Home Blog Page 2

RENUNGAN MINGGU BIASA XXIII, 6 September 2026

Menegur karena Mengasihi

Minggu Biasa XXIII / Hari Minggu Kitab Suci Nasional — 6 September 2026
Yeh. 33:7-9; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Rm. 13:8-10; Mat. 18:15-20

Ada satu ketakutan yang jujur perlu kita akui: kita takut menegur orang lain.

Bukan karena kita tidak melihat kesalahannya, tapi lebih karena kita tidak mau dianggap sok suci. Tidak mau merusak hubungan. Atau kalau mau lebih jujur lagi, tidak mau repot. Lebih enak masa bodo. Bukan urusanku. Lebih gampang diam, atau lebih gampang lagi membicarakannya di belakang.

Bahkan boleh jadi, kita baru puas jika mengumumkan aib orang lain ke publik atau media sosial. Orang itu dihakimi netizen, lantas kita merasa menjadi ‘pahlawan’-nya karena telah mengungkapkan kebenaran atas kekeliruan orang lain. Benarkah perbuatan seperti itu? Kita lupa bahwa kita sendiri pun bisa berbuat salah.

—

Bacaan hari ini menolak dua jalan pintas itu.

Dalam bacaan pertama, Allah menjadikan Yehezkiel seorang penjaga (watchman) bagi bangsa Israel. Tugas seorang penjaga bukan menghukum, melainkan memberi peringatan.

Kalau ia diam saja melihat bahaya datang, darah orang yang celaka itu dituntut dari tangannya. Menegur, dalam kerangka ini, bukan pilihan opsional bagi orang yang peduli — itu tanggung jawab.

Injil Matius memberi kita sesuatu yang lebih konkret lagi yaitu tata cara peneguran itu.

“Kalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata.” Baru kalau itu tidak berhasil, ajak satu dua orang. Baru kalau itu pun gagal, sampaikan kepada jemaat. Ada urutannya, dan urutan itu penting.

Yesus sedang mengajarkan sesuatu yang nyaris hilang di zaman kita: bahwa koreksi yang benar dimulai dari ruang yang paling kecil dan paling pribadi. Hati ke hati. Tidak langsung dilempar ruang yang paling ramai dan paling terbuka.

Kesalahan yang langsung dilempar ke publik tanpa adanya koreksi antar dua pribadi hanya akan mempermalukan, menghakimi bahkan merendahkan martabat yg bersalah. Bukan hanya itu, muncul penghakiman lalu memuncak pada kegaduhan liar yang tak berujung. Tujuan correctio fraterna – teguran penuh kasih yang hangat menjadi tidak tercapai.

—

Ini relevan sekali untuk kita yang hidup dengan layar di tangan. Budaya kita hari ini punya kecenderungan terbalik dari Matius 18, yaitu kesalahan orang lain justru pertama-tama dibawa ke ruang publik — di-screenshot, di-post, dikomentari beramai-ramai — baru kalau ributnya sudah besar, mungkin ada yang mencoba bicara langsung.

Yesus mengajarkan urutan yang justru melindungi martabat orang yang bersalah, sekaligus membuka jalan bagi pertobatan yang sesungguhnya. Menegur di muka umum lebih sering menghasilkan pertahanan diri dan rasa malu, bukan penyesalan yang tulus. Menegur empat mata memberi ruang bagi orang untuk berubah tanpa kehilangan harga dirinya.

Bukankah kita memiliki tradisi sakramen tobat. Semua diselesaikan di ruangan kudus itu. Bayangkan, jika semua yang bersalah – dihakimi di depan seluruh jemaat?

Tidak perlu dibayangkan.

—

Lantas ada yang lebih dalam lagi, dan itu dijelaskan Paulus di bacaan kedua: seluruh hukum itu tergenapi dalam satu kata — kasih. “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia.” Ini kuncinya. Teguran yang tidak lahir dari kasih akan terasa seperti serangan, dan biasanya memang serangan — entah untuk merasa lebih benar, lebih suci, atau sekadar melampiaskan kekesalan. Tapi teguran yang lahir dari kasih akan selalu punya satu tujuan: memenangkan saudara itu kembali, bukan mengalahkannya.

Hari ini juga Gereja membuka Bulan Kitab Suci Nasional. Ada hubungan yang tidak kebetulan antara tema bulan ini dan bacaan hari ini.

Sabda Allah bukan sekadar bacaan rohani yang menenangkan hati; Sabda itu juga cermin yang berani, yang kadang menegur kita sendiri sebelum kita sempat menegur orang lain. Membaca Kitab Suci dengan sungguh-sungguh berarti bersedia menjadi Yehezkiel sekaligus bersedia menjadi orang yang ditegur. Tuhan secara pribadi empat mata menegur kita melalui sabda-Nya.

