
Datanglah kepada-Ku
Minggu Biasa XIV — Tahun A · 5 Juli 2026
Bacaan I: Zakharia 9:9–10 • Mazmur Tanggapan: Mazmur 145:1–2, 8–9, 10–11, 13–14 •
Bacaan II: Roma 8:9, 11–13 • Injil: Matius 11:25–30
Zakharia menubuatkan raja yang datang naik keledai, dan kedatangan itu membawa konsekuensi yang jelas: kereta perang dilenyapkan, panah perang dimusnahkan. Ratusan tahun kemudian, gambaran itu hidup dalam diri Yesus, terutama pada saat Ia ditolak. Kota-kota yang pernah disinggahi-Nya menutup pintu. Tanggapan-Nya justru melebar: “Datanglah kepada-Ku, semua yang berbeban berat.” Penolakan dari sebagian orang malah jadi pintu undangan bagi semua orang.
—
Di ayat selanjutnya Ia menambahkan, “Pikullah kuk yang Kupasang.” Kuk membuat orang menunduk, diikat jalannya, diatur oleh yang memasangnya. Orang yang tinggi hati akan menolak kuk semacam itu, sebab ia ingin tetap memegang kendali atas jalannya sendiri. Kesediaan dipikul itulah yang melahirkan sikap yang disebut Yesus sebagai lemah lembut dan rendah hati — buah dari mau ditundukkan oleh tangan yang memegang kuk itu.
—
Inilah yang Paulus maksud ketika ia bicara soal daging dan Roh. Hidup menurut daging adalah hidup yang berusaha mengamankan dirinya sendiri dengan kekuatannya sendiri — logika yang sama dengan kereta perang dan panah yang harus dilenyapkan dari hadapan Sang Raja. Hidup menurut Roh adalah hidup yang membiarkan diri dituntun. Roh yang membuat Kristus mau dipikul oleh kehendak Bapa-Nya kini tinggal dalam diri kita, menuntun kita untuk mau dipikul juga.
—
jadi, kau gimana?
RA









