Home Blog Page 3

RENUNGAN MINGGU BIASA XVII, 26 Juli 2026

Memilih yang Berharga

Minggu Biasa XVII Tahun A — 26 Juli 2026

1Raj 3:5.7-12 • Mzm 119:57.72.76-77.127-128.129-130 • Rom 8:28-30 • Mat 13:44-52

Allah memberi Salomo kesempatan meminta apa saja. Ia tidak meminta umur panjang, harta, atau kemenangan atas musuh.

Ia meminta hati yang bisa mendengar, agar mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat.

Padahal Salomo bisa saja meminta apa pun yang ia mau. Ia justru memilih kemampuan untuk menimbang dan memilih dengan tepat.

Sering kali yang berharga itu berbeda dari yang disukai.

Kekayaan dan kenyamanan mudah menarik hati kita, sementara hikmat untuk melihat apa yang sungguh bernilai justru sering terlewat begitu saja.

—

Rasul Paulus mengingatkan bahwa sejak awal Allah sudah memanggil setiap orang menurut rencana-Nya, yaitu rencana yang mendatangkan kebaikan. Panggilan ini diberikan Allah lebih dulu, bukan hasil usaha kita.

Justru karena sudah dipanggil sejak semula, hidup kita sehari-hari menjadi proses yang terus berjalan.

Kita diajak terus mendengar, menimbang, memilah, lalu memilih arah yang sejalan dengan rencana Allah.

Ini bukan keputusan besar yang cukup diambil sekali saja, melainkan kepekaan yang terus dilatih dari hari ke hari.

Yesus menggambarkan hal ini lewat dua kisah singkat, harta terpendam dan mutiara berharga. Dalam kedua kisah itu, orang yang menemukannya segera pergi dan menjual seluruh miliknya untuk mendapatkan apa yang baru saja ia temukan.

Penemuan itu datang tanpa diduga, di tengah kesibukan biasa. Begitu seseorang menyadari apa yang sungguh bernilai, ia tidak ragu menyerahkan yang lain demi hal itu.

—

Injil hari ini ditutup dengan gambaran pukat penjala, yang mengumpulkan segalajenis ikan sebelum akhirnya dipilah. Gambaran sederhana ini mengingatkan kita bahwa setiap pilihan yang kita ambil terus-menerus dalam hidup punya bobotnyasendiri. Hidup beriman adalah proses harian untuk mengenali yang berharga, lalu memilihnya dengan segenap hati, seperti Salomo yang memilih hikmat melebihi segala yang lain.

—

Jadi, kamu gimana?

RENUNGAN MINGGU BIASA XVI, 19 Juli 2026

BERSAHABAT DENGAN WAKTU TUHAN
Minggu Biasa XVI — Tahun A
Kebijaksanaan 12:13,16-19 | Roma 8:26-27 | Matius 13:24-43



Kitab Kebijaksanaan hari ini membuka sesuatu yang mengejutkan: kelunakan Allah adalah pilihan-Nya, justru karena Dia berkuasa penuh atas segalanya. Keadilan-Nya penuh belas kasih. Mata-Nya pada manusia yang berdosa tidak pernah berhenti melihat orang itu sebagai yang dikasihi. Dosa tidak menutup kasih Allah. Selama masih ada waktu, pintu pertobatan selalu terbuka — belum terlambat.

Santo Paulus dalam Surat Roma menambahkan sesuatu yang jujur: kita seringkali tidak tahu cara berdoa yang benar. Di titik paling rapuh itu, Roh Allah sendiri yang turun tangan, berdoa dalam diri kita lewat keluhan yang bahkan tidak bisa kita ucapkan. Allah tidak menunggu kita pandai berdoa dulu. Dia masuk ke titik paling lemah kita dan menemani dari sana — asal kita mau memohon, meminta Roh menunjukkan jalannya.

Injil hari ini memperlihatkan Allah yang membiarkan lalang dan gandum tumbuh bersama sampai panen. Bukan karena Dia tidak melihat yang salah, melainkan karena Dia tahu kapan waktunya bertindak. Pertumbuhan iman, perubahan hidup, proses penyembuhan — semuanya butuh waktu. Biji sesawi yang kecil butuh waktu jadi pohon besar. Ragi yang sedikit butuh waktu mengubah seluruh adonan. Yang lambat dan kecil sekarang, bisa berdampak jauh lebih besar nanti. Yang terpenting, benih tetap ditaburkan, ragi tetap dituang. Stabil, konstan, konsisten. 

