Home Blog Page 2

RENUNGAN MINGGU BIASA XIX, 9 Agustus 2026

Itu Tuhan

Minggu Biasa XIX Tahun A — 9 Agustus 2026
1Raj 19:9a.11-13a • Mzm 85 • Rom 9:1-5 • Mat 14:22-33

Mungkin sesekali kita perlu merasakan, berada di tengah danau/lautan, hujan badai, gelap, tanpa cahaya, panik seperti yang dialami para Murid dalam kisah injil minggu ini. Dengan demikian, kita merasakan kekalutan dan ketakutan yang hinggap di dalam diri mereka. 

Saya teringat akan pengalaman bertahun2 lalu saya menjalani misi di pedalaman Papua. 

Waktu itu, kami berencana berkendara ke kota (185km dari pedalaman). Perjalanan sudah lewat 70an km dan harus terhenti karena longsor. Daripada menunggu lama longsor dibereskan dengan resiko menginap di jalan, kami akhirnya memutuskan putar balik ke pastoran. Di tengah perjalanan pulang itu mobil mogok. Kanvas kopling habis. Kami harus ambil keputusan. Saat itu hari sudah larut menjelang malam. 

Rekan yang menyertai saya menumpang mobil yang lewat kembali ke pastoran, berjanji akan mengirim bantuan ke tempat itu. Karena waktu itu tidak ada jaringan telpon. Sementara di pastoran ada wifi satelit. Jadi rekan saya bilang akan kontak teknisi untuk datang ke tempat saya menunggui mobil.

Saya tinggal sendirian menunggui mobil itu, tengah hutan gelap belantara di pinggir jalan. Hanya berbekal ubi di bagasi. Dua malam saya tidur di dalam mobil. 

Anehnya, saya tidak merasa perlu berdoa rosario atau novena khusus memohon pertolongan. Atau saya merengek2 ikut balik ke pastoran dan meninggalkan mobil itu. Bukan karena saya kurang percaya. Justru karena satu janji itu sudah cukup untuk dipegang: bantuan akan datang. Saya tinggal menunggu dengan tenang.

Benar. 

Hari ketiga, frater datang dari arah pastoran membawa makanan, tak lama kemudian disusul teknisi dari arah kota datang. Lalu ia mengganti kanvas kopling yang habis dengan yang baru. Mobil bisa jalan lagi. Lalu saya dan frater kembali ke pastoran dengan selamat. 

— 

Kalau boleh saya tanya kepada Petrus malam itu. Knapa sih kamu masih perlu minta berjalan mendatangi Yesus. Apa tidak cukup, dengan mendengar suara-Nya saja? Ia sudah berkata dan kamu mendengar dengan jelas, “Tenanglah, Aku ini, jangan takut!”. Kalau sudah terdengar, berarti posisi-Nya sudah dekat. Ia pasti akan datang. Apakah itu belum cukup?

Tapi mungkin kalau saya bertanya itu kepada Petrus, saya akan kena tegur juga oleh Yesus, “Biarkan dia Romo”.

Di tengah kegelapan, badai dan ketakutan, Yesus menghampiri murid-murid dengan berjalan kaki.. di atas air. Berjalan kaki. Tidak tergesa, atau berpindah tempat dalam sekejap. Slow but sure. Saya duga, Yesus sudah tau badai itu tidak akan menenggelamkan mereka. Ini kesempatan yang baik juga, mampukah murid-murid menanti dengan tenang di tengah badai?

Mereka tambah panik setelah melihat-Nya, dan mengira Yesus hantu.

Sampai jarak yang cukup, Tuhan bersuara, “Tenanglah, Aku ini, jangan takut”. Suara itu sampai di telinga mereka. Akrab dan seharusnya sudah mereka kenal. Tapi rupanya badai dan gelap menimbulkan asumsi yang lain. Suara yang sudah mereka kenal itu tidak cukup membuat mereka tenang. Sudah melihat dan mendengar, juga tak cukup

Bahkan Petrus – meminta bukti untuk berjalan juga di atas air untuk mencapai Yesus. 

