Paus Fransiskus: “Saya menangis melihat orang Kristen disalib di Suriah”

1433
Paus Fransiskus: “Saya menangis melihat orang Kristen disalib di Suriah”
Silahkan memberi Rating!


Paus Fransiskus, Saya menangis melihat orang Kristen di Salib, paus menangis, perang di suriahLihat Artikel Terbaru tentang Doa Paus bagi Penderitaan Umat Kristen Katolik Syria di Mosul, Irak karena kekejaman ISIS.

Hari ini masih saja ada orang yang membunuh dan menganiaya sesamanya atas nama Allah dan itu sangat menyedihkan. Paus Fransiskus menangisi orang Kristen yang disalibkan di Suriah. Dia mengingatkan keadaan sangat buruk yang dialami orang Kristen telah terjadi di negara-negara bukan Kristen selama Misa di Casa Santa Marta, demikian diberitakan pada Jumat (2/5).

Dia mengomentari bacaan dari Kisah Para Rasul (Kis 5:34-42). Dalam bacaan itu disebutkan murid-murid Yesus yang dicambuki Dewan Sanhedrin Yahudi. Murid-murid Yesus dipaksa untuk tidak mewartakan Yesus. “Mereka iri pada Yesus dan tidak bisa menerima orang-orang mengikuti-Nya, kata Paus Francis. “Mereka tidak bisa mentolerir kelemahlembutan Yesus , tidak bisa mentolerir kelemahlembutan dari Injil , dan tidak bisa mentolerir cinta . “

Keadaan serupa juga dialami orang Kristen kini di banyak negara-negara bukan Kristen dan negara-negara sekular. Mereka  dapat dimasukkan dalam penjara dan bahkan dihukum mati hanya karena memiliki Injil atau mengenakan salib.

“Saya menangis ketika saya melihat laporan berita tentang umat Kristen yang disalibkan di negara tertentu yang bukan Kristen. Hingga hari ini masih ada orang-orang yang membunuh dan menganiaya, dalam nama Tuhan.”

“Di lain pihak kita umat Kristiani sebenarnya justru semakin teguh beriman ketika mengalami penderitaan. Kita tahu bahwa banyak orang seperti para rasul yang bersukacita karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan dalam nama Kristus,” kata Paus Fransiskus, seperti dilansir Catholicherald.Co.Uk tentang peristiwa penyaliban yang dilakukan pemberontak Suriah.

Lebih lanjut Paus Francis mengatakan bahwa tidak seperti pemerintahan Sanhedrin , Yesus tidak khawatir tentang berapa banyak orang yang mengikutinya, melainkan “….Dia berbicara , Dia berkhotbah , Dia mencintai , menyertai dan berjalan dengan semua orang, dengan lemah lembut dan rendah hati. Dia mewartakan cinta, menghibur yang sedih, menyembuhkan yang sakit, membangkitkan yang mati, mengusir roh jahat dan memberikan pengampunan dosa”.