Maka mari kita bawa pulang satu pertanyaan sederhana minggu ini: adakah seseorang yang sebenarnya sudah lama ingin saya tegur, tapi saya pilih diam atau justru saya bicarakan di belakangnya?

Yesus mengundang kita untuk berani mengambil langkah pertama yang paling sulit — bicara langsung, empat mata, dengan kasih sebagai satu-satunya alasan.
“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat. 18:20).

—

RA

RENUNGAN MINGGU BIASA XXII, 30 Agustus 2026

L

Api yang Mengakar

Bacaan I: Yer. 20:7-9
Mazmur: Mzm. 63:2,3-4,5-6,8-9
Bacaan II: Rm. 12:1-2
Injil: Mat. 16:21-27

—

Ada panggilan yang kita jawab dengan penuh kerelaan, lalu ternyata jalannya jauh lebih berat dari yang kita bayangkan. Yeremia mengalami itu. Ia menjawab panggilan Tuhan menjadi nabi dengan hati yang menunduk, mengenali siapa dirinya di hadapan Tuhan. Namun perutusan itu tidak membawanya pada kegembiraan. Ia bertemu cemooh, olok-olok, dan penolakan di sepanjang jalan.

—

Berkali-kali Yeremia ingin menyerah. “Aku tidak mau mengingat Dia,” katanya dalam hati, “dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya.” Tapi setiap kali niat itu muncul, ada sesuatu yang menyala di dalam dirinya, terkurung dalam tulang-tulangnya sendiri. Ia berlelah-lelah menahannya, tapi tidak sanggup. Panggilan itu sudah mengakar. Semakin ia coba memadamkannya, semakin ia sadar itu bagian dari dirinya sendiri yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Yang tadinya dijalankan dengan keterpaksaan, menjadi sebuah kerelaan. Setengah hati menjadi sepenuh hati.

—

Injil hari ini melanjutkan persis dari titik pengakuan iman Petrus minggu lalu. Begitu Petrus mengaku Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup, Yesus mulai menyatakan apa yang akan terjadi selanjutnya: Ia harus pergi ke Yerusalem, menanggung banyak penderitaan, dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga. Petrus menariknya ke samping dan menegurnya. Ia mendengar penderitaan dan kematian, tapi kabar tentang kebangkitan seperti terlewat dari telinganya.

Bentuk tantangan seperti apa yang paling tepat untuk menguji pengakuan iman, “Engkaulah Mesias, ANAK ALLAH YANG HIDUP”?

Betul. Penderitaan dan kematian. Di sanalah pengakuan iman kita akan menancap betul dalam hati. Iman bukan cuma diucapkan tapi akhirnya menjadi pengakuan yang betul-betul mengakar.

—

Yesus lalu menyatakan apa yang sesungguhnya dikehendaki Allah bagi siapa saja yang mau mengikuti-Nya: menyangkal diri, memikul salib, bahkan rela kehilangan nyawa. Tapi perintah itu tidak berhenti di sana. Yesus menutupnya dengan berkata bahwa Anak Manusia—diri-Nya sendiri, sosok yang sama yang diakui Petrus minggu lalu—akan datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya untuk membalas setiap orang menurut perbuatannya. Penderitaan bukan tujuan akhir. Penderitaan adalah jalan menuju kemuliaan yang sudah dijanjikan sejak awal.

—

Paulus memberi jawaban yang sama dari sisi lain. “Berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.” Yang perlu diperbarui bukan Allah, yang selalu sama, selalu baik, selalu setia. Yang perlu diperbarui adalah budi kita, supaya sanggup mengenali kehendak-Nya bahkan ketika jalannya berat, bahkan ketika dunia di sekitar kita menawarkan jalan yang lebih mudah dan lebih masuk akal.

Yeremia yang berkali-kali ingin menyerah tetap berjalan karena api itu mengakar dalam dirinya. Petrus yang gagal memahami arah penderitaan Yesus tetap dipanggil untuk mengikuti-Nya sampai memikul salibnya sendiri. Keduanya diajak percaya pada satu hal yang sama: penderitaan yang mereka jalani bukan akhir dari kisah, melainkan jalan menuju kemuliaan yang sudah dijanjikan sejak semula.

—

Jadi, kamu gimana?

RA

MENYANYI SUKACITA DI SEPANJANG USIA Festival Koor Lansia Simeon Hana Antar Paroki se Dekenat Tangerang I

Tangerang – Bernyanyi bukan saja sekedar aktivitas menyenangkan tetapi juga memiliki banyak manfaat kesehatan khususnya bagi kaum lanjut usia (lansia). Selain meningkatkan suasana hati dapat memberi dampak positif bagi kesehatan baik fisik maupun mental.

