🔥API KARUNIA TUHAN – BAPA KARDINAL MENGAJAR
_Tema:_
”PERTOBATAN EKOLOGIS – Tanggung Jawab Merawat Bumi”
Renungan awal oleh :
🎤 Rm. Edi Mulyono, SJ ( VIKEP KAJ )
⛪ Tempat : GRHA PEMUDA, Lantai 4, Jl. Katedral, Jakarta Pusat
🗓️ Hari/Tanggal : Sabtu / 14 Maret 2026
⏰ Waktu : Pk 09.00 – Pk 12.00 WIB
Biaya pendaftaran (sebagai pengganti konsumsi) ditransfer ke:
BCA 5440343343 atas nama Keuskupan Agung Jakarta Rp. 50.001/ orang (mohon ditambah angka 1)
Harap menuliskan nama peserta di kolom berita transfer
Silahkan klik link pendaftaran di bawah ini ⬇️⬇️⬇️⬇️⬇️
https://akt.kaj.or.id/
Terbuka untuk UMUM (kuota terbatas)
Pendaftaran akan ditutup tanggal 7 Maret 2026 atau jika kuota sudah PENUH terlebih dahulu
Informasi (WA ONLY):
wa.me/+6282297771015 (Ernie)
wa.me/+628111180888 (Pauline)
Terima kasih. Tuhan memberkati Anda sekeluarga. Amin
API KARUNIA TUHAN – PERTOBATAN EKOLOGIS
RENUNGAN MINGGU PRAPASKAH II, 1 Maret 2026
Bacaan Pertama, Kej 12:1-4a
Kejadian 12:1-4
[1] Berfirmanlah Tuhan kepada Abram: ”Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; [2] Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. [3] Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” [4] Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya.
Bacaan Kedua, 2Tim 1:8b-10
Saudaraku terkasih, berkat kekuatan Allah, ikutlah menderita bagi Injil Yesus. [9] Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri. Semuanya ini telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman, dan semua itu sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus. Dengan Injil-Nya Kristus telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.
Bacaan Injil, Mat 17:1-9
Sekali peristiwa, Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. [2] Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. [3] Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. [4] Kata Petrus kepada Yesus: ”Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” [5]
Sementara Petrus berkata begitu, turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: ”Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” [6] Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. [7] Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: ”Berdirilah, jangan takut!” [8] Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri.
[9] Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: ”Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.”
RENUNGAN PADAT
DI BALIK LELAH YANG “SEPADAN”
Pernahkah Anda merasa sangat lelah dalam sebuah pelayanan atau tanggung jawab, lalu tiba-tiba muncul pertanyaan di benak: “Buat apa saya melakukan semua ini? Kenapa saya harus repot-repot?”
Pertanyaan jujur ini juga sempat hinggap di hati saya minggu ini. Sejak Selasa hingga Jumat lalu, saya berada di Bandung untuk menghadiri Rapat Tahunan Ke-52 Signis Indonesia, sebuah asosiasi mandiri para pekerja media Katolik di seluruh Indonesia. Mengenang perjalanan ini, saya teringat dua tahun lalu rapat ini diadakan di Ruteng, tahun lalu di Palembang, dan kali ini di Kota Kembang.
Sebagai perwakilan dari Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), ada sebuah pergolakan batin yang sering muncul: “Apa sebetulnya urgensi KAJ menjadi bagian dari asosiasi ini?” Secara logika manusia, KAJ mungkin tidak “butuh” Signis. KAJ memiliki sumber daya manusia yang mumpuni, dana yang mencukupi, hingga perlengkapan yang sangat lengkap. KAJ bisa berjalan sendiri tanpa harus repot berorganisasi di tingkat nasional.
Namun, melalui permenungan di tengah hiruk-pikuk rapat, saya menyadari bahwa kehadiran KAJ di sana bukan soal “butuh” secara logistik, melainkan soal esensi kita sebagai Gereja.
Belajar “Turun Gunung”
Kehadiran KAJ adalah soal Solidaritas. KAJ tidak ingin menjadi Gereja yang hanya asyik duduk di “puncak gunung” dengan segala privilese yang ada. Seperti Yesus yang mengajak murid-murid-Nya turun dari kemuliaan Gunung Tabor untuk menghadapi realitas di lembah kehidupan, KAJ pun dipanggil untuk bersolidaritas dengan keuskupan-keuskupan lain di Indonesia yang mungkin tidak memiliki kemudahan yang sama.