Sudah bisa berjalan di atas air, Petrus tak cukup percaya. Ketakutannya lebih besar daripada harapannya untuk bisa sampai menjumpai Tuhan. Ia perlahan tenggelam. 

Sudah melihat, mendengar, bahkan berjumpa – selama ketakutan itu masih mendominasi –  kita tetap bisa gagal menyadari kehadiran-Nya yang menenangkan. 

Kadang yang kita butuhkan dari Tuhan bukan melulu mukjizat, bukti-bukti yang hebat terus menerus.

Justru kita perlu memohon hati yang cukup untuk tidak lagi meminta bukti. Hati yang tidak lagi takut dan sepenuhnya percaya. 

Hati yang cukup untuk mengatakan “Ya Tuhan saya percaya”, “Ya Tuhan, melihat dan mendengar suara-Mu saja sudah cukup, aku tahu Engkau dekat, dan karenanya hatiku menjadi tenang”. 

Jadi, kamu gimana?

RA

Warsen dan Tantangan Dunia Digital: Belajar Tanpa Batas, Tetap Mandiri, Aman, dan Terhubung

Perkembangan teknologi informasi (digital) yang berlangsung begitu cepat membawa banyak manfaat, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan. Lalu bagaimana dengan para lansia atau warga senior (warsen)?

Berbagai aktivitas sehari-hari kini semakin banyak dilakukan secara digital. Mulai dari berkomunikasi, memperoleh informasi, melakukan transaksi keuangan, hingga mengikuti berbagai kegiatan sosial, semuanya serba aplikasi digital. Keterbatasan akses dan literasi digital dapat membuat seseorang tertinggal dan berisiko mengalami keterasingan dari lingkungan sosialnya.

Warsen di Era Digital

Tergerak untuk memberikan edukasi mengenai perkembangan digital, Seksi Warga Senior Gereja St. Matius Penginjil yang tergabung dalam Komunitas Lansia Simeon Hana Dekenat Tangerang 1, menyelenggarakan gelar wicara bertajuk Warsen di Era Digital” dengan pembicara Sudibyo Susanto (pengamat digital) pada Sabtu (18/7/2026) di GKP Gereja St. Matius Penginjil, Bintaro, Tangerang Selatan.

Kegiatan ini bertujuan sebagai bagian dari upaya mendampingi warga senior agar tetap mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman khususnya teknologi informasi, diikuti oleh 130 warga senior Paroki Bintaro.

Diharapkan para peserta tidak takut, bingung, atau menjauh tetapi perlu mempelajari manfaat dari dunia digital antara lain :

  • Teknologi, apabila digunakan dengan bijak, dapat menjadi sarana untuk tetap terhubung dengan keluarga dan lingkungan

  • Dapat mengikuti perkembangan zaman

  • Menikmati hiburan, serta mengembangkan berbagai minat dan kegemaran

  • Dunia digital juga dapat membuka kesempatan bagi warga senior untuk tetap aktif, mandiri, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Kewaspadaan

Namun, kemajuan teknologi juga perlu diimbangi dengan kewaspadaan. Peserta diajak memahami pentingnya melindungi data pribadi, mengenali berbagai bentuk penipuan dan kejahatan siber, serta bersikap kritis terhadap informasi yang beredar di dunia maya. Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) yang semakin pesat turut menjadi bagian dari pembahasan, terutama mengenai manfaat dan tantangan yang perlu dihadapi secara bijak.

Suasana kegiatan berlangsung hangat dan interaktif. Sesi tanya jawab menjadi kesempatan bagi peserta untuk berbagi pengalaman dan mengangkat berbagai pengalaman dan persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan digital sehari-hari.