Untuk itu Komunitas Lansia Simeon Hana Dekenat Tangerang I menyelenggarakan Festival Koor Lansia pada Sabtu (1/8/2026) bertempat di Gereja St. Agustinus Karawaci Tangerang, bertepatan pula dengan peringatan Ulang Tahun Paroki Karawaci ke 38 tahun. Festival ini diikuti kelompok koor dari 6 Paroki : Paroki Tangerang, Paroki Karawaci, Paroki Kutabumi, Paroki Citra Raya, Paroki Curug dan Paroki Pinang di Dekenant Tangerang 1 Keuskupan Agung Jakarta.

Acara ini dihadiri dan dibuka oleh Romo Aloysius Susilo Wjoyo, Pr moderator Komunitas Lansia Simeon Hana KAJ didampingi Ketua Umum Laurensius Irwan, Pembina Yohanes Surya serta pengurus dan didampingi pula Rm Eduardus Pausta, OSC pastor rekan dan dukungan dari pastor kepala Paroki Karawaci Rm Stefanus Suwarno, OSC

Dalam sambutan Rm Bambang Ponco Santosa, SJ selaku moderator Dekenat Tangerang 1 yang dibacakan oleh Rm Eduardus Pausta, OSC yang akrab dipanggil Rm Edo, menyampaikan beberapa manfaat bernyanyi terutama bagi lansia :

Meningkatkan kekuatan paru-paru

Bernyanyi secara rutin dapat membantu penderita penyakit paru-paru merasa lebih lega. Beberapa studi menunjukkan bernyanyi bisa memperbaiki kapasitas paru-paru, membantu pernafasan dan meringankan gejala yang berkaitan dengan penyakit pernafasan serius

Mengatasi demensia

Penelitian yang dilakukan ahli saraf Nina Kraus dari Universitas Northwestern menemukan, bernyanyi berhubungan erat dengan peningkatan fungsi otak, terutama pada sistem memori. Musik dan suara telah berevolusi selama ribuan tahun dan dapat merangsang bagian-bagian otak yang berperan dalam pengenalan dan ingatan sehingga membantu penserita demensia

Meningkatkan kesehatan mental

Sebuah penelitian dari University of East Anglia, Inggris, menemukan bernyanyi bersama dalam kelompok berdampak luar biasa pada kesehatan mental. Aktivitas ini membantu orang merasa lebih diterima secara sosial, meningkatkan kepercayaan diri dan meredakan perasaan cemas atau depresi

Mengurangi kesepian

Bergabung dalam paduan suara atau kelompok musik dapat membantu lansia mengatasi rasa kesepian. Bernyanyi menciptakan interaksi sosial yang menyenangkan. Aktivitas ini efektif membantu orang merasa lebih terhubung dengan orang lain.

Merangsang produksi hormon bahagia

Ketika bernyanyi, tubuh melepaskan hormone endorphin yang memicu perasaan bahagia, mirip seperti saat tertawa atau menikmati makanan favorit. Ketika bernyanyi hormon oksitosin atau disebut “hormon cinta” dilepaskan sehingga meningkatkan perasaan positif. Bernyanyi secara rutin terbukti menurunkan kadar hormon stress (kortisol)

Potensi mencegah kanker

Penelitian dari Tenovus Cancer Care dan Royal College of Music menemukan, bernyanyi dalam kelompok selama satu jam dapat merangsang produksi protein yang dapat membantu tubuh melawan kanker. Aktivitas ini mampu mengurang tingkat stress, yang memiliki efek baik dalam menjaga keseimbangan kesehatan tubuh.

Terbukti festival koor lansia ini mendapat respon positif dari Rm Aloysius Susilo Wijoyo, Pr dengan memberikan pengarahan atau evaluasi atas penampilan peserta. Beliau berharap festival ini dapat diselenggarakan oleh setiap dekenat komunitas lansia se Keuskupan Agung Jakarta.

Komlan Dekenat Tangerang I yang mempelopori festival ini, menyelenggarakan acara dengan konsep festival dan bukan sebagai ajang persaingan atau lomba tetapi memberi penghargaan atas prestasi dari setiap kelompok peserta.