Setiap orang diberi waktu yang sama: dua puluh empat jam sehari. Yang membedakan, apa yang kita alami di dalam waktu itu. Ada yang menjalani hari demi hari tanpa sungguh-sungguh mengalami kasih, Allah, dan kehadiran sesama — waktunya terasa singkat, bukan karena jamnya berkurang, tapi karena tidak terisi. Mengisi waktu dengan mengenal kasih Allah, hadir untuk sesama, dan membiarkan Dia hadir bagi kita — itulah artinya bersahabat dengan waktu Tuhan. Ketika waktu itu tiada, semoga kita sudah mengenal-Nya.

Jadi, kamu gimana?
RA

RENUNGAN MINGGU BIASA XV, 12 Juli 2026

Minggu Biasa XV Tahun A
“Tanah yang Sedang Diolah”
(Yes 55:10-11; Rm 8:18-23; Mat 13:1-23)

 

Perumpamaan tentang penabur dalam Injil hari ini ini sering dibaca sebagai ujian: kita ini termasuk tanah yang mana.

Tanah jalan, tanah berbatu, tanah berduri, atau tanah baik. Tapi ada hal yang gampang terlewat.

Tanah baik itu bukan tanah yang dari sananya sudah subur. Tanah baik adalah hasil dari proses yang panjang. Ia dicangkul, dibuka, dibiarkan matahari masuk sampai ke akar-akarnya, sesekali diistirahatkan, dan diolah oleh organisme-organisme kecil yang bekerja diam-diam di dalamnya. Kesuburan selalu lahir dari proses, bukan dari keadaan awal.

Iman kita berjalan dengan cara yang sama. Kesuburan hati tidak datang dari usaha kita membuat diri sendiri jadi baik. Ia datang dari kesediaan membiarkan diri diolah — oleh pengalaman yang menyakitkan sekalipun, oleh orang-orang yang kehadirannya sepertinya biasa saja, oleh percakapan kecil yang tidak terasa istimewa saat itu terjadi.

Saya pernah menemani seseorang yang bertahun-tahun merasa imannya tidak berkembang, sampai ia sadar bahwa justru masa-masa sepi dan sulit itulah yang sedang membentuknya, pelan-pelan, tanpa ia rencanakan.

Inilah yang dimaksud Paulus ketika berbicara tentang penderitaan yang sekarang ini. Penderitaan menjadi bagian dari cara Allah mencangkul, membuka, dan menyuburkan tanah hati kita, sehingga kemuliaan yang dijanjikan justru tumbuh lewat proses itu. Sama seperti firman Tuhan yang turun seperti hujan dan salju, selalu menghasilkan sesuatu meski prosesnya tidak kelihatan seketika.

Yang diminta dari kita hanya satu: tidak mengeras. Tidak keras hati atau kerasa kepala.

Membiarkan diri tetap terbuka terhadap tangan yang mengolah, meski caranya kadang terasa seperti luka.

Tanah yang baik adalah tanah yang terus bersedia dicangkul.

—

Jadi, kamu gimana?

RA

 
 

Gali Nilai Fransiskan, SKP se-KAJ Gelar Aksi Nyata “Laudato Si’” di TPST Bantargebang

JAKARTA – Langkah konkret untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dan mempertegas kepedulian sosial kembali digaungkan. Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Jakarta (KKP KAJ) sukses menyelenggarakan acara bertajuk “Temu Koordinasi dan Inspirasi SKP se-KAJ” pada Sabtu, 4 Juli 2026.

Mengangkat tema besar “Laudato Si’ Bersemi di Paroki, Beraksi di Bantargebang: Menggali Nilai Fransiskan dalam Menjaga Bumi dan Sesama”, kegiatan ini dirancang bukan sekadar sebagai ruang diskusi, melainkan sebuah refleksi yang diwujudkan melalui aksi nyata dari ensiklik Paus Fransiskus tentang lingkungan hidup, Laudato Si’.

