Transformasi Budaya

169
Transformasi Budaya
Silahkan memberi Rating!

200338534-001

Medio November lalu, pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta, Karlina Supelli membacakan pidato kebudayaan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki Jakarta. Judul pidato itu “Kebudayaan dan Kegagapan Kita”.

Pidato menjadi indah karena pembicara memiliki latar belakang menarik. Karlina adalah seorang astronom dan meraih gelar master untuk itu. Namun ia juga seorang yang mempelajari filsafat untuk jenjang doktor. Di luar itu, Karlina seorang pembaca sastra yang fanatik. Jadi, paduan tiga ilmu itu saja sudah menampakkan pesona sendiri.

Banyak slide ilustrasi yang sangat menohok dan mengganggu ingatan mengiringi presentasi tersebut. Misal, empat buah gambar perbandingan wilayah hutan di Kalimantan dari sejak 1980-an hingga 2000-an yang menunjukkan wilayah hijau di Kalimantan dari waktu ke waktu semakin menyempit. Sementara itu, slide lain juga menunjukkan grafik yang tak kalah menonjok, yaitu grafik pertumbuhan jumlah pemakai media sosial yang naik secara eksponensial, sementara pada grafik yang sama ditunjukkan tingkat kualitas hidup manusia di Indonesia relatif datar, alias tak menunjukkan angka kemajuan kualitas hidup yang signifikan.

Gambar grafik itu sampai sekarang masih terpatri pada benak saya, dan muncul pertanyaan: mengapa ada banyak orang bermain media sosial, sementara kebutuhan dasar hidup manusia di Indonesia tak tumbuh dengan signifikan? Mengapa bisa muncul ketidaksambungan seperti ini? Hal ini seperti judul novel terkenal Charles Dickens “Tale of Two Cities” yang mengisahkan tentang dua buah dunia yang sama sekali bertolak belakang, alias tidak nyambung.

Dunia saat ini memang riuh rendah, terutama kalau bercermin pada interaksi yang terjadi di dunia maya, dunia media sosial. Kita akan melihat betapa mudah orang berkomentar untuk macam-macam hal. Komentar bisa sambung dengan topik yang sedang dibicarakan, tetapi sebagian yang lagi juga tak sambung.

Di luar itu Karlina juga menyoroti fenomena Indonesia yang mengalami kekurangan insinyur yang mau bekerja di sektor infrastruktur. Karlina menyindir ada banyak insinyur pertanian dihasilkan di negeri ini, tapi hanya sedikit yang kemudian masuk dalam pekerjaan di dunia pertanian. “Sebagian terbesarnya masuk ke sektor finansial”. Kalimat ini pun ditingkahi dengan tepuk tangan menggemuruh dari para pendengar.

Sudah saatnya kita memang menguak berbagai persoalan yang terdengar remeh temeh, namun sebenarnya hal tersebut strategis kalau kita lihat dalam konteks kepentingan bangsa yang lebih luas. Membayangkan Indonesia kekurangan insinyur itu sangat mengenaskan. Terbayang bahwa pembangunan kita saat ini membutuhkan banyak pekerjaan infrastruktur untuk membuat berbagai daerah yang tertinggal mengejar perkembangan di kota besar. Jika kita kekurangan insinyur, lalu sebentar lagi akan ada pasar bebas