Pada festival ini, setiap paroki mengirimkan kelompok koor dan juri yang akan menilai penampilan peserta dalam menyanyikan lagu wajib Mars Lansia dan lagu pilihan. Juri yang mewakili setiap paroki terpilih dengan latar belakang akademisi dan praktisi yang berpengalaman, memberi penilaian dengan kriteria : penampilan, kostum, harmonisasi, kekompakan, dirigen dan interpretasi dan terpilih :

Penampilan terbaik : Paroki Kutabumi

Kostum terbaik : Paroki Karawaci

Harmonisasi terbaik : Paroki Curug

Kekompakan terbaik : Paroki Citra Raya

Dirigen terbaik : Paroki Tangerang

Interpretasi terbaik : Paroki Pinang

Juri berunding dan memutuskan Paroki Kutabumi meraih Piala Bergilir Festival Koor Lansia tahun 2026. Diharapkan festival ini dapat terus berlanjut diselenggarakan pada tahun-tahun mendatang. Acara berlangsung meriah, penuh keakraban dan kebersamaan dan sukacita tanpa persaingan, karena semua peserta telah menampilkan yang terbaik.

 

Komunitas Lansia Simeon Hana Dekenat Tangerang I

Atiek

Keuskupan Agung Jakarta Akan Menggelar Misa Tahbisan Imamat bagi 10 Diakon pada Selasa, 8 September 2026, Pk. 17.00 WIB

JAKARTA – Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) bersukacita menyambut pelayan-pelayan umat yang baru dengan akan digelarnya penerimaan Sakramen Tahbisan Imamat bagi 10 orang Frater Diakon. Perayaan Ekaristi tahbisan ini akan dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo.

Berdasarkan surat pengumuman resmi yang dikeluarkan pada tanggal 26 Agustus 2026 oleh Wakil Sekretaris KAJ, Rm. Thomas Ulun Ismoyo, Pr, Misa Tahbisan Imamat ini akan diselenggarakan pada:

  • Hari, Tanggal: Selasa, 8 September 2026

  • Waktu: Pukul 17.00 WIB

  • Tempat: Gereja Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga – Paroki Katedral Jakarta

Kesepuluh calon imam yang akan ditahbiskan terdiri dari 4 Frater Diakon projo Keuskupan Agung Jakarta dan 6 Frater Diakon dari Ordo Saudara Dina (OFM). Mereka adalah:

  1. Frater Diakon Benidiktus Enrico Gunawan

  2. Frater Diakon Thomas Aryangga Abimanyu

  3. Frater Diakon Victor Galih Pratiknyo

  4. Frater Diakon Yohanes Febriyanto Rete

  5. Frater Diakon Agustinus Noning, OFM

  6. Frater Diakon Agustinus Alanersase Vanri, OFM

  7. Frater Diakon Tarsisius Mardi Sudirman, OFM

  8. Frater Diakon Polikarpus Wiglis Bria, OFM

  9. Frater Diakon Andreas Ivan Setiawan, OFM

  10. Frater Diakon Teofilus Armando Gadong, OFM

Menyambut momen penuh rahmat ini, pihak KAJ memohon dukungan doa dari seluruh umat Katolik bagi kesepuluh calon imam tersebut. Kabar gembira ini juga akan dibacakan dalam pengumuman Gereja pada Perayaan Ekaristi akhir pekan tanggal 29–30 Agustus 2026 dan 5–6 September 2026.

KAJ juga mengundang seluruh pastor di lingkungan Keuskupan Agung Jakarta untuk dapat menghadiri acara Misa Tahbisan Imamat ini dengan membawa jubah/alba masing-masing.

RENUNGAN MINGGU BIASA XXI, 23 AGUSTUS 2026

KUNCI YANG DISERAHKAN

Bacaan I — Yes. 22:19-23
Mazmur Tanggapan — Mzm. 138:1-2a.2bc-3.6.8bc
Bacaan II — Rm. 11:33-36
Bait Pengantar Injil — Mat. 16:18
Injil — Mat. 16:13-20

Kita semua pernah diberi kepercayaan. Apapun bentuknya. Misalnya kehidupan, yang dipercayakan oleh Tuhan, meski kita tak pernah meminta. Tapi nyatanya itu diberikan. Dan kita terima begitu saja. Bisa kita pandang sebagai beban, tapi bisa juga sebagai sebuah anugerah. Diberikan karena kita dipandang mampu dan sanggup. Sehingga, apa yang diberikan ini dapat mendatangkan anugerah bagi ciptaan yang lain. 

— 

Namun, cita-cita ideal di atas bisa merosot juga nilainya. Ketika ada pergeseran cara pandang kita terhadap apa yang diberikan. Ada godaan halus yang datang bersama kepercayaan semacam itu: pelan-pelan menganggap hidup itu milik kita. Lalu digunakan untuk membangun kemuliaan pribadi di atasnya. Lupa bahwa yang memberikan itu bisa juga menariknya kembali. Saat kehidupan itu diambil, baru kita sadar apa yang selama ini kita kumpulkan tak berarti apa-apa. 

