
Minggu Biasa XV Tahun A
“Tanah yang Sedang Diolah”
(Yes 55:10-11; Rm 8:18-23; Mat 13:1-23)
Perumpamaan tentang penabur dalam Injil hari ini ini sering dibaca sebagai ujian: kita ini termasuk tanah yang mana.
Tanah jalan, tanah berbatu, tanah berduri, atau tanah baik. Tapi ada hal yang gampang terlewat.
Tanah baik itu bukan tanah yang dari sananya sudah subur. Tanah baik adalah hasil dari proses yang panjang. Ia dicangkul, dibuka, dibiarkan matahari masuk sampai ke akar-akarnya, sesekali diistirahatkan, dan diolah oleh organisme-organisme kecil yang bekerja diam-diam di dalamnya. Kesuburan selalu lahir dari proses, bukan dari keadaan awal.
Iman kita berjalan dengan cara yang sama. Kesuburan hati tidak datang dari usaha kita membuat diri sendiri jadi baik. Ia datang dari kesediaan membiarkan diri diolah — oleh pengalaman yang menyakitkan sekalipun, oleh orang-orang yang kehadirannya sepertinya biasa saja, oleh percakapan kecil yang tidak terasa istimewa saat itu terjadi.
Saya pernah menemani seseorang yang bertahun-tahun merasa imannya tidak berkembang, sampai ia sadar bahwa justru masa-masa sepi dan sulit itulah yang sedang membentuknya, pelan-pelan, tanpa ia rencanakan.
Inilah yang dimaksud Paulus ketika berbicara tentang penderitaan yang sekarang ini. Penderitaan menjadi bagian dari cara Allah mencangkul, membuka, dan menyuburkan tanah hati kita, sehingga kemuliaan yang dijanjikan justru tumbuh lewat proses itu. Sama seperti firman Tuhan yang turun seperti hujan dan salju, selalu menghasilkan sesuatu meski prosesnya tidak kelihatan seketika.
Yang diminta dari kita hanya satu: tidak mengeras. Tidak keras hati atau kerasa kepala.
Membiarkan diri tetap terbuka terhadap tangan yang mengolah, meski caranya kadang terasa seperti luka.
Tanah yang baik adalah tanah yang terus bersedia dicangkul.
—
Jadi, kamu gimana?
RA