Semangat perubahan itu sudah terasa sejak pagi hari. Pukul 08.00 WIB, para peserta yang merupakan penggerak Seksi Keadilan dan Perdamaian (SKP) dari berbagai paroki di KAJ telah berkumpul di Gereja Katedral Jakarta. Menariknya, komitmen ramah lingkungan langsung ditunjukkan sejak awal; seluruh peserta kompak mengenakan pakaian berwarna hijau sebagai simbol kelestarian alam dan membawa tumbler (botol minum) pribadi demi menekan produksi sampah plastik sekali pakai.

Dari Katedral, mereka memulai sebuah perjalanan inspiratif yang sarat akan nilai spiritualitas lingkungan.

Tujuan pertama rombongan langsung mengarah ke jantung persoalan sampah ibu kota: Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang. Di sana, para peserta melakoni dua agenda utama. Aksi diawali dengan sentuhan kemanusiaan melalui Aksi Amal Kasih, di mana mereka membagikan makanan kepada para pemulung yang sehari-hari menggantungkan hidup di tengah gunungan sampah.

Tidak berhenti pada aksi karitatif, para peserta kemudian melakukan studi edukasi dengan mendapatkan penjelasan langsung dari pengelola TPST Bantar Gebang tentang bagaimana proses pengolahan sampah modern di Bantar Gebang, khususnya mengenai operasional Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

Lewat kunjungan ini, peserta belajar bagaimana teknologi dapat diterapkan secara optimal untuk mengurai masalah ekologi secara ramah lingkungan. Proses ini memberikan pelajaran penting dimana ketika sampah dapat dipilah dengan baik maka sebenarnya sampah dapat diolah dengan cepat tanpa lahan yang besar dan sebaliknya tidak terpilah dengan baik semakin lama prosesnya dan tidak sedikit lahan yang dibutuhkan.

Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian KAJ, Romo Agustinus Heri Wibowo, Pr, yang memimpin langsung perjalanan ini menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi dari aksi turun ke lapangan tersebut.

“Melalui acara ini, kami ingin menghidupkan kembali semangat Santo Fransiskus Asisi dalam merawat bumi sebagai rahim bersama dan melayani sesama yang paling rentan. Kita tidak hanya berdiskusi di dalam ruang paroki, tetapi langsung turun ke lapangan untuk melihat realita ekologis kita,” ujar Romo Heri hangat saat memberikan pengantar di awal penyampaian materi studi.

Usai menyerap realitas dan edukasi di Bantar Gebang, perjalanan spiritual dan ekologis berlanjut menuju Paroki Harapan Indah, Bekasi. Di sana, para peserta menuju ke Taman Doa St. Fransiskus Asisi yang berada di lingkungan Gereja Santo Albertus untuk menaikkan doa dengan khusyuk.

Petualangan hari itu ditutup dengan melihat pemanfaatan lahan secara produktif. Para peserta diajak mengunjungi perkebunan yang dikelola secara mandiri oleh umat di sebelah gereja. Di lokasi ini, mereka memanen inspirasi (insight) baru mengenai teknik penanaman sayur dan budidaya ikan lele yang berkelanjutan.

Sebagai penutup rangkaian acara yang berkesan, seluruh peserta bersama-sama menikmati makan siang di area perkebunan lain yang juga hijau dan dikelola apik oleh umat setempat.

Melalui perjumpaan, doa, dan aksi nyata ini, para penggerak SKP se-KAJ diharapkan membawa pulang api semangat Fransiskan untuk disemai kembali di paroki masing-masing—demi bumi yang lebih hijau dan sesama yang lebih sejahtera.

“Pax et Bonum” (Damai dan Kebaikan)

RENUNGAN MINGGU BIASA XIV, 5 Juli 2026

Datanglah kepada-Ku

Minggu Biasa XIV — Tahun A · 5 Juli 2026
Bacaan I: Zakharia 9:9–10 • Mazmur Tanggapan: Mazmur 145:1–2, 8–9, 10–11, 13–14 •
Bacaan II: Roma 8:9, 11–13 • Injil: Matius 11:25–30


Zakharia menubuatkan raja yang datang naik keledai, dan kedatangan itu membawa konsekuensi yang jelas: kereta perang dilenyapkan, panah perang dimusnahkan. Ratusan tahun kemudian, gambaran itu hidup dalam diri Yesus, terutama pada saat Ia ditolak. Kota-kota yang pernah disinggahi-Nya menutup pintu. Tanggapan-Nya justru melebar: “Datanglah kepada-Ku, semua yang berbeban berat.” Penolakan dari sebagian orang malah jadi pintu undangan bagi semua orang.