—

Dalam bacaan pertama, Yesaya mencatat kisah seorang pejabat istana bernama Sebna yang jatuh ke godaan itu. Ia dipercayakan kunci rumah Daud. Alih-alih melaksanakan tugas itu dengan bertanggungjawab, Ia memahat kuburan mewah bagi dirinya sendiri, memakai jabatannya untuk membesarkan nama sendiri.

Pada akhirnya Tuhan mencabutnya dan menyerahkan kunci rumah Daud kepada Elyakim, hamba yang setia. Kunci itu bukan harta yang bisa direbut siapa saja. Kunci itu amanah yang dipikul di bahu, diberikan oleh Sang Pemilik kepada siapa yang Ia percaya. Kunci itu harus dijaga bahkan dengan nyawa sendiri. 

—

Injil hari ini membawa kita pada penyerahan kunci yang lebih besar lagi.

Di Kaisarea Filipi, daerah terluar dari tanah Israel, jauh dari pengaruh agama tradisi Yahudi. Meski demikian, di tempat itu banyak ilah-ilah tandingan lain. Di sana,  Yesus bertanya perihal siapakah yang dimaksud dengan “Anak Manusia”, yang terdapat dalam nubuatan Daniel. Kepada-Nya diserahkan kemuliaan dan tahta Kerajaan Surga. 

Para murid – meski sudah di tempat yang jauh dari banyak orang – masih membawa pemahaman tradisional mereka – anggapan orang-orang. Yohanes, Elia, dan para nabi yang lain. Di Kaisarea Filipi – Yesus mengajak mereka melihat siapa yang di depan mereka. 

“Menurut kamu, siapakah Aku ini?”. Dengan bahasa lain, Menurut-Mu dan bukan kata orang-orang, Apakah Aku ini “Anak Manusia” itu?

Simon mewakili yang lain menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Engkau adalah Kristus, Yang diurapi, Yang bertahta bersama Allah dalam kerajaan-Nya. Yang mereka lihat Yesus – seorang manusia bertubuh. Tapi iman melampaui apa yang mereka lihat. 

Itulah mengapa, jawaban itu disebut lahir dari pewahyuan Bapa, bukan dari kepintaran manusia.

Di atas pengakuan itulah Yesus mendirikan Gereja-Nya, dan kepada Simon yang mengaku itu Ia menyerahkan kunci Kerajaan Surga. Sang pemilik “rumah surgawi” memberikan kuncinya kepada pihak manusia. Bukan sembarang manusia – tapi sekumpulan manusia yang berdiri di atas iman yang satu. 

Sebagai catatan:

Kunci itu satu. Dipegang satu orang. Sebelas yang lain juga percaya, juga mengaku Yesus sebagai Mesias, tapi kunci itu tidak diperbanyak atau diduplikat sesuka hati sebelas kali. Sebelas pintu tidak dibuka dengan sebelas kunci yang berbeda-beda.

Kalau setiap orang beriman merasa berhak membuat kunci sendiri, iman yang satu itu pecah jadi sebelas versi, lalu seratus, lalu tak terhitung. Gereja tetap berdiri sebagai satu tubuh justru karena semua yang percaya ikut kepada kunci yang sama, yang sudah diserahkan itu. Bukan menciptakan kunci tandingan, melainkan tunduk bersama pada satu kunci yang sudah dipercayakan kepada satu pengakuan dan atas satu dasar batu yang sama. 

—

Kita sebagai Gereja berdiri kokoh ribuan tahun di atas pernyataan iman yang tak pernah berubah. “Ia naik ke surga, duduk di sebelah kanan Bapa Yang Mahakuasa. Dari situ Ia akan datang mengadili orang yang hidup dan mati”.

Sementara kita menantikan kedatangan-Nya, Yesus memercayakan kunci – yang melepas dan mengikat segala sesuatu – di dunia dan di surga. Gereja mengemban tugas mempersiapkan banyak orang untuk menerima anugerah yang lebih besar di dalam Kerajaan Surga nanti. 

—

Jadi, kamu gimana?

RA

HARI RAYA ST. PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA

Diangkat Karena Setia

Why. 11:19a;12:1-6a.10ab — 1Kor. 15:20-26 — Luk. 1:39-56

Sebelum Maria diangkat ke surga, ia lebih dulu berdiri di depan pintu rumah Elisabet dan mengucapkan Magnificat. Jiwaku memuliakan Tuhan. Kalimat itu keluar justru ketika Maria baru saja menerima kabar yang mengubah seluruh hidupnya secara tidak terduga. Kemuliaan yang kita rayakan hari ini berakar di sana — pada kesediaan seorang perempuan muda untuk berkata ya, jauh sebelum ia tahu ke mana ya itu akan membawanya.