Kegiatan ini menegaskan bahwa belajar tidak mengenal usia. Dengan semangat untuk terus belajar, warga senior dapat tetap mandiri, aman, produktif, dan selaras dengan perkembangan zaman.

Belajar Tanpa Batas, Warsen Makin Berkelas.
Mandiri, Aman, dan Selaras dengan Zaman.

Komlan Simeon Hana Dekenat Tangerang 2

RENUNGAN MINGGU BIASA XVIII, 2 AGUSTUS 2026

YANG TERPENTING ADALAH… 

Yes 55:1-3 — Rm 8:35, 37-39 — Mat 14:13-21

Saudara-saudari..

Minggu lalu kita diajar oleh Yesus – agar jangan lupa memohon karunia harta ilahi. Harta ilahi yang kita perlukan untuk setiap tugas-tugas ilahi yang diberikan oleh Allah. Salomo yang baru saja menjadi raja sadar bahwa statusnya diberikan oleh Allah, namun tidak dibarengi dengan kompetensi yang benar untuk menjalankannya. Ia meminta kompetensi ilahi untuk tugas yang baru saja ia emban, yaitu kemampuan untuk menghakimi dengan bijak dan adil. Namun sayang, Salomo lalai menjaga harta ilahi itu. Alih-alih ia malah mengumpulkan harta-harta lain – yang seharusnya ia lepaskan. 

Minggu ini, harta ilahi itu mendapatkan definisi yang terang benderang. Harta itu ialah relasi dengan Allah sendiri – kembali masuk dalam perjanjian kasih ilahi. 

Nabi Yesaya mengajak kita membayangkan hal yang aneh: orang tanpa uang boleh datang, makan dan minum tanpa bayar (Yes 55:1-3). Maksudnya bukan roti gratis tanpa bayar.

Yang ditawarkan adalah hubungan dengan Allah sendiri — sesuatu yang memang tidak pernah bisa dibeli. Bukan karena Allah sedang berbaik hati memberi diskon, tapi karena kasih itu bukan barang dagangan.

Masalahnya ada pada kita: sering salah alamat mencari kepuasan, menghabiskan waktu dan tenaga untuk hal yang tidak pernah benar-benar mengenyangkan.

Ketika kita benar-benar sadar betapa berharganya relasi dengan Allah, genggaman kita pada hal-hal lain pelan-pelan mengendur sendiri.

Jadi keterikatan kita dengan harta duniawi – meski masih dibutuhkan – tidak benar-benar sekuat keterikatan kita dengan harta ilahi. Dengan harta duniawi, bahkan kita rela melonggarkan, menjual dan akhirnya melepaskan. 

Paulus menambahkan satu hal: tidak ada penderitaan, bahaya, atau bahkan maut yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah (Rm 8:35, 37-39). Kalau begitu, yang bisa membuat kita menjauh dari-Nya sebenarnya cuma satu — pilihan kita sendiri untuk melepaskan.

Kisah penggandaan roti dalam Injil membuktikan semua ini bukan kata-kata kosong (Mat 14:13-21).

Yesus sendiri sedang berduka atas kematian Yohanes Pembaptis, tapi tetap tergerak hati melihat orang banyak yang lapar.

Lima roti dan dua ikan pun cukup untuk lima ribu orang. Para murid diajarkan tidak menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri. Masalah tetap ada, tapi mereka diminta untuk melibatkan Tuhan sendiri. Menyerahkan segalanya sambil kita tetap mencari cara untuk ‘memberi mereka makan’, tidak menyerah begitu saja. 

Allah yang berjanji lewat Yesaya, membuktikannya lewat tangan Yesus sendiri.

Jadi pertanyaannya bukan lagi apakah Allah menyediakan — itu sudah pasti.

Pertanyaannya, apakah kita masih mencari roti di tempat yang salah, atau sudah mau duduk dan makan dari apa yang sudah Ia sediakan cuma-cuma. 

Jadi, kamu gimana?