—
Di ayat selanjutnya Ia menambahkan, “Pikullah kuk yang Kupasang.” Kuk membuat orang menunduk, diikat jalannya, diatur oleh yang memasangnya. Orang yang tinggi hati akan menolak kuk semacam itu, sebab ia ingin tetap memegang kendali atas jalannya sendiri. Kesediaan dipikul itulah yang melahirkan sikap yang disebut Yesus sebagai lemah lembut dan rendah hati — buah dari mau ditundukkan oleh tangan yang memegang kuk itu.

—
Inilah yang Paulus maksud ketika ia bicara soal daging dan Roh. Hidup menurut daging adalah hidup yang berusaha mengamankan dirinya sendiri dengan kekuatannya sendiri — logika yang sama dengan kereta perang dan panah yang harus dilenyapkan dari hadapan Sang Raja. Hidup menurut Roh adalah hidup yang membiarkan diri dituntun. Roh yang membuat Kristus mau dipikul oleh kehendak Bapa-Nya kini tinggal dalam diri kita, menuntun kita untuk mau dipikul juga.

—

jadi, kau gimana?

RA

RENUNGAN MINGGU BIASA XIII, 28 Juni 2026

Bukan dirimu yang disambut

Minggu Biasa XIII Tahun A — 28 Juni 2026

Kita biasa menyambut orang berdasarkan siapa yang datang. Kedatangan uskup ada protokolnya. Pastor agak lebih sederhana. Umat biasa yang datang sendirian, kadang cuma dapat anggukan. Kita sudah terbiasa menyambut berdasarkan kedudukan. Bacaan Minggu ini mengajak kita berhenti sebentar. Yang sebenarnya kita sambut itu apa — orangnya, atau yang dibawanya?

2 Raja-raja 4:8-11.14-16a

Perempuan Sunem awalnya tidak tahu siapa Elisa. Ia hanya melihat seorang nabi yang sering lewat. Setiap kali lewat, ia mampir makan. Tidak ada mukjizat yang diceritakan. Tidak ada kata-kata yang meyakinkan. Hanya kehadiran yang sama, berulang-ulang, sampai perempuan itu sendiri menyimpulkan: ini abdi Allah yang kudus. Pengenalannya butuh waktu, bukan satu kesan saja. Begitu ia mengenali, responsnya pun berubah. Dari sekadar menjamu makan, ia membangun kamar permanen untuk Elisa di rumahnya sendiri.

Matius 10:37-42

Yesus mengajarkan hal serupa, tapi lebih tajam, kepada murid-murid-Nya. Sebelum bicara soal penyambutan, Ia lebih dulu menuntut mereka melepaskan segalanya. Bahkan ikatan keluarga. Bahkan nyawa sendiri. Pesan-Nya jelas: bawalah Aku, bukan dirimu sendiri. Soal diterima atau tidak, itu urusan belakangan. Sebab kata-Nya sendiri, “siapa menyambut kamu, menyambut Aku.” Mulai saat itu, mereka membawa nama-Nya, bukan nama sendiri. Murid tetap disebut “yang kecil” sampai akhir. Yang berubah bukan ukuran diri mereka, tapi nama yang mereka bawa.

Roma 6:3-4.8-11

Itu juga yang dikatakan Rasul Paulus dalam Bacaan Kedua. Lewat baptisan, kita sudah mati dan bangkit bersama Kristus, sekali untuk selamanya. Identitas baru itu bukan hasil usaha kita. Itu sudah selesai dikerjakan-Nya. Tugas kita hanyamenghidupinya.

Maka orang yang menyambut “yang kecil” itu, sebenarnya sedang menyambut Kristus sendiri. Bukan karena yang kecil itu meniadakan dirinya. Ia tetap punya nama, wajah, dan riwayat hidupnya sendiri. Hanya saja yang ingin dikenali bukan lagi dirinya. Menyambut Kristus berarti melihat lebih dalam dari sekadar siapa yang berdiri di depan pintu kita.

— 

Jadi, kamu gimana?

RENUNGAN MINGGU BIASA XII, 21 Juni 2026

 

Yer 20:10-13 | Mzm 69 | Rm 5:12-15 | Mat 10:26-33

 

Minggu lalu kita diingatkan akan satu kebenaran yang mengubah segalanya: Tuhan mengasihi kita lebih dulu — sebelum kita beres, sebelum kita layak, sebelum kita membuktikan diri. Saat kita masih berdosa, saat kita masih jauh, kasih-Nya sudah lebih dulu tiba.