Wahyu 12 melukiskan perempuan berselubung matahari yang berhadapan dengan naga besar. Kemuliaan Maria hadir di tengah ancaman, tumbuh justru dari pergumulan yang nyata. Ini yang sering luput dari cara kita membayangkan kekudusan. Maria menunjukkan bahwa kekudusan sejati justru teruji dalam keadaan yang sulit — kesetiaan yang bertahan ketika situasi tidak menjanjikan kepastian apa pun.

Paulus menyebut Kristus sebagai buah sulung dari kebangkitan, dan mereka yang ada di dalam-Nya akan menyusul. Maria menjadi bukti pertama janji itu digenapi, sekaligus jaminan bagi setiap orang yang menjalani kesetiaan yang sama — dalam skala yang jauh lebih kecil dan lebih sunyi.

Saya pernah mendampingi seseorang yang bertahun-tahun merawat anggota keluarganya yang sakit, tanpa sorotan, tanpa penghargaan, tanpa kepastian kapan semua akan berakhir. Ia menjalani semua itu dengan diam, sebagai bagian biasa dari kasihnya. Kesetiaan seperti itulah yang dirayakan hari ini lewat diangkatnya Maria — kesetiaan yang dijalani dalam ketidaktahuan, dan yang pada akhirnya diangkat Tuhan ke tempat yang layak baginya.

Hari Raya ini menegaskan bahwa kemuliaan adalah upah bagi mereka yang tetap berkata ya di tengah perjuangan yang panjang.

—

RA

[LINK LIVE] RIP Rm. Adrianus Andy Gunardi,Pr – Misa Requiem | Selasa, 11 Agustus 2026, Pk.19.00 di RD Carolus

REST IN PEACE:

Rm. Adrianus Andy Gunardi, Pr

Misa Requiem Selasa, 11 Agustus 2026, Pk. 19.00 di Rumah Duka Carolus

dipersembahkan oleh +Uskup Ignatius Kardinal Suharyo bersama Para Imam KAJ

#KAJ #KeuskupanAgungJakarta #RmAndy #MisaRequiem #KardinalSuharyo

RENUNGAN MINGGU BIASA XIX, 9 Agustus 2026

Itu Tuhan

Minggu Biasa XIX Tahun A — 9 Agustus 2026
1Raj 19:9a.11-13a • Mzm 85 • Rom 9:1-5 • Mat 14:22-33

Mungkin sesekali kita perlu merasakan, berada di tengah danau/lautan, hujan badai, gelap, tanpa cahaya, panik seperti yang dialami para Murid dalam kisah injil minggu ini. Dengan demikian, kita merasakan kekalutan dan ketakutan yang hinggap di dalam diri mereka. 

Saya teringat akan pengalaman bertahun2 lalu saya menjalani misi di pedalaman Papua. 

Waktu itu, kami berencana berkendara ke kota (185km dari pedalaman). Perjalanan sudah lewat 70an km dan harus terhenti karena longsor. Daripada menunggu lama longsor dibereskan dengan resiko menginap di jalan, kami akhirnya memutuskan putar balik ke pastoran. Di tengah perjalanan pulang itu mobil mogok. Kanvas kopling habis. Kami harus ambil keputusan. Saat itu hari sudah larut menjelang malam. 

Rekan yang menyertai saya menumpang mobil yang lewat kembali ke pastoran, berjanji akan mengirim bantuan ke tempat itu. Karena waktu itu tidak ada jaringan telpon. Sementara di pastoran ada wifi satelit. Jadi rekan saya bilang akan kontak teknisi untuk datang ke tempat saya menunggui mobil.

Saya tinggal sendirian menunggui mobil itu, tengah hutan gelap belantara di pinggir jalan. Hanya berbekal ubi di bagasi. Dua malam saya tidur di dalam mobil. 

Anehnya, saya tidak merasa perlu berdoa rosario atau novena khusus memohon pertolongan. Atau saya merengek2 ikut balik ke pastoran dan meninggalkan mobil itu. Bukan karena saya kurang percaya. Justru karena satu janji itu sudah cukup untuk dipegang: bantuan akan datang. Saya tinggal menunggu dengan tenang.

Benar. 

Hari ketiga, frater datang dari arah pastoran membawa makanan, tak lama kemudian disusul teknisi dari arah kota datang. Lalu ia mengganti kanvas kopling yang habis dengan yang baru. Mobil bisa jalan lagi. Lalu saya dan frater kembali ke pastoran dengan selamat. 

