PEMILUKADA Serentak 2015: Maju Rame-Rame dan Kalah Rame-Rame Atau Berkonsolidasi memilih hanya Calon Terbaik dan Menang

162
PEMILUKADA Serentak 2015: Maju Rame-Rame dan Kalah Rame-Rame Atau Berkonsolidasi memilih hanya Calon Terbaik dan Menang
Silahkan memberi Rating!

IMG_20150319_1923011

Lewat Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) menyapa dan memberi spiritualitas kepada para politisi dan pejabat publik. “Langkah ini bertujuan untuk  mengkosolidasi kader-kader Katolik dalam merespons berbagai perkembangan sosial dan politik di negara kita,” ungkap Rm. Prapto, sekretaris eksekutif Komisi Kerawam KWI. Pada 20 Maret 2015 Komisi Kerawam melaksanakan sarasehan untuk menanggapi keputusan pemerintah untuk menyelenggarakan pemilihan kepala daerah provinsi, kabupaten dan kota secara serentak mulai Desember 2015 ini. Rm. Prapto menegaskan Gereja harus hadir dan terlibat secara relevan dan signifikan dalam setiap gerak sosial politik di Indonesia melalui para kadernya (awam). Untuk itu Komisi Kerawam telah membenahi diri dengan dukungan para ahli guna mendukung para awam yang aktif di politik dan pejabat publik.

Rm. Prapto menegaskan bahwa Pemilu Kepala Daerah yang akan berlangsung serentak mulai 2015 harus menjadi perhatian Gereja. “Sebab disini ada peluang untuk mengorbitkan kader-kader terbaik Katolik menjadi pejabat publik. Tujuannya agar segera tercipta komunitas yang baik (bonum commune) serta sarana memuliakan politik yaitu menjauhkan praktek-praktek transaksional. Ini merupakan tugas sekaligus panggilan perutusan umat. Pada saat yang sama hirarki ingin menghilangkan niat sesat para kader. Sehingga Gereja akan mempersembahkan dan menghadirkan para kader yang terbaik bagi bangsa dan negara kita untuk mengemban jabatan politik publik,” tandasnya. Rm. Prapto kemudian mengakui bahwa itu bukan hal mudah. Karena akan ada tantangan dari masing-masing individu yang ingin mencalonkan diri. “Kita tinggal pilih maju rame-rame dan kalah rame-rame. Atau kita berkonsolidasi memilih calon terbaik dan menang,” tandas Rm. Prapto.

Dalam proses konsolidasi inilah Komisi Kerawam KWI akan rutin mengadakan pertemuan dan dialog. Sehingga tujuan untuk memperbanyak kader Katolik yang baik menduduki jabatan publik dapat tercapai.

Dalam sarasehan ini tampil juga DR. Tommy Legowo sebagai pembicara. Tommy mengingatkan bahwa PEMILUKADA serentak 2015 ini akan bersifat habis-habisan. “Sebab pemilihannya berlangsung hanya satu putaran. Pasangan siapa pemegang suara terbanyak dialah pemenang meskipun perbedaan suara hanya satu suara. Artinya satu suara Anda sangat menentukan bagi nasib kandidat,” tegas Tommy. Karena itu, kita sebagai umat harus kuat, cerdas dan bertanggungjawab dalam pelaksanaan Pemilukada. Kuat berarti harus peduli dan mau terlibat. Cerdas berarti mampu mengorganisasi kepentingan kita. Bertanggungjawab artinya kader yang memiliki kemampuan harus bersedia berpatisipasi untuk mengelola negara ini.

“Ini peluang besar bagi siapapun untuk bersaing meraih jabatan publik. Meskipun disana-sini masih ada soft discrimination (diskriminasi lunak). Misalnya untuk jadi presiden harus orang Jawa dengan agama mayoritas. Tetapi fenomena semakin menunjukkan bahwa ada penerimaan public terhadap pemimpin yang humanis,” tandas Tommy.

Tren inilah yang bisa dimanfaatkan oleh kaum minoritas. “Artinya publik telah mulai mengakomodasi para kandidat pejabat yang benar-benar membela kepentingan rakyat tanpa mempedulikan SARA,” tandas Tommy. Tommy mencontohkan pemenangan 4 orang kader Katolik menjadi anggota DPRD DKI Jaya dari Jakarta Barat. “Kalau secara statistik mereka bukan lagi hanya dipercaya umat katolik tetapi publik,” tandas Tommy.

Menurut Tommy untuk tahap pertama Pemilukada 2015 akan berlangsung di 204 daerah yang terdiri dari 8 provinsi, 170 kabupaten dan 26 kota. “Penjaringan calon akan mulai 20 Mei dan Pemilukada-nya akan diselenggarakan 9 Desember 2015. Untuk inilah umat Katolik perlu melakukan konsolidasi strategis Pilkada serentak. Orang katolik harus terlibat karena ini adalah tugas perutusan umat yang memiliki makna spiritualitas pelibatan Kristus. Inilah gerakan bersama kita dan harus solid. Kita harapkan ormas katolik seperti PMKRI, WKRI dan Pemuda Katolik harus semakin mampu melahirkan kader-kader bangsa yang mumpuni dan dipercaya publik. Untuk itu kita perlu menerjemahkan ayat-ayat Kitab Suci menjadi benar-benar berisi spiritualitas iman aktual bagi kader-kader politik Katolik,” ungkap Tommy.

Sonar Sihombing

Anggota Pengurus Komisi Komsos KAJ