Kehadiran kita juga soal Jejaring. Kita diingatkan bahwa kita bukan pulau yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari tubuh Gereja Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Merauke, bahkan bagian dari Gereja Universal.
Panggilan untuk “Menderita” demi Injil
Jujur saja, ikut berorganisasi itu melelahkan. Apalagi ketika saya kembali dipercaya mengemban tugas sebagai bendahara asosiasi, mengelola dana yang tidak sedikit dengan tanggung jawab yang besar. Capek, kesal, pusing—itu manusiawi.
Namun, di tengah rasa lelah itu, sabda Tuhan dalam bacaan kedua hari ini (2 Tim 1:8) seolah menyapa langsung: “Berkat kekuatan Allah, ikutlah menderita bagi Injil Kristus.” St. Paulus tidak menjanjikan pelayanan yang selalu mulus. Ia justru mengajak kita untuk berani “menderita”. Pusing, capek, dan waktu yang tersita adalah bentuk nyata dari penderitaan kecil bagi Injil. Pertanyaannya kemudian: Sepadankah penderitaan itu kita pilih dan tekuni?
Jawaban di Puncak Tabor
Bagi saya, jawabannya jelas: SANGAT SEPADAN! Jika saya boleh sedikit “menderita” demi Dia yang hari ini menampakkan kemuliaan-Nya di hadapan Petrus, Yakobus, dan Yohanes; demi Dia yang disebut Bapa sebagai “Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia,” maka segala rasa pening itu tidak ada artinya. Kelelahan kita belum seberapa dibanding penderitaan yang Yesus pilih agar kelak kita semua bisa bersatu dalam kemuliaan-Nya.
Menariknya, di akhir bacaan Injil (Mat 17:9), Yesus meminta para murid untuk tidak menceritakan penglihatan itu kepada siapa pun. Ini adalah sebuah pesan yang sangat dalam: menderita bagi Injil akan terasa sangat manis ketika penderitaan itu kita simpan dalam batin dan biarkan hanya Tuhan yang tahu. Ternyata, ada kemanisan yang luar biasa ketika kita melayani tanpa perlu tepuk tangan dunia, namun cukup dengan kesadaran bahwa Tuhan melihat ketulusan kita.
Refleksi untuk Kita:
Hari ini, apa yang membuatmu merasa lelah dalam hidup atau pelayananmu? Jangan menyerah. Pandanglah Yesus di Gunung Tabor, dan sadarilah bahwa setiap tetes keringatmu demi kasih adalah investasi kemuliaan yang takkan sia-sia. Sebab bagi Dia, semuanya sangat sepadan.
–
Jadi, kamu gimana?
RA
RENUNGAN MINGGU PRAPASKAH I, 22 Februari 2026
Bacaan Pertama, Kej 2:7-9; 3:1-7
Ketika Tuhan Allah menjadikan langit dan bumi, Ia membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.
Selanjutnya Tuhan Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. Lalu Tuhan Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.
Dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh Tuhan Allah ular adalah binatang yang paling cerdik. Ular itu berkata kepada perempuan itu: ”Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: ”Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: ”Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya. [Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.
Bacaan Kedua, Rom 5:12-19
Saudara-saudara, dosa telah masuk ke dalam dunia lantaran satu orang, dan karena dosa itu, masuklah juga maut. Demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat. Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang. Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran. Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup.
Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.
Bacaan Injil, Mat 4:1-11
Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: ”Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Tetapi Yesus menjawab: ”Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: ”Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Yesus berkata kepadanya: ”Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: ”Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” Maka berkatalah Yesus kepadanya: ”Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.
Renungan Padat
Kesetiaan di Tengah Padang Gurun
Rekan-rekan terkasih, gema Rabu Abu masih terasa di dahi kita.
Abu itu bukan sekadar seremoni tahunan.
Itu adalah undangan untuk masuk ke padang gurun rohani selama 40 hari.
Dan di Minggu Prapaskah I ini, sabda Tuhan menantang kita:
Seberapa setia kita sebenarnya kepada Allah?