— 

Kalau boleh saya tanya kepada Petrus malam itu. Knapa sih kamu masih perlu minta berjalan mendatangi Yesus. Apa tidak cukup, dengan mendengar suara-Nya saja? Ia sudah berkata dan kamu mendengar dengan jelas, “Tenanglah, Aku ini, jangan takut!”. Kalau sudah terdengar, berarti posisi-Nya sudah dekat. Ia pasti akan datang. Apakah itu belum cukup?

Tapi mungkin kalau saya bertanya itu kepada Petrus, saya akan kena tegur juga oleh Yesus, “Biarkan dia Romo”.

—

Di tengah kegelapan, badai dan ketakutan, Yesus menghampiri murid-murid dengan berjalan kaki.. di atas air. Berjalan kaki. Tidak tergesa, atau berpindah tempat dalam sekejap. Slow but sure. Saya duga, Yesus sudah tau badai itu tidak akan menenggelamkan mereka. Ini kesempatan yang baik juga, mampukah murid-murid menanti dengan tenang di tengah badai?

Mereka tambah panik setelah melihat-Nya, dan mengira Yesus hantu.

Sampai jarak yang cukup, Tuhan bersuara, “Tenanglah, Aku ini, jangan takut”. Suara itu sampai di telinga mereka. Akrab dan seharusnya sudah mereka kenal. Tapi rupanya badai dan gelap menimbulkan asumsi yang lain. Suara yang sudah mereka kenal itu tidak cukup membuat mereka tenang. Sudah melihat dan mendengar, juga tak cukup

Bahkan Petrus – meminta bukti untuk berjalan juga di atas air untuk mencapai Yesus. 

Sudah bisa berjalan di atas air, Petrus tak cukup percaya. Ketakutannya lebih besar daripada harapannya untuk bisa sampai menjumpai Tuhan. Ia perlahan tenggelam. 

Sudah melihat, mendengar, bahkan berjumpa – selama ketakutan itu masih mendominasi –  kita tetap bisa gagal menyadari kehadiran-Nya yang menenangkan. 

—

Kadang yang kita butuhkan dari Tuhan bukan melulu mukjizat, bukti-bukti yang hebat terus menerus.

Justru kita perlu memohon hati yang cukup untuk tidak lagi meminta bukti. Hati yang tidak lagi takut dan sepenuhnya percaya. 

Hati yang cukup untuk mengatakan “Ya Tuhan saya percaya”, “Ya Tuhan, melihat dan mendengar suara-Mu saja sudah cukup, aku tahu Engkau dekat, dan karenanya hatiku menjadi tenang”. 

—

Jadi, kamu gimana?

RA

Warsen dan Tantangan Dunia Digital: Belajar Tanpa Batas, Tetap Mandiri, Aman, dan Terhubung

Perkembangan teknologi informasi (digital) yang berlangsung begitu cepat membawa banyak manfaat, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan. Lalu bagaimana dengan para lansia atau warga senior (warsen)?

Berbagai aktivitas sehari-hari kini semakin banyak dilakukan secara digital. Mulai dari berkomunikasi, memperoleh informasi, melakukan transaksi keuangan, hingga mengikuti berbagai kegiatan sosial, semuanya serba aplikasi digital. Keterbatasan akses dan literasi digital dapat membuat seseorang tertinggal dan berisiko mengalami keterasingan dari lingkungan sosialnya.

Warsen di Era Digital

Tergerak untuk memberikan edukasi mengenai perkembangan digital, Seksi Warga Senior Gereja St. Matius Penginjil yang tergabung dalam Komunitas Lansia Simeon Hana Dekenat Tangerang 1, menyelenggarakan gelar wicara bertajuk “Warsen di Era Digital” dengan pembicara Sudibyo Susanto (pengamat digital) pada Sabtu (18/7/2026) di GKP Gereja St. Matius Penginjil, Bintaro, Tangerang Selatan.

Kegiatan ini bertujuan sebagai bagian dari upaya mendampingi warga senior agar tetap mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman khususnya teknologi informasi, diikuti oleh 130 warga senior Paroki Bintaro.

Diharapkan para peserta tidak takut, bingung, atau menjauh tetapi perlu mempelajari manfaat dari dunia digital antara lain :

  • Teknologi, apabila digunakan dengan bijak, dapat menjadi sarana untuk tetap terhubung dengan keluarga dan lingkungan

  • Dapat mengikuti perkembangan zaman

  • Menikmati hiburan, serta mengembangkan berbagai minat dan kegemaran

  • Dunia digital juga dapat membuka kesempatan bagi warga senior untuk tetap aktif, mandiri, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Kewaspadaan

Namun, kemajuan teknologi juga perlu diimbangi dengan kewaspadaan. Peserta diajak memahami pentingnya melindungi data pribadi, mengenali berbagai bentuk penipuan dan kejahatan siber, serta bersikap kritis terhadap informasi yang beredar di dunia maya. Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) yang semakin pesat turut menjadi bagian dari pembahasan, terutama mengenai manfaat dan tantangan yang perlu dihadapi secara bijak.