RA

 

RENUNGAN MINGGU BIASA XVII, 26 Juli 2026

Memilih yang Berharga

Minggu Biasa XVII Tahun A — 26 Juli 2026

1Raj 3:5.7-12 • Mzm 119:57.72.76-77.127-128.129-130 • Rom 8:28-30 • Mat 13:44-52

Allah memberi Salomo kesempatan meminta apa saja. Ia tidak meminta umur panjang, harta, atau kemenangan atas musuh.

Ia meminta hati yang bisa mendengar, agar mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat.

Padahal Salomo bisa saja meminta apa pun yang ia mau. Ia justru memilih kemampuan untuk menimbang dan memilih dengan tepat.

Sering kali yang berharga itu berbeda dari yang disukai.

Kekayaan dan kenyamanan mudah menarik hati kita, sementara hikmat untuk melihat apa yang sungguh bernilai justru sering terlewat begitu saja.

Rasul Paulus mengingatkan bahwa sejak awal Allah sudah memanggil setiap orang menurut rencana-Nya, yaitu rencana yang mendatangkan kebaikan. Panggilan ini diberikan Allah lebih dulu, bukan hasil usaha kita.

Justru karena sudah dipanggil sejak semula, hidup kita sehari-hari menjadi proses yang terus berjalan.

Kita diajak terus mendengar, menimbang, memilah, lalu memilih arah yang sejalan dengan rencana Allah.

Ini bukan keputusan besar yang cukup diambil sekali saja, melainkan kepekaan yang terus dilatih dari hari ke hari.

Yesus menggambarkan hal ini lewat dua kisah singkat, harta terpendam dan mutiara berharga. Dalam kedua kisah itu, orang yang menemukannya segera pergi dan menjual seluruh miliknya untuk mendapatkan apa yang baru saja ia temukan.

Penemuan itu datang tanpa diduga, di tengah kesibukan biasa. Begitu seseorang menyadari apa yang sungguh bernilai, ia tidak ragu menyerahkan yang lain demi hal itu.

Injil hari ini ditutup dengan gambaran pukat penjala, yang mengumpulkan segalajenis ikan sebelum akhirnya dipilah. Gambaran sederhana ini mengingatkan kita bahwa setiap pilihan yang kita ambil terus-menerus dalam hidup punya bobotnyasendiri. Hidup beriman adalah proses harian untuk mengenali yang berharga, lalu memilihnya dengan segenap hati, seperti Salomo yang memilih hikmat melebihi segala yang lain.

Jadi, kamu gimana?

RENUNGAN MINGGU BIASA XVI, 19 Juli 2026

BERSAHABAT DENGAN WAKTU TUHAN
Minggu Biasa XVI — Tahun A
Kebijaksanaan 12:13,16-19 | Roma 8:26-27 | Matius 13:24-43



Kitab Kebijaksanaan hari ini membuka sesuatu yang mengejutkan: kelunakan Allah adalah pilihan-Nya, justru karena Dia berkuasa penuh atas segalanya. Keadilan-Nya penuh belas kasih. Mata-Nya pada manusia yang berdosa tidak pernah berhenti melihat orang itu sebagai yang dikasihi. Dosa tidak menutup kasih Allah. Selama masih ada waktu, pintu pertobatan selalu terbuka — belum terlambat.

Santo Paulus dalam Surat Roma menambahkan sesuatu yang jujur: kita seringkali tidak tahu cara berdoa yang benar. Di titik paling rapuh itu, Roh Allah sendiri yang turun tangan, berdoa dalam diri kita lewat keluhan yang bahkan tidak bisa kita ucapkan. Allah tidak menunggu kita pandai berdoa dulu. Dia masuk ke titik paling lemah kita dan menemani dari sana — asal kita mau memohon, meminta Roh menunjukkan jalannya.