Apa yang membuat Adam dan Hawa jatuh?
Mereka lupa siapa diri mereka. Seperti kita juga kadang lupa siapa diri kita.
Manusia diciptakan oleh kasih Allah, dibentuk dari debu, hidup karena
napas-Nya.
Martabat manusia terletak pada ketaatan kepada Sang
Pencipta — bukan pada ambisi untuk menjadi seperti Allah.
Dosa pertama lahir ketika manusia menolak keterbatasannya dan ingin
mengambil alih peran Tuhan.
Di taman Eden yang indah, yang serba ada, manusia masih merasa kurang.
Sebaliknya, di padang gurun yang kering dan sunyi, Yesus justru
mengalami kepenuhan.
Yesus memasuki padang gurun dalam kepenuhan Roh Kudus dan
kepenuhan kasih Bapa. “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah
Aku berkenan.”
Ia membiarkan diri-Nya dibimbing oleh Roh. Ketaatan-Nya sebagai Anak
kepada Bapa menjadi sumber kepenuhan-Nya.
Yesus tidak membuktikan diri sebagai Anak Allah dengan mukjizat instan,
sensasi, atau kekuasaan.
Menjadi Anak Allah bukan soal memanipulasi
keadaan demi kenyamanan diri.
Menjadi Anak Allah adalah keberanian untuk tetap setia pada kehendak
Bapa — bahkan ketika lapar, sendirian, dan tidak dimengerti.
Maka Prapaskah bukan sekadar menahan makan.
Ini saatnya masuk ke
padang gurun batin dan bertanya:
Di mana kita menyandarkan hidup?
Pada roti duniawi yang selalu membuat kita merasa kurang? Atau pada
Sabda Allah yang membuat kita cukup?
Karena kepenuhan Roh Kudus dan kasih Allah, beranikah kita berkata
“cukup” kepada dunia?
Sebab hanya orang yang tahu dirinya milik Allah tidak perlu membuktikan
apa pun kepada dunia.
—
Jadi kamu gimana?
RA
DOWNLOAD BAHAN ARDAS – APP 2026
Salam damai sejahtera untuk kita semua!
Aksi Puasa Pembangunan Keuskupan Agung Jakarta (APP-KAJ) Tahun 2026 masih dalam rangkaian pendalaman Ajaran Sosial Gereja sebagai Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta (ARDAS-KAJ) Tahun 2022-2026. Tema APP kita mengikuti tema ARDAS-KAJ 2026, yakni “Keutuhan Alam Ciptaan”. Tema besar ini dijabarkan dalam empat sub-tema sebagai bahan pendalaman dalam empat kali pertemuan APP. Satu sama lain saling terkait, mengikuti dinamika analisis sosial yang sudah kita dalami tahun lalu (2025).
Subtema pertemuan pertama adalah “Harmoni Seluruh Ciptaan”, yang mengajak kita untuk menggali dasar iman kita mengapa kita harus peduli pada alam ciptaan. Allah adalah Pencipta dan Pemilik bumi, “Allah yang telah menjadikan dunia dan segala isinya (Kis.17:24)”. Allah yang memberikan hidup dan nafas segala sesuatu. Kita, manusia, diberi mandat untuk merawat dan mengelolanya untuk kebaikan seluruh ciptaan. Setelah kita menyadari bahwa alam ciptaan adalah anugerah cumacuma dari Allah, kita diajak untuk berefleksi dan mawas diri atas dosa-dosa ekologis yang telah kita buat dan panggilan untuk mengadakan pertobatan ekologis. Kita perlu mengadakan
“Pembaruan dalam Diri” yang menjadi subtema dalam pertemuan kedua. Kita dipanggil untuk memperbaiki relasi kita dengan alam citpaan yang sudah rusak karena dosa-dosa ekologis kita. Sub-tema
“Dipersatukan oleh Keprihatinan yang Sama” kita renungkan dalam pertemuan ketiga. Menciptakan keutuhan alam ciptaan adalah panggilan semua umat manusia. Maka kita perlu mengupayakan terciptanya keprihatinan bersama dan pada gilirannya dapat mendorong kita untuk dapat melakukan gerak bersama dalam menciptakan keutuhan alam ciptaan.