Suasana kegiatan berlangsung hangat dan interaktif. Sesi tanya jawab menjadi kesempatan bagi peserta untuk berbagi pengalaman dan mengangkat berbagai pengalaman dan persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan digital sehari-hari.

Kegiatan ini menegaskan bahwa belajar tidak mengenal usia. Dengan semangat untuk terus belajar, warga senior dapat tetap mandiri, aman, produktif, dan selaras dengan perkembangan zaman.

Belajar Tanpa Batas, Warsen Makin Berkelas.
Mandiri, Aman, dan Selaras dengan Zaman.

Komlan Simeon Hana Dekenat Tangerang 2

RENUNGAN MINGGU BIASA XVIII, 2 AGUSTUS 2026

YANG TERPENTING ADALAH… 

Yes 55:1-3 — Rm 8:35, 37-39 — Mat 14:13-21

Saudara-saudari..

Minggu lalu kita diajar oleh Yesus – agar jangan lupa memohon karunia harta ilahi. Harta ilahi yang kita perlukan untuk setiap tugas-tugas ilahi yang diberikan oleh Allah. Salomo yang baru saja menjadi raja sadar bahwa statusnya diberikan oleh Allah, namun tidak dibarengi dengan kompetensi yang benar untuk menjalankannya. Ia meminta kompetensi ilahi untuk tugas yang baru saja ia emban, yaitu kemampuan untuk menghakimi dengan bijak dan adil. Namun sayang, Salomo lalai menjaga harta ilahi itu. Alih-alih ia malah mengumpulkan harta-harta lain – yang seharusnya ia lepaskan. 

—

Minggu ini, harta ilahi itu mendapatkan definisi yang terang benderang. Harta itu ialah relasi dengan Allah sendiri – kembali masuk dalam perjanjian kasih ilahi. 

Nabi Yesaya mengajak kita membayangkan hal yang aneh: orang tanpa uang boleh datang, makan dan minum tanpa bayar (Yes 55:1-3). Maksudnya bukan roti gratis tanpa bayar.

Yang ditawarkan adalah hubungan dengan Allah sendiri — sesuatu yang memang tidak pernah bisa dibeli. Bukan karena Allah sedang berbaik hati memberi diskon, tapi karena kasih itu bukan barang dagangan.

Masalahnya ada pada kita: sering salah alamat mencari kepuasan, menghabiskan waktu dan tenaga untuk hal yang tidak pernah benar-benar mengenyangkan.

Ketika kita benar-benar sadar betapa berharganya relasi dengan Allah, genggaman kita pada hal-hal lain pelan-pelan mengendur sendiri.

Jadi keterikatan kita dengan harta duniawi – meski masih dibutuhkan – tidak benar-benar sekuat keterikatan kita dengan harta ilahi. Dengan harta duniawi, bahkan kita rela melonggarkan, menjual dan akhirnya melepaskan. 

Paulus menambahkan satu hal: tidak ada penderitaan, bahaya, atau bahkan maut yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah (Rm 8:35, 37-39). Kalau begitu, yang bisa membuat kita menjauh dari-Nya sebenarnya cuma satu — pilihan kita sendiri untuk melepaskan.

—

Kisah penggandaan roti dalam Injil membuktikan semua ini bukan kata-kata kosong (Mat 14:13-21).

Yesus sendiri sedang berduka atas kematian Yohanes Pembaptis, tapi tetap tergerak hati melihat orang banyak yang lapar.

Lima roti dan dua ikan pun cukup untuk lima ribu orang. Para murid diajarkan tidak menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri. Masalah tetap ada, tapi mereka diminta untuk melibatkan Tuhan sendiri. Menyerahkan segalanya sambil kita tetap mencari cara untuk ‘memberi mereka makan’, tidak menyerah begitu saja. 

Allah yang berjanji lewat Yesaya, membuktikannya lewat tangan Yesus sendiri.

Jadi pertanyaannya bukan lagi apakah Allah menyediakan — itu sudah pasti.

Pertanyaannya, apakah kita masih mencari roti di tempat yang salah, atau sudah mau duduk dan makan dari apa yang sudah Ia sediakan cuma-cuma. 

—

Jadi, kamu gimana?

RA

 

Terbaru

Populer