Gua Maria Hadir di Rutan Cipinang Jakarta

279
Gua Maria Hadir di Rutan Cipinang Jakarta
Silahkan memberi Rating!

Di tengah terik mentari dan kencangnya tiupan angin, 6 Agustus 2014 Mgr. Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta memberkati Gua Maria di Rutan Kelas 1 Cipinang Jakarta. Demikian kencangnya angin sehingga lilin altar pun padam semua. “Tidak perlu harus dinyalakan kembali lilin itu karena pasti akan mati lagi. Yang penting mari kita hidupkan hati kita masing-masing merayakan pemberkatan Goa Maria Pengantara Segala Rahmat ini,” ajak Mgr. Suharyo sebelum meneruskan kotbahnya yang didampingi oleh Rm. Yohannes Subagio (mantan Vikjen KAJ), Rm. Antonius Gunardi MSF dan Rm. Antonius Suyata MSF.

Mgr. Suharyo mengingatkan kita bahwa dalam Pesta Penampakan Kemuliaan Tuhan Yesus Kristus di Gunung Tabor, Yesus berpesan agar Petrus dan kawan-kawannya tidak menceritakan kejadian itu. Sebab kemulian yang mereka lihat itu belum sempurna. Justru kemuliaan itu sempurna setelah penyaliban Yesus. Tampaknya paradoksal tetapi sebenarnya tidak. Kita menganggap paradox karena hal mulia itu kita bayangkan dan artikan sebagai sesuatu yang luar biasa. Kemuliaan Tuhan itu justru tampak juga dalam kelemahan, kekalahan dan penderitaan. Kemuliaan itulah yang disaksikan Petrus dan kawan-kawan hingga di kayu salib, penderitaan yang begitu hebat tetapi yang menampakkan kasih yang begitu sempurna.

Kasih sempurna seperti itu pula yang pernah diungkapkan oleh Beata Theresia Benedicta dari Salib. Gadis berdarah Jahudi – Jerman ini sejak 14 thn telah memutuskan untuk tidak percaya lagi pada Tuhan dan tidak mau berdoa lagi. Padahal dia lahir dari keluarga yang sangat agamis agama Yahudi. Setelah dewasa dia menjadi perawat di PD I dan mahasiswa ilmu filsafat. Pada suatu hari dia melayat temannya yang baru kehilangan suami karena sakit. Dalam catatan harian dia menulis :”Saya baru melihat ketabahan kekuatan dan ketabahan ilahi dalam diri temannya yang kehilangan suami.” Pada saat itu juga keputusannya yang dia buat pada usia 14 thn dia ditinggalkan. Dia menjadi Katolik dan masuk ke pertapaan Karmel. Theresia menjadi korban perang karena sebagai orang Yahudi dia diseret dan ikut dibantai. Dicatatan hariannya yang lain dia tuliskan :”Kekuatan ilahi dan ketabahan ilahi dalam diri teman saya itu dianugerahkan Kristus bagi orang-orang yang mengalami salib agar mampu disatukan dengan salib Kristus sendiri.”

P1080165

Mgr. Suharyo menandaskan untuk bisa mengalami kemulian Allah, tidak perlu dicari jauh, tidak perlu ke Gunung Kawi atau ke Gunung Tabor. Kalau kita punya kepekaan hati maka akan sangat mudah kita dapatkan di kehidupan sehari-hari. Bahkan St. Irenius mengatakan :”Kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup!” Jadi kemulian Alllah dapat kita lihat dan harus kita lihat di dalam diri saudara-i kita siapa pun dia dan dalam keadaan apapun dia. Kita adalah cermin kemuliaan Tuhan. Seperti cermin ada yang baru, ada yang kabur dan bahkan ada yang sudah tidak memberikan cermin. Tugas kita adalah memulihkan kembali cahaya cermin itu. Itulah yang dilakukan oleh Komunitas Persaudaraan Rosario dengan mempersembahkan Goa Maria Pengantara Segala Rahmat di Rutan Cipinang ini.

Goa ini dipersembahkan untuk mencerahkan kembali cermin itu. Maria adalah Ratu kita, dan dia menyimpan segala peristiwa hidup yang dialaminya di dalam hatinya. Seperti Maria, banyak pengalaman dan peristiwa hidup yang tidak kita mengerti. Maria tidak tahu pasti tugas yang akan dia emban ketika dipanggil Allah menjadi bunda Yesus. Tetapi bagi Maria peristiwa apapun yang melintas di hidupnya dia yakin pasti ada rencana Tuhan disana yaitu supaya cermin itu terang kembali.

Dalam Bahasa Jawa di Goa ini kita memiliki kesempat untuk eng, ing, ung. Kita duduk tenang berdoa dan berdevosi. Atau kita sekedar duduk berdiam diri dalam hening. Dalam keheningan kita bisa kembali bening sehingga kita dimampukan untuk kembali ke jati diri kita dan tujuan arah hidup kita yaitu menuju gunung suci tempat kemuliaan itu.

Sejalan dengan harapan Mgr. Suharyo, kepala rutan Cipinang Agus Haryanto juga berharap Goa Maria Pengantara Segala Rahmat dapat membawa manfaat dan menambah keimanan bagi orang Kristen khususnya umat Katolik. “Karena itu saya berharap semua pihak menjaga dan merawat tempat ibadah ini agar tetap dapat digunakan pihak-pihak yang membutuhkan layanan,” ungkap Agus dalam pidato peresmian pembukaan goa itu.

Sonar Sihombing