Pada pertemuan keempat dengan subtema “Menciptakan Ekonomi Sirkular”, kita diajak untuk mencari cara-cara yang kreatif dan inovatif untuk menyelamatkan alam ciptaan yang sekaligus dapat mendatangkan keuntungan ekonomis, berdampak sosial dan berkelanjutan. Tim APP-KAJ menyusun panduan pertemuan ini dengan harapan dapat membantu umat dalam mendalami iman dan mengadakan gerakan Aksi Puasa Pembangunan.
Akhirnya kami mengucapkan selamat ber-APP, semoga apa yang kita upayakan dapat berkontribusi untuk menyalamatkan bumi dan saudari-saudara kita yang rentan menjadi korban kerusakan lingkungan, dan dengan demikian Allah dimuliakan. Tuhan memberkati dan menyempurnakan segala upaya baik kita.
Rm. Adrianus Suyadi, SJ
(Ketua Komisi PSE-KAJ)
DOWNLOAD BAHAN LENGKAP ARDAS – APP 2026
RENUNGAN MINGGU BIASA VI, 15 Februari 2026
Bacaan Pertama, Sir 15:15-20
Asal sungguh mau engkau dapat menepati hukum, dan berlaku setiapun dapat kaupilih. Api dan air telah ditaruh oleh Tuhan di hadapanmu, kepada apa yang kaukehendaki dapat kauulurkan tanganmu. Hidup dan mati terletak di depan manusia, apa yang dipilih akan diberikan kepadanya. Sungguh besarlah kebijaksanaan Tuhan, Ia adalah kuat dalam kekuasaan-Nya dan melihat segala-galanya. Mata Tuhan tertuju kepada orang yang takut kepada-Nya, dan segenap pekerjaan manusia Ia kenal. Tuhan tidak menyuruh orang menjadi fasik, dan tidak memberi izin kepada siapapun untuk berdosa.
Bacaan Kedua, 1Kor 2:6-10
Saudara-saudara, kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan. Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia. Tetapi seperti ada tertulis: ”Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” Semua itu telah menyatakan Allah Karena kepada kita berkat Roh-Nya, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.”
Bacaan Injil, Mat 5:17-37
Dalam kotbah di bukit, Yesus mengajar murid-murid-Nya, kata-Nya, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.
Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka. Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.
Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”
Renungan Padat
KEBEBASAN MANUSIA DI HADAPAN ALLAH
Rekan-rekan pembaca setia renungan mingguan website KAJ. Saya merasa, tiga bacaan minggu berbicara dalam satu benang merah yang sama: Kebebasan manusia di hadapan Allah.
Kitab Sirakh menegaskan bahwa di hadapan manusia terbentang hidup dan mati. Tuhan memberikan kebebasan yang nyata. Apa yang dipilih, itulah yang akan diterima. Kebebasan itu sungguh serius, bahkan dengan risiko bahwa manusia dapat memilih jalan yang salah. Namun Tuhan tidak pernah menyuruh orang menjadi fasik dan tidak pernah memberi izin untuk berbuat dosa. Manusia bebas, tetapi kebebasannya tidak pernah dilepaskan dari tanggung jawab.
Dalam bacaan kedua, Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus memperlihatkan sisi lain dari kebebasan itu. Allah tidak membiarkan manusia memilih dalam kegelapan. Ia menganugerahkan hikmat—hikmat yang telah disediakan sebelum dunia dijadikan. Hikmat itu bukan hikmat dunia, melainkan terang yang menuntun manusia kepada kemuliaan. Kebebasan manusia selalu disertai tawaran kasih dan kebijaksanaan dari Allah. Jadi Allah memang tidak mengontrol kita harus ini harus itu. Dia memberi kebebasan untuk memilih, tapi tidak dibiarkan memilih dalam gelap. Allah tetap memberikan kebijaksanaan-Nya sebagai terang.
—
Injil kemudian membawa kita lebih dalam lagi. Yesus tidak meniadakan Hukum Taurat, tetapi menggenapinya dengan menyentuh akar hati manusia. Larangan membunuh ditarik sampai pada amarah. Larangan berzinah sampai pada pandangan dan keinginan batin. Larangan bersumpah palsu sampai pada ketidakselarasan antara hati dan perkataan.