Minggu ini, Paulus melanjutkan: kasih itu datang sebagai kasih karunia yang dilimpahkan. Satu pelanggaran Adam membawa maut bagi semua. Tetapi satu perbuatan kasih Kristus membawa kelimpahan jauh melampaui itu. Kita berangkat sebagai orang yang sudah penuh — penuh karena Dia sudah lebih dulu memberikan diri-Nya.

Dari kelimpahan itulah Yesus mengutus kita. Dan Ia tahu ke mana kita pergi. “Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang. Dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.”

Ini undangan bagi orang yang sudah tahu — sudah tahu bahwa mereka dikasihi, sudah tahu bahwa mereka tidak sendirian, sudah tahu bahwa nyawa mereka ada di tangan yang lebih besar dari tangan manusia mana pun.

Yeremia tahu itu. Ia dikepung dari segala sisi — sahabat-sahabatnya sendiri menunggu ia tersandung, musuh-musuhnya mengintai celah untuk merobohkan dia. Ancamannya nyata. Tetapi di ayat terakhir bacaan hari ini, ia justru memuji Tuhan — karena hatinya merdeka.

Di sinilah inti dari bacaan hari ini. Yesus berkata: jangan takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh. Ada sesuatu dalam diri kita yang tidak bisa dijangkau oleh tekanan dari luar — hati yang hidup dari kasih karunia Allah. Ketakutan yang paling berbahaya adalah ketakutan yang membuat kita bungkam saat harus bicara, diam saat harus berdiri, pura-pura setuju saat hati kita tahu yang benar.

Ketakutan yang pelan-pelan membelenggu kita dari dalam — sampai tubuh kita bebas bergerak ke mana-mana, tetapi hati kita tidak lagi merdeka. Lebih baik menderita di tubuh, tetapi hati tetap merdeka — daripada tubuh bebas, tetapi hati terbelenggu.

Kita diutus sebagai orang yang sudah dilimpahi. Dan dari kelimpahan itu, keberanian sudah ada — menunggu untuk kita percayai.

—

Jadi, kamu gimana?

RA

PERTAMA DI INDONESIA, CANTICA SACRA MENGGELAR KONSER PENTAKOSTA

Untuk pertama kalinya di Indonesia, di luar kelaziman, Cantica Sacra Indonesia menggelar konser musik liturgi bertema Pentakosta. Lazimnya konser sejenis mengambil tema Paskah dan Natal.

Cantica Sacra menilai peristiwa Pentakosta, momen turunnya Roh Kudus atas para rasul, sangat layak diperingati dengan menggelar sebuah konser khusus. Sekaligus konser itu diniatkan untuk merayakan Pentakosta sebagai hari lahir Gereja Katolik.

Melalui konser ini Cantica Sacra hendak menunjukkan bahwa musik liturgi bertema kedatangan Roh Kudus sudah menjadi bagian dari kegiatan ibadah sekaligus kekayaan musik Gerejawi sejak Abad Pertengahan.

Mengambil tajuk Twilight Concert Pentakosta: Veni Creator Spiritus, Cantica Sacra menggelar konser tersebut di gedung Gereja Lama Paroki Santa Perawan Maria Ratu (SPMR), Blok Q Jakarta Selatan pada Selasa 16 Juni 2026 pukul 17.00-19.30 WIB.

Musik Liturgi Lintas Zaman

Penampil dalam konser adalah Cantica Sacra Choir dengan formasi SATB. Kelompok paduan suara ini adalah model Schola Cantorum yang dibentuk guna melestarikan tradisi musik liturgi yang benar, baik, indah, dan suci menurut ajaran Gereja Katolik. Sejumlah 44 orang anggota paduan suara ini berasal dari 19 paroki Keuskupan Agung Jakarta dan 2 paroki Keuskupan Bogor. Setiap orang dari mereka diniatkan menjadi benih Schola Cantorum untuk parokinya.

Tampil memukau di bawah pengabaan konduktor Jay Wijayanto dan Mikha Ogung Panggabean, Cantica Sacra Choir membawakan 16 komposisi musik liturgi bertema Roh Kudus dengan indah dan menggetarkan. Cantica Sacra Choir membawakan lagu-lagu itu dengan formasi yang variatif: SATB, female choir, duet, dan solo. Sebagian nomor dibawakan secara acapella, tanpa iringan instrumen musik.