Injil hari ini memperlihatkan Allah yang membiarkan lalang dan gandum tumbuh bersama sampai panen. Bukan karena Dia tidak melihat yang salah, melainkan karena Dia tahu kapan waktunya bertindak. Pertumbuhan iman, perubahan hidup, proses penyembuhan — semuanya butuh waktu. Biji sesawi yang kecil butuh waktu jadi pohon besar. Ragi yang sedikit butuh waktu mengubah seluruh adonan. Yang lambat dan kecil sekarang, bisa berdampak jauh lebih besar nanti. Yang terpenting, benih tetap ditaburkan, ragi tetap dituang. Stabil, konstan, konsisten. 

Setiap orang diberi waktu yang sama: dua puluh empat jam sehari. Yang membedakan, apa yang kita alami di dalam waktu itu. Ada yang menjalani hari demi hari tanpa sungguh-sungguh mengalami kasih, Allah, dan kehadiran sesama — waktunya terasa singkat, bukan karena jamnya berkurang, tapi karena tidak terisi. Mengisi waktu dengan mengenal kasih Allah, hadir untuk sesama, dan membiarkan Dia hadir bagi kita — itulah artinya bersahabat dengan waktu Tuhan. Ketika waktu itu tiada, semoga kita sudah mengenal-Nya.

Jadi, kamu gimana?
RA

RENUNGAN MINGGU BIASA XV, 12 Juli 2026

Minggu Biasa XV Tahun A
“Tanah yang Sedang Diolah”
(Yes 55:10-11; Rm 8:18-23; Mat 13:1-23)

 

Perumpamaan tentang penabur dalam Injil hari ini ini sering dibaca sebagai ujian: kita ini termasuk tanah yang mana.

Tanah jalan, tanah berbatu, tanah berduri, atau tanah baik. Tapi ada hal yang gampang terlewat.

Tanah baik itu bukan tanah yang dari sananya sudah subur. Tanah baik adalah hasil dari proses yang panjang. Ia dicangkul, dibuka, dibiarkan matahari masuk sampai ke akar-akarnya, sesekali diistirahatkan, dan diolah oleh organisme-organisme kecil yang bekerja diam-diam di dalamnya. Kesuburan selalu lahir dari proses, bukan dari keadaan awal.

Iman kita berjalan dengan cara yang sama. Kesuburan hati tidak datang dari usaha kita membuat diri sendiri jadi baik. Ia datang dari kesediaan membiarkan diri diolah — oleh pengalaman yang menyakitkan sekalipun, oleh orang-orang yang kehadirannya sepertinya biasa saja, oleh percakapan kecil yang tidak terasa istimewa saat itu terjadi.

Saya pernah menemani seseorang yang bertahun-tahun merasa imannya tidak berkembang, sampai ia sadar bahwa justru masa-masa sepi dan sulit itulah yang sedang membentuknya, pelan-pelan, tanpa ia rencanakan.

Inilah yang dimaksud Paulus ketika berbicara tentang penderitaan yang sekarang ini. Penderitaan menjadi bagian dari cara Allah mencangkul, membuka, dan menyuburkan tanah hati kita, sehingga kemuliaan yang dijanjikan justru tumbuh lewat proses itu. Sama seperti firman Tuhan yang turun seperti hujan dan salju, selalu menghasilkan sesuatu meski prosesnya tidak kelihatan seketika.

Yang diminta dari kita hanya satu: tidak mengeras. Tidak keras hati atau kerasa kepala.

Membiarkan diri tetap terbuka terhadap tangan yang mengolah, meski caranya kadang terasa seperti luka.

Tanah yang baik adalah tanah yang terus bersedia dicangkul.

Jadi, kamu gimana?

RA

 
 

Gali Nilai Fransiskan, SKP se-KAJ Gelar Aksi Nyata “Laudato Si’” di TPST Bantargebang

JAKARTA – Langkah konkret untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dan mempertegas kepedulian sosial kembali digaungkan. Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Jakarta (KKP KAJ) sukses menyelenggarakan acara bertajuk “Temu Koordinasi dan Inspirasi SKP se-KAJ” pada Sabtu, 4 Juli 2026.

