SURAT KELUARGA MARET 2019: SELAMAT DATANG PRAPASKAH

495
SURAT KELUARGA MARET 2019: SELAMAT DATANG PRAPASKAH

Berganti hari belum tentu berganti hati

Sebab semua tenggelam dalam karya mulia

Mana yang lebih mulia: hati atau karya?

Barangkali keduanya punya makna

Prapaskah mengingatkan kita

Untuk melihat hati nurani

Tempat kebenaran dinyatakan dengan jujur

Dan dosa dirayu untuk ditinggalkan

Tidak makan dan berhenti senang

Adalah satu cara untuk bersentuhan

Dengan Allah yang menghargai perjuangan

Perjuanganku dan perjuanganmu sesamaku

Mari mengambil hati Tuhan untuk meraja

Di dalam kehidupan yang nyata

Selama kebenaran tak beranjak tidur

Ia akan berjumpa dengan Pemilik Kehidupan Mulia

Selamat memasuki masa prapaskah. Masa penuh hikmat bagi orang yang percaya kepada Yesus Sang Mesias. Masa prapaskah mengajak kita melihat kembali siapa diri kita sebenarnya sebagai ciptaan yang diselamatkan berkat kasih setia-Nya yang kekal. Kepercayaan akan Allah yang baik memampukan kita mengalami prapaskah secara mendalam.

Keluarga-keluarga Katolik terkasih, menangani pastoral keluarga adalah kegembiraan saya sebagai imam Misionaris Keluarga Kudus (MSF). Saya melihat banyak keluarga membutuhkan uluran perhatian saya dan para imam pada umumnya. Keluarga memang vital dan mendasar untuk diperhatikan. Meskipun sebenarnya pokok pemikiran saya adalah bagaimana setiap keluarga dapat menggenggam pertobatan sebagai langkah maju hidup dalam keluarganya masing-masing.

Pertobatan dari suatu perselingkuhan, adalah hal yang penting. Perselingkuhan, meskipun banyak dilakukan, adalah hal yang kotor dan sangat diharamkan dalam Gereja. Sering sikap diam para imam dan saudara-saudari seiman membuat dosa ini menjadi mekar tanpa bisa dihentikan. Seolah-olah orang sedang membuat budaya berselingkuh sebagai hal biasa yang boleh saja dilakukan karena semua orang punya kebutuhan biologis. Di mana letak kesetiaan? Di mana letak pengendalian diri? Apalagi kalau kita bertanya letak cinta?

Kesabaran di kalangan orangtua telah kabur oleh ambisi menjadikan anak-anak menjadi orang-orang super, “pinter”, anak global, dan menampakkan prestise berkelas yang membanggakan orangtuanya. Apakah Anda lupa bahwa Pendidikan sepenuhnya ada di tangan orangtua? Saya percaya, sebagai orangtua, Anda sebagai bapak dan ibu mempunyai peran tak tergantikan. Kesabaran yang berlebihan, ketidaksabaran yang parah, fasilitas yang tak terbatas, kadang melumpuhkan daya juang anak dan kesadaran mereka menghadapi dunia nyata yang kenyataannya penuh perjuangan.

Masalah keuangan sering menjadi pemicu pertengkaran dan akhirnya keputusan pisah menjadi jalan “paling bijaksana” yang ditempuh karena sudah hilang harapan untuk menyelesaikannya. Cinta berubah menjadi benci. Pelayanan dan keramahan pasangan pun bisa menjadi keganjilan yang merubah kesatuan menjadi individualime dalam keluarga. Kita seperti orang yang salah mendapat karunia kemakmuran, karena semakin makmur, semakin banyak masalah datang melanda.

Mengapakah orang-orang muda berkurang imannya kepada Allah? Mengapa berbicara tentang Allah jadi sebuah kisah masa lalu yang kurang berguna karena dianggap fiksi dan bahkan candu bagi orang-orang yang merasa cerdik cendekia? Kepercayaan kepada kemampuan diri sendiri membuat keluarga dibangun dari orang-orang yang rasional dan cerdas akal, tetapi tertidur mata imannya. Sampai saat ini, “Iman adalah melihat segala sesuatu yang tidak kelihatan. Ibrani 11:1 mengatakan, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”

Jangan mudah memutuskan perceraian. Jangan mudah memukul, jangan mengabaikan keluarga dengan kesibukan dan gadget. Buatlah segala sesuatu menyenangkan hati orang-orang penting di dalam keluarga kita. Perhatian kita sepenuhnya adalah untuk mereka, bukan orang lain. Lakukan dengan tekun dan tanpa bersungut-sungut. Roma 2:4mengatakan, “Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?” 

Dasar segala perjuangan kita adalah pemeliharaan Tuhan. Kita adalah ciptaan yang diselamatkan. Jangan mau dibawa kepada dosa lagi. Pertobatan menjadi jawaban kita atas kasih Allah yang mengulurkan tangan membantu kita menemukan surga sederhana di dunia ini dalam bentuk mulia: keluarga.

 

Selamat memasuki masa Prapaskah

Rm. Alexander Erwin Santoso MSF