Enambelas nomor itu mewakili kekayaan khazanah musik liturgi Katolik lintas zaman, mulai dari Abad Pertengahan sampai Era Modern dan Kontemporer. Dari Abad Pertengahan (500-1400) ditampilkan Veni Creator Spiritus –Datanglah Roh Maha Kudus (Rabanus Maurus) dan De Spiritu Sancto (Hildegard von Bingen).

Lalu ada Miserere Mei Deus (Gregorio Allegri) dari Masa Renaisans Akhir (1400-1600)/Barok Awal (1600-1750), Laudamus Te (A. Vivaldi) dari Masa Barok, dan Exultate Jubilate (W.A. Mozart) dari Zaman Klasik (1750-1820). Dari Era Romantik (1820-1910) ditampilkan Laudate Pueri (F. Mendelssohn), O For The Wings of a Dove (F. Mendelssohn), dan O Divine Redeemer – (C. Gounod).

Melengkapi nomor-nomor dari era lama, ada komposisi-komposisi Era Modern (1910-1975) dan Kontemporer (1975-sekarang. Nomor Ubi Caritas (M. Durufle) dipilih mewakili Zaman Modern. Lalu dari Era Kontemporer dipilih Open Thou Mine Eyes (J. Rutter), The Lord Bless You (J. Rutter), Fanfare for Pentecost (J. Purifoy), dan Cantate Domino (J. Elberdin).

Secara keseluruhan, rangkaian 16 komposisi tersebut menceritakan penantian kedatangan Roh Kudus, sukacita karena kedatangan-Nya, dan harapan agar tetap hidup dalam bimbingan Roh Kudus.

Konser Edukasi dan Katekese

Istimewanya, semua komposisi musik liturgi itu dibawakan tanpa dukungan sound system. Paduan suara murni mengandalkan potensi resonansi rongga mulut, hidung, dan tenggorokan dan dukungan sistem akustik gereja lama SPMR Blok Q.

“Cantica Sacra ingin membagikan pengalaman spiritual membawakan musik liturgi Gereja dengan vokal murni seperti dahulu pada Abad Pertengahan.” Jay Wijayanto, konduktor, pelatih, dan direktur artistik konser menjelaskan alasannya. Terbukti, pilihan pendekatan itu menghasilkan sajian musik liturgi yang teralami lebih sakral.

Berbeda dari konser yang umumnya searah, Konser Pentakosta digelar dengan pendekatan interaktif dan partisipatif. Jay Wijayanto tampil menjelaskan sejarah dan makna lagu-lagu liturgi yang dibawakan, dan membuka ruang tanya-jawab dengan penonton. Tujuannya untuk edukasi musik liturgi Katolik di lingkungan umat.

Selain fungsi edukasi, Konser Pentakosta ini juga membawakan fungsi katekese musik liturgi. Untuk itu secara khusus hadir Mgr. Vitus Rubianto Solichin SX, Uskup Padang dan Ketua Komisi Seminari KWI, Romo Nikasius Jatmiko Pr, Sekretaris Eksekutif KWI, Romo FX Dedomau da Gomez, SJ, Pastor Paroki SPMR Blok Q, dan Romo Fransiskus Yance Senga Pr, Sekretaris Komisi Liturgi KWI. Mereka berkenaan memberikan katekese tentang aspek teologis musik liturgi.

“Musik liturgi penting untuk membangun Gereja Katolik,” kata Mgr. Vitus saat memberikan katekese singkat. Gereja Katolik yang dimaksud di situ adalah tubuh spiritual yakni Tubuh Kristus.

“Melalui musik liturgi, terjadi pertemuan antara kata-kata manusia dari tempat rendah dan melodi Tuhan dari tempat tinggi,” kata Romo Yance. Itulah hakikat Gereja, perjumpaan intim antara umat dan Tuhan lewat nyanyian liturgis.

Konser Pentakosta ini dihadiri sekitar 250 orang penonton. Selain para klerus, mereka yang hadir menyaksikan konser adalah para bruder, suster, tokoh Katolik Jakarta, dan aktivis paroki lingkar KAJ dan Keuskupan Bogor, khususnya pegiat musik liturgi atau paduan suara gereja.