Mengangkat tema besar “Laudato Si’ Bersemi di Paroki, Beraksi di Bantargebang: Menggali Nilai Fransiskan dalam Menjaga Bumi dan Sesama”, kegiatan ini dirancang bukan sekadar sebagai ruang diskusi, melainkan sebuah refleksi yang diwujudkan melalui aksi nyata dari ensiklik Paus Fransiskus tentang lingkungan hidup, Laudato Si’.

Semangat perubahan itu sudah terasa sejak pagi hari. Pukul 08.00 WIB, para peserta yang merupakan penggerak Seksi Keadilan dan Perdamaian (SKP) dari berbagai paroki di KAJ telah berkumpul di Gereja Katedral Jakarta. Menariknya, komitmen ramah lingkungan langsung ditunjukkan sejak awal; seluruh peserta kompak mengenakan pakaian berwarna hijau sebagai simbol kelestarian alam dan membawa tumbler (botol minum) pribadi demi menekan produksi sampah plastik sekali pakai.

Dari Katedral, mereka memulai sebuah perjalanan inspiratif yang sarat akan nilai spiritualitas lingkungan.

Tujuan pertama rombongan langsung mengarah ke jantung persoalan sampah ibu kota: Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang. Di sana, para peserta melakoni dua agenda utama. Aksi diawali dengan sentuhan kemanusiaan melalui Aksi Amal Kasih, di mana mereka membagikan makanan kepada para pemulung yang sehari-hari menggantungkan hidup di tengah gunungan sampah.

Tidak berhenti pada aksi karitatif, para peserta kemudian melakukan studi edukasi dengan mendapatkan penjelasan langsung dari pengelola TPST Bantar Gebang tentang bagaimana proses pengolahan sampah modern di Bantar Gebang, khususnya mengenai operasional Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

Lewat kunjungan ini, peserta belajar bagaimana teknologi dapat diterapkan secara optimal untuk mengurai masalah ekologi secara ramah lingkungan. Proses ini memberikan pelajaran penting dimana ketika sampah dapat dipilah dengan baik maka sebenarnya sampah dapat diolah dengan cepat tanpa lahan yang besar dan sebaliknya tidak terpilah dengan baik semakin lama prosesnya dan tidak sedikit lahan yang dibutuhkan.

Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian KAJ, Romo Agustinus Heri Wibowo, Pr, yang memimpin langsung perjalanan ini menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi dari aksi turun ke lapangan tersebut.

“Melalui acara ini, kami ingin menghidupkan kembali semangat Santo Fransiskus Asisi dalam merawat bumi sebagai rahim bersama dan melayani sesama yang paling rentan. Kita tidak hanya berdiskusi di dalam ruang paroki, tetapi langsung turun ke lapangan untuk melihat realita ekologis kita,” ujar Romo Heri hangat saat memberikan pengantar di awal penyampaian materi studi.

Usai menyerap realitas dan edukasi di Bantar Gebang, perjalanan spiritual dan ekologis berlanjut menuju Paroki Harapan Indah, Bekasi. Di sana, para peserta menuju ke Taman Doa St. Fransiskus Asisi yang berada di lingkungan Gereja Santo Albertus untuk menaikkan doa dengan khusyuk.

Petualangan hari itu ditutup dengan melihat pemanfaatan lahan secara produktif. Para peserta diajak mengunjungi perkebunan yang dikelola secara mandiri oleh umat di sebelah gereja. Di lokasi ini, mereka memanen inspirasi (insight) baru mengenai teknik penanaman sayur dan budidaya ikan lele yang berkelanjutan.

Sebagai penutup rangkaian acara yang berkesan, seluruh peserta bersama-sama menikmati makan siang di area perkebunan lain yang juga hijau dan dikelola apik oleh umat setempat.

Melalui perjumpaan, doa, dan aksi nyata ini, para penggerak SKP se-KAJ diharapkan membawa pulang api semangat Fransiskan untuk disemai kembali di paroki masing-masing—demi bumi yang lebih hijau dan sesama yang lebih sejahtera.

“Pax et Bonum” (Damai dan Kebaikan)

RENUNGAN MINGGU BIASA XIV, 5 Juli 2026

Datanglah kepada-Ku

Minggu Biasa XIV — Tahun A · 5 Juli 2026
Bacaan I: Zakharia 9:9–10 • Mazmur Tanggapan: Mazmur 145:1–2, 8–9, 10–11, 13–14 •
Bacaan II: Roma 8:9, 11–13 • Injil: Matius 11:25–30


Zakharia menubuatkan raja yang datang naik keledai, dan kedatangan itu membawa konsekuensi yang jelas: kereta perang dilenyapkan, panah perang dimusnahkan. Ratusan tahun kemudian, gambaran itu hidup dalam diri Yesus, terutama pada saat Ia ditolak. Kota-kota yang pernah disinggahi-Nya menutup pintu. Tanggapan-Nya justru melebar: “Datanglah kepada-Ku, semua yang berbeban berat.” Penolakan dari sebagian orang malah jadi pintu undangan bagi semua orang.


Di ayat selanjutnya Ia menambahkan, “Pikullah kuk yang Kupasang.” Kuk membuat orang menunduk, diikat jalannya, diatur oleh yang memasangnya. Orang yang tinggi hati akan menolak kuk semacam itu, sebab ia ingin tetap memegang kendali atas jalannya sendiri. Kesediaan dipikul itulah yang melahirkan sikap yang disebut Yesus sebagai lemah lembut dan rendah hati — buah dari mau ditundukkan oleh tangan yang memegang kuk itu.


Inilah yang Paulus maksud ketika ia bicara soal daging dan Roh. Hidup menurut daging adalah hidup yang berusaha mengamankan dirinya sendiri dengan kekuatannya sendiri — logika yang sama dengan kereta perang dan panah yang harus dilenyapkan dari hadapan Sang Raja. Hidup menurut Roh adalah hidup yang membiarkan diri dituntun. Roh yang membuat Kristus mau dipikul oleh kehendak Bapa-Nya kini tinggal dalam diri kita, menuntun kita untuk mau dipikul juga.

jadi, kau gimana?

RA

RENUNGAN MINGGU BIASA XIII, 28 Juni 2026

Bukan dirimu yang disambut

Minggu Biasa XIII Tahun A — 28 Juni 2026

Kita biasa menyambut orang berdasarkan siapa yang datang. Kedatangan uskup ada protokolnya. Pastor agak lebih sederhana. Umat biasa yang datang sendirian, kadang cuma dapat anggukan. Kita sudah terbiasa menyambut berdasarkan kedudukan. Bacaan Minggu ini mengajak kita berhenti sebentar. Yang sebenarnya kita sambut itu apa — orangnya, atau yang dibawanya?

2 Raja-raja 4:8-11.14-16a

Perempuan Sunem awalnya tidak tahu siapa Elisa. Ia hanya melihat seorang nabi yang sering lewat. Setiap kali lewat, ia mampir makan. Tidak ada mukjizat yang diceritakan. Tidak ada kata-kata yang meyakinkan. Hanya kehadiran yang sama, berulang-ulang, sampai perempuan itu sendiri menyimpulkan: ini abdi Allah yang kudus. Pengenalannya butuh waktu, bukan satu kesan saja. Begitu ia mengenali, responsnya pun berubah. Dari sekadar menjamu makan, ia membangun kamar permanen untuk Elisa di rumahnya sendiri.

