karena itu, doa yang paling baik ialah mempersembahkan intensi misa untuk para arwah (bdk HIDUP, No 46, 18 November 2007).kehidupan lain di balik kematian. Hidup kita tidak berhenti hanya dengan hidup di dunia sekarang ini. Butir iman ini sangat perlu ditekankan mengingat bahwa sekarang di tengah arus konsumerisme dan materialisme yang sarat dengan semangat menikmati kenikmatan sesaat sebanyak mungkin (hedonisme), manusia cenderung membatasi pandangan hidup hanya pada kehidupan di dunia ini, dan melupakan kehidupan kekal. Mendoakan arwah mengingatkan akan adanya horizon hidup kekal dan persiapan kita sendiri sejak di dunia ini, sekarang ini. (bdk HIDUP No 47, 20 November 2011)

Keempat, mendoakan arwah mengingatkan kita pada ajaran iman yang kita ucapkan dalam doa Aku Percaya, yaitu tentang “Persekutuan Para Kudus”. Kita, Gereja yang berjuang atau musafir, tetap bersatu dengan saudari-saudara kita yang sedang menderita di Api Penyucian dan dengan para Kudus di surga. Kita sama-sama anggota Tubuh Mistik Kristus. (bdk HIDUP No 45, 7 November 2010 dan No 44, 28 Oktober 2012). Mendoakan arwah menunjukkan dimensi komuniter dari hidup Gereja dan kepedulian kita kepada anggota Gereja yang menderita di api penyucian.

Para arwah yang sudah kita doakan adalah pribadi yang tahu berterima kasih. Maka, jika mereka sudah menikmati kebahagiaan surgawi, pastilah mereka juga akan mendoakan kita. Dengan pencerahan yang diberikan sesudah kematian, para arwah adalah pribadi-pribadi yang tahu berterima kasih. Hanya kita yang masih terbalut dengan darah dan daging ini saja, yang tidak tahu berterima kasih. Karena itu, pastinya sesudah para arwah menyelesaikan semua hutang dosa di api penyucian, mereka juga akan mendoakan orang-orang yang telah berjasa membantu mereka mencapai kebahagiaan surga.

Kelima, kesadaran akan dimensi komuniter hidup Gereja akan membuat kita tidak pernah merasa sendirian. Kesatuan kita dengan Gereja yang mulia akan memberikan rasa aman berhadapan dengan dunia yang tak kelihatan, khususnya roh-roh yang kurang bersahabat. Kita percaya bahwa para kudus akan menjadi saudara dan sahabat yang membentengi dan membela kita. Persekutuan para kudus sudah kita alami di dunia ini.  Latest Gadget

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM

(Original Source: www.hidupkatolik.com)