Konser kali ini didukung oleh berbagai pihak. Dukungan iringan musik datang dari Angelica Liviana (piano), Maria Miselsi (organ), dan Billy Aryo (cello). Theresia Sagita tampil sebagai manajer panggung (stage manager). Sejumlah tokoh Katolik sukarela memberikan dukungan finansial dan natura untuk membiayai persiapan dan pelaksanaan konser.

Konser Pentakosta ini merupakan konser ketiga dari Cantica Sacra Indonesia, suatu komunitas awam Katolik KAJ yang mendedikasikan kegiatannya untuk pengembangan musik liturgi di Indonesia. Konser kali ini adalah salah satu dari sekian program untuk tahun 2026. Program-program lainnya adalah pelatihan, publikasi, tutorial, dan pelayanan misa. Target program adalah seminari dan paroki. Untuk itu Cantica Sacra menjalin kerja sama dengan Komisi Liturgi dan Komisi Seminari baik di tingkat Keuskupan maupun KWI. 

Cantica Sacra Indonesia/MT Felix Sitorus

RENUNGAN MINGGU BIASA XI, 14 JUNI 2026

Rahmat Cuma Numpang Lewat

Renungan Minggu Biasa XI — 14 Juni 2026

Kel 19:2-6a | Rom 5:6-11 | Mat 9:36-10:8

Ada sebuah logika yang tampaknya masuk akal: kalau Allah tahu kita akan terus berdosa dan tetap mengampuni, bukankah itu justru memberi kita kebebasan untuk seenaknya?

Argumen ini bukan baru. Paulus sudah menghadapinya dua ribu tahun lalu, dan jawabannya singkat saja: “Mustahil.”

Tapi mengapa mustahil? Karena orang yang sungguh mengalami kasih yang datang lebih dulu — kasih yang hadir justru ketika kita tidak layak, tidak berjasa — tidak akan pernah merespons dengan “wah, bebas dong.”

Respons yang lahir dari pengalaman itu hanya satu: syukur yang mengubah.

Yang berkata “nanti seenaknya” adalah orang yang belum pernah benar-benar masuk ke dalam pengalaman itu.

Paulus menulis kepada jemaat di Roma dengan kalimat yang sederhana tapi mengejutkan: “Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Ketika kita belum baik. Ketika kita belum layak.

Paulus sendiri mengakui: jangankan mati untuk orang yang tidak layak, mati untuk orang baik pun jarang terjadi. Tapi itulah yang Allah lakukan. Dan dari situ Paulus menarik satu kesimpulan yang pasti: kalau waktu kita masih tidak layak saja Allah sudah bertindak, apalagi sekarang setelah kita didamaikan — keselamatan itu sudah selesai. Tinggal diterima.

Kasih Allah bukan respons atas kebaikan kita. Kasih Allah adalah inisiatif yang mendahului segalanya.

Injil hari ini memperlihatkan logika yang sama dalam tindakan nyata.Yesus melihat orang banyak — terlantar, lelah, seperti domba tanpa gembala — dan hatinya tergerak. Bukan sekadar merasa kasihan dari jauh. Ia terguncang dari dalam, dan tidak bisa diam.

Dari belas kasihan itu, Ia memanggil dua belas orang. Perhatikan siapa yang dipilih: nelayan, pemungut cukai, orang Zelot, bahkan seseorang yang sudah diketahui akan berkhianat. Tidak satu pun dari golongan yang dianggap suci waktu itu. Mereka adalah orang-orang biasa, dengan segala keterbatasan mereka.

Yesus tidak memilih berdasarkan kelayakan. Persis seperti kasih Allah yang Paulus ceritakan — inisiatif yang mendahului jasa.

Tapi ada satu kalimat di penghujung perikop ini yang menjadi kunci semuanya: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.”

Rahmat bukan untuk dimiliki. Rahmat cuma numpang lewat. Diterima bukan untuk disimpan, tapi untuk diteruskan. Diberi banyak supaya memberi banyak. Diberi gratis supaya memberi gratis.

Ini bukan sekadar soal kemurahan hati. Ini adalah cara kerja anugerah itu sendiri.

Rahmat yang dimonopoli, dijadikan alat kekuasaan, diperjualbelikan — itu pengkhianatan. Tapi rahmat yang didiamkan saja, tidak diteruskan, tidak diapa-apakan — itu juga pengkhianatan. Hanya bentuknya lebih halus dan lebih mudah dimaafkan diri sendiri.

