Kelompok amal Katolik bantu para korban konflik di Irak

161
Kelompok amal Katolik, para korban konflik di Irak, umat katolik irak
Kelompok amal Katolik bantu para korban konflik di Irak
Silahkan memberi Rating!

Kelompok amal Katolik, para korban konflik di Irak, umat katolik irak

Irak, sebuah negara yang sedang bergolak  menghadapi masa depan yang semakin suram, organisasi-organisasi amal Katolik sedang menggalang pertemuan untuk membantu mereka yang menderita akibat kekerasan yang sedang berlangsung.

“Gerakan ini cukup terbatas sehingga semua angka dan informasi yang kami peroleh serba ketidakpastian,” kata Kris Ozar, koresponden untuk Karitas Mesir, sebuah lembaga bantuan internasional Gereja Katolik, kepada CNA belum lama ini.

“Satu hal yang pasti dan saya dengar di sini adalah bahwa tidak ada yang tahu, tidak ada yang tahu,” katanya. “Tidak ada yang tahu kemana orang pergi, tidak ada yang tahu berapa lama orang tinggal, orang menyewa rumah tetapi bersifat sementara karena harganya mahal.”

“Semuanya serba ketidakpastian, benar-benar ketidakpastian.”

Meskipun Ozar secara resmi ditugaskan ke Mesir, ia telah dikirim oleh organisasi itu ke Irak dalam rangka memberikan bantuan kepada para pengungsi.

Setelah melarikan diri dari Mosul hanya 15 menit sebelum diserbu oleh ISIS pada 10 Juni, Ozar meninggalkan Mesir, dan tiba kembali ke Irak pada 30 Juni.

Bertujuan untuk mendirikan negara Sunni di Suriah dan Irak, yang merupakan mayoritas Syiah, ISIS, Islamic State Iraq and Levant(ISIL), juga dikenal sebagai kelompok Islamic State Iraq and Syria(ISIS), melakukan serangan ke Irak pada awal Juni, dan merebut Mosul, kota terbesar kedua negara itu pada 10 Juni.

Kelompok ini sekarang menguasai sebagian besar utara dan tengah Irak, termasuk kota Tal Afar.

Pada akhir pekan, para pengungsi yang melarikan diri setelah serangan 10 Juni di Mosul, mulai kembali ke daerah mereka, banyak yang berlindung di kota tetangga Erbil, dimana mereka berada di bawah perlindungan tentara Kurdi.

“Ketika saya berbicara dengan keluarga-keluarga pengungsi, mereka membutuhkan  bantuan,” kata Ozar.

“Tapi, kebutuhan terbesar adalah makanan, kasur, dan uang agar mereka bisa membeli ponsel untuk menelepon keluarga mereka. Mereka juga memerlukan obat-obatan.”

Banyak keluarga kini terpaksa tidur di sekolah-sekolah setempat. “Mereka membutuhkan kasur, seprai dan selimut, mereka membutuhkan sabun dan pakaian.” (Indonesia.Ucanews.Com)