Yesus memurnikan kebebasan manusia dari dalam, supaya pilihan yang diambil benar-benar lahir dari hati yang utuh dan bersih. Bukan hasil dari produk ketaatan buta, “karena Tuhan memerintah begitu, maka saya lakukan” – tapi produk dari hasil pertimbangan akal budi dan hati yang matang, sehingga dalam kebebasan batin aku memilih apa yang baik.
—
Mengenai amarah. Saya tahu bahwa amarah hanya akan membuat hati saya tidak damai. Ia tidak menyelesaikan persoalan, justru memperpanjang luka. Maka saya memilih untuk tidak memeliharanya. Bukan karena saya tidak bisa marah, tetapi karena saya sadar konsekuensinya. Saya memilih damai, meskipun itu menuntut kerendahan hati.
—
Mengenai perzinahan. Saya sadar ada daya tarik antara laki-laki dan perempuan. Itu sesuatu yang manusiawi dan secara biologis memang ada. Ketertarikan bukan dosa. Namun saya tetap punya kebebasan untuk menentukan arah dari ketertarikan itu. Saya bisa mengikuti dorongan tersebut, atau saya bisa menahannya. Di situ saya mempertimbangkan konsekuensi dari setiap pilihan. Mana yang membawa kebaikan? Mana yang merusak? Maka saya memilih memutus akses terhadap segala hal yang dapat menyeret saya pada pilihan yang lebih buruk.
—
Mengenai sumpah dan kebenaran. Jika sesuatu memang benar, saya cukup mengatakannya benar. Jika tidak, saya katakan tidak. Saya tidak perlu membungkusnya dengan kata-kata tambahan. Saya tidak ingin membohongi hati saya sendiri. Lebih baik saya kehilangan penerimaan orang lain, daripada kehilangan kejujuran batin dan diri saya sendiri.
—
Pada akhirnya, menjadi sempurna bukan berarti tanpa kelemahan. Menjadi sempurna berarti hidup dalam integritas—luar dan dalam menyatu. Tuhan memberi kebebasan. Tuhan memberi hikmat. Kristus memurnikan hati. Tinggal manusia memilih jalan mana yang hendak ditempuh.
—
Jadi, kamu gimana?
RA
[DOWNLOAD BAHAN] Tahun Yubileum Khusus St. Fransiskus Assisi dan Novena Pertobatan Ekologis Keuskupan Agung Jakarta
Dewan Karya Pastoral KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA mengeluarkan bahan-bahan
- PANDUAN YUBILEUM 2026 ST. FRANSISKUS ASSISI
- RITUS TAHUN YUBILEUM 2026 ST. FRANSISKUS ASSISI
- NOVENA PERTOBATAN EKOLOGIS
Secara Khusus Novena Pertobatan Ekologis berisi:
(1) Inspirasi renungan sesuai bacaan Injil hari Minggu saat itu dan ajaran / teladan iman St. Fransiskus Assisi
(2) Doa Mohon Perdamaian – Paus Leo XIV
(3) Doa Santo Yohanes Paulus II di makam St. Fransiskus Assisi
(4) Doa Novena I s/d IX
(5) Rekomendasi aksi nyata sebagai perwujudan pertobatan.
Ke-3 doa di atas didaraskan oleh umat secara bersama setelah penyambutan Komuni Kudus
DOWNLOAD BAHAN LENGKAP
TAHUN YUBILEUM KHUSUS ST. FRANSISKUS ASSISI
KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA
RENUNGAN MINGGU BIASA V, 8 Februari 2026
Bacaan Pertama, Yes 58:7-10
Beginilah firman Tuhan Allah, “Aku menghendaki supaya engkau membagi-bagikan rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!
Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu. Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan Tuhan akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku!
Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.”
Bacaan Kedua, 1Kor 2:1-5
Saudara-saudara, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.”
Bacaan Injil, Mat 5:13-16
Dalam kotbah di bukit, Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”
RENUNGAN PADAT
Kamu Adalah Garam dan Terang
Minggu ini kita diajak Yesus naik kelas.