Maka pertanyaan yang sesungguhnya bukan soal apakah kasih Allah memberi kita kebebasan untuk seenaknya.

Pertanyaan yang sesungguhnya: sudahkah kita sungguh mengalami kasih itu? Mereka yang sudah mengalaminya — yang pernah berdiri dalam keadaan tidak layak dan tetap menerima anugerah — tidak akan bertanya soal “seenaknya.”

Mereka akan bertanya: kepada siapa rahmat ini harus kuteruskan hari ini?

Itulah murid Kristus: saluran rahmat, bukan pemiliknya.

—

Jadi, kamu gimana?

RA

 

RENUNGAN HR TUBUH DAN DARAH KRISTUS, 7 Juni 2026

Masih adakah Makanan yang benar-benar Makanan?

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus — 7 Juni 2026

Ul 8:2-3, 14b-16a | 1 Kor 10:16-17 | Yoh 6:51-58

 

Perhatikan apa yang kamu makan hari ini. Bukan soal enak atau tidak — tapi soal dari mana asalnya dan apa yang sudah terjadi padanya sebelum sampai ke piringmu.

Dulu jawaban pertanyaan itu sederhana. Tuhan menyediakan alam, alam menyediakan makanan. Padi tumbuh dari tanah, ikan hidup di sungai dan laut, sayuran tumbuh di kebun. Manusia tinggal menerima apa yang sudah disediakan. Seperti manna di padang gurun — turun setiap pagi, cukup untuk semua, gratis untuk semua. Yang menggerutu pun tetap diberi makan. Tuhan tidak pernah menyeleksi siapa yang boleh lapar.

Tapi pelan-pelan sesuatu berubah.

Sungai-sungai di sekitar kita berubah warna. Udara yang seharusnya gratis kini harus dibeli dalam bentuk ruangan ber-AC dengan filter udara. Air minum yang seharusnyavmengalir jernih kini datang dalam galon yang harus dibayar setiap minggu. Tanah yang dulu bisa ditanami kini tertutup beton. Untuk mendapatkan sayuran yang benar-benar segar, buah yang benar-benar matang di pohon, kita harus pergi ke supermarket premium dan membayar harga yang tidak semua orang mampu.

Ketika alam dihancurkan, yang pertama kehilangan selalu yang paling lemah.

Dan makanan yang tersisa? Semakin panjang prosesnya, semakin jauh dari aslinya. Pada akhirnya, makanan yang benar-benar makanan menjadi privilege — hanya untuk yang mampu membayar harganya.

—

Yesus berkata: “Dagingku adalah benar-benar makanan, dan darahku adalah benar-benar minuman.”

Kata benar-benar itu bukan hiasan. Di dunia yang semakin sulit menemukan makanan yang murni dan jujur — Yesus hadir dengan klaim yang radikal: ada satu makanan yang tidak bisa dirusak oleh tangan manusia manapun. Tidak bisa ditebang, tidak bisa diprivatisasi, tidak bisa tercemar oleh kerakusan siapapun.

Dan makanan itu tersedia untuk siapapun yang datang dengan rindu.

Bukan untuk yang mampu membayar saja. Bukan untuk yang tinggal di lokasi yang tepat.

Bukan untuk yang hidupnya sudah beres. Satu hosti yang sama, untuk semua yang datang. Siapapun yang merasa dirinya tidak layak maju — tapi kakinya tetap melangkah.

Tuhan tidak pernah menyeleksi siapa yang boleh lapar.

—

Menerima Tubuh dan Darah Kristus bukan hanya tindakan pribadi antara jiwa dan Tuhan. Ini adalah komitmen — bahwa kita menolak logika dunia yang menghancurkan makanan sejati demi kerakusan segelintir orang. Bahwa kita percaya Tuhan masih menyediakan, dan akan terus menyediakan, bahkan ketika manusia sudah menghancurkan hampir segalanya.

Sebab yang menjadi makanan itu adalah Tuhan sendiri. Dan Dia sendiri yang menyediakannya.

“Alam bisa dirusak. Tapi kehendak Tuhan untuk memberi diri-Nya — tidak.”

—

Jadi, kamu gimana?

RA

Terbaru

Populer