Matius 10:37-42

Yesus mengajarkan hal serupa, tapi lebih tajam, kepada murid-murid-Nya. Sebelum bicara soal penyambutan, Ia lebih dulu menuntut mereka melepaskan segalanya. Bahkan ikatan keluarga. Bahkan nyawa sendiri. Pesan-Nya jelas: bawalah Aku, bukan dirimu sendiri. Soal diterima atau tidak, itu urusan belakangan. Sebab kata-Nya sendiri, “siapa menyambut kamu, menyambut Aku.” Mulai saat itu, mereka membawa nama-Nya, bukan nama sendiri. Murid tetap disebut “yang kecil” sampai akhir. Yang berubah bukan ukuran diri mereka, tapi nama yang mereka bawa.

Roma 6:3-4.8-11

Itu juga yang dikatakan Rasul Paulus dalam Bacaan Kedua. Lewat baptisan, kita sudah mati dan bangkit bersama Kristus, sekali untuk selamanya. Identitas baru itu bukan hasil usaha kita. Itu sudah selesai dikerjakan-Nya. Tugas kita hanyamenghidupinya.

Maka orang yang menyambut “yang kecil” itu, sebenarnya sedang menyambut Kristus sendiri. Bukan karena yang kecil itu meniadakan dirinya. Ia tetap punya nama, wajah, dan riwayat hidupnya sendiri. Hanya saja yang ingin dikenali bukan lagi dirinya. Menyambut Kristus berarti melihat lebih dalam dari sekadar siapa yang berdiri di depan pintu kita.

— 

Jadi, kamu gimana?

RENUNGAN MINGGU BIASA XII, 21 Juni 2026

 

Yer 20:10-13 | Mzm 69 | Rm 5:12-15 | Mat 10:26-33

 

Minggu lalu kita diingatkan akan satu kebenaran yang mengubah segalanya: Tuhan mengasihi kita lebih dulu — sebelum kita beres, sebelum kita layak, sebelum kita membuktikan diri. Saat kita masih berdosa, saat kita masih jauh, kasih-Nya sudah lebih dulu tiba.

Minggu ini, Paulus melanjutkan: kasih itu datang sebagai kasih karunia yang dilimpahkan. Satu pelanggaran Adam membawa maut bagi semua. Tetapi satu perbuatan kasih Kristus membawa kelimpahan jauh melampaui itu. Kita berangkat sebagai orang yang sudah penuh — penuh karena Dia sudah lebih dulu memberikan diri-Nya.

Dari kelimpahan itulah Yesus mengutus kita. Dan Ia tahu ke mana kita pergi. “Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang. Dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.”

Ini undangan bagi orang yang sudah tahu — sudah tahu bahwa mereka dikasihi, sudah tahu bahwa mereka tidak sendirian, sudah tahu bahwa nyawa mereka ada di tangan yang lebih besar dari tangan manusia mana pun.

Yeremia tahu itu. Ia dikepung dari segala sisi — sahabat-sahabatnya sendiri menunggu ia tersandung, musuh-musuhnya mengintai celah untuk merobohkan dia. Ancamannya nyata. Tetapi di ayat terakhir bacaan hari ini, ia justru memuji Tuhan — karena hatinya merdeka.

Di sinilah inti dari bacaan hari ini. Yesus berkata: jangan takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh. Ada sesuatu dalam diri kita yang tidak bisa dijangkau oleh tekanan dari luar — hati yang hidup dari kasih karunia Allah. Ketakutan yang paling berbahaya adalah ketakutan yang membuat kita bungkam saat harus bicara, diam saat harus berdiri, pura-pura setuju saat hati kita tahu yang benar.

Ketakutan yang pelan-pelan membelenggu kita dari dalam — sampai tubuh kita bebas bergerak ke mana-mana, tetapi hati kita tidak lagi merdeka. Lebih baik menderita di tubuh, tetapi hati tetap merdeka — daripada tubuh bebas, tetapi hati terbelenggu.

Kita diutus sebagai orang yang sudah dilimpahi. Dan dari kelimpahan itu, keberanian sudah ada — menunggu untuk kita percayai.

Jadi, kamu gimana?

RA

Terbaru

Populer