Yesus berbicara dengan sangat jelas.
Ia tidak mengajak murid-murid-Nya berteori,
tetapi mengingatkan mereka akan siapa diri mereka sebenarnya.
“Kamu adalah garam dunia.
Kamu adalah terang dunia.”
Kata-kata ini diucapkan kepada orang-orang sederhana:
yang sakit, yang lemah, yang datang dengan banyak keterbatasan.
Mereka yang sering mengganggap diri hanya sebagai obyek kasihan.
Yang merasa diri tidak bisa relevan dengan dunia karena banyak keterbatasan.
Tetapi,
Yesus tidak melihat mereka sebagai objek belas kasihan.
Ia menyapa mereka sebagai subjek kebaikan Allah.
Minggu sebelumnya, Yesus menyatakan bahwa mereka berbahagia
karena Allah hadir dan melihat hidup mereka.
Kini Yesus melangkah lebih jauh:
Ia mengembalikan identitas manusia sebagaimana dikehendaki sejak awal ia diciptakan.
Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.
Maka panggilannya bukan hanya untuk menerima kasih,
tetapi juga mewartakan kasih itu melalui hidupnya.
Nabi Yesaya membantu kita memahami hal ini secara konkret.
Terang tidak lahir dari kesalehan yang berhenti pada diri sendiri.
Terang merekah ketika seseorang mau berbagi roti,
memberi pakaian,
dan menahan diri dari kata-kata yang melukai.
Terang Allah tampak
ketika manusia bersikap seperti Allah:
murah hati, peduli, dan memulihkan.
Rasul Paulus menyadari panggilan ini dengan rendah hati.
Ia datang kepada jemaat Korintus tanpa kebanggaan diri,
tanpa keindahan kata-kata.
Ia hanya membawa Yesus Kristus yang disalibkan.
Paulus tahu,
iman tidak bertumpu pada kekuatan manusia,
melainkan pada daya kerja Allah.
Menjadi garam dan terang
bukan soal kemampuan yang sempurna.
Bukan pula tentang tampil menonjol.
Melainkan tentang kesediaan
untuk membiarkan Allah berkarya melalui hidup yang sederhana.
Seperti matahari yang bersinar bukan untuk dirinya sendiri,
demikian pula hidup orang beriman.
Terang baru sungguh menjadi terang
ketika ia dibagikan.
Kiranya Sabda hari ini
menolong kita menyadari kembali siapa diri kita di hadapan Allah:
dipanggil, diutus,
dan diandalkan untuk menghadirkan kebaikan-Nya di tengah dunia.
—
Jadi, kamu gimana?
RA
Acara Serah Terima Pengurus Komunitas Lansia Simeon Hana KAJ
MENELADAN YESUS DALAM MENGHADAPI BERBAGAI SITUASI ORGANISASI
Dengan berakhirnya masa bakti kepengurusan Komunitas Lansia Simeon Hana Keuskupan Agung Jakarta, pada Sabtu, 2 Januari 2026 bertempat di aula Gereja St. Theresia Jakarta diselenggarakan acara Serah Terima Pengurus masa bakti 2023-2026 kepada Pengurus masa bakti 2026-2029.
Acara ini dihadiri oleh RD. Susilo Wijoyo selaku Romo Moderator Komlan Simeon Hana KAJ dan Koordinator Simeon Hana dari 9 Dekenat dan para pengurus Simeon Hana dari 63 Paroki se KAJ.
Diawali dengan Serah Terima Pengurus masa bakti 2023-2026 kepada Pengurus masa bakti 2026-2029. Pada sesi ini dilakukan pembacaan dan penyerahan SK Pemberhentian Ketua Umum yang lama Tarcisius Rustiadji oleh Romo Susilo, serta penyerahan vandel, stempel dan rekap Keuangan serta buku rekening sebagai simbol serah terima jabatan.

Serah Terima jabatan
Dilanjutkan dengan pembacaan SK Pembebasan Tugas oleh RD. Susilo Wijoyo untuk Tarcisius Rustiadji sebagai Ketua Umum periode 2023-2026 beserta jajaran pengurusnya. Dengan pembacaan SK Pembebasan Tugas tersebut, maka secara resmi roda estafet kepengurusan Komunitas Lansia Simeon Hana KAJ diserahkan kepada pengurus baru, dengan Ketua Umum Laurensius Irwan untuk periode 2026-2029.
Di dalam sambutannya, Tarcisius Rustiadji menyampaikan ucapan terima kasih atas segala kerja sama yang telah terjalan dengan baik selama kepengurusan 2023-2026. Beliau berharap agar segala hal baik yang telah tercapai dapat dipertahankan, serta untuk kendala dan kekurangan yang ada dapat diterima dengan hati terbuka.
Sedangkan Ketua Umum terpilih yang baru untuk periode 2026-2029 Laurensius Irwan dalam sambutannya meyampaikan harapan agar para pengurus yang telah bersedia berkarya melayani Komunitas Lansia Simeon Hana KAJ dapat berkomitmen dan bekerja sama dalam semangat penuh kasih.
Adapun jajaran pengurus baru merupakan perwakilan dari dekenat-dekenat se KAJ. Sehingga diharapkan para pengurus tersebut sekaligus dapat menjadi perpanjangan tangan informasi dan pendampingan untuk program-program agar sampai ke anggota Komunitas Lansia Simoen Hana yang ada di paroki-paroki se KAJ.

Dalam kesempatan ini, Romo Susilo juga menyampaikan pesan kepada anggota Komunitas Lansia Simeon Hana untuk selalu mendoakan para imam dalam tugas penggembalaan mereka. Banyak tantangan yang dihadapi Imam pada masa kini terutama kekuatan media sosial yang dapat berdampak buruk bagi tugas pelayanan para imam. Maka butuh kekuatan doa untuk memagari semua itu.
Homili Uskup Agung Jakarta
Sebagai puncak acara yaitu Misa Syukur yang dipimpin oleh Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo dan konselebran Romo Benny Beatus Wetty, SJ dengan melantik Pengurus baru periode 2026-2029 berjumlah 34 orang, berasal dari perwakilan seluruh dekenat se KAJ.
Dalam homilinya, Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo mengutarakan : “Perlunya kita untuk meneladan Yesus dalam menghadapi berbagai situasi organisasi”. Pesan pertama : Berdoa Doa Yesus berupa menyepi, masuk dalam suasana bathin yang sunyi untuk berdoa. “Neng” dalam Bahasa Jawa “Meneng”. Tanpa diam, suasana bathin kita seperti air keruh.
Bagaimana supaya air keruh menjadi bening? Endapan itu kalau dibiarkan maka akan ada air bening disana. Yesus menyingkir supaya bisa diam agar bathin jadi bening. Bisa melihat lebih jauh dari yang kelihatan. Itulah cara melihat arah hidup kita yang adalah Allah sendiri. “Ning” dari kata “Bening” yang artinya jernih.“Nung” menemukan hidup yang sejati dan benar.
Pesan kedua : mendoakan keluarga, khususnya bagi keluarga yg tidak mampu menghadapi kesulitan hidup. Juga mendoakan gereja agak mampu memilih tujuan yang benar menyempatkan waktu masuk dalam keheningan, seperti teladan Yesus.

Susunan Pengurus Simeon Hana KAJ
Adapun kepengurusan periode 2026-2029 dibantu anggota pengurus sebagai berikut :
- Ketua umum : Laurensius Irwan
- Ketua I : CH Titik Laksamanawati
- Ketua II : Vincentius Lauw
- Ketua III : Jeanny Ocsiana
- Sekertaris umum : Esther Nurima
- Bendahara umum : Jimmy Wijaya
- Bid. Moneter : Sebastian Ong
- Bid. Pelayanan : Theresia Nirmaya
- Bid Humas : Octavianus Brata Randa
- Bid Kesehatan : dr. Ivonne Gunawan
- Bid. Pemberdayaan : Suradin Sujono
- Bid. Umum : Miliana Widjaja
Selamat bertugas untuk Pengurus Simeon Hana KAJ periode 2026-2029, semoga dapat mendampingi para lansia se Keuskupan Agung Jakarta.
Penulis :
Efi Darliana Tentrawati
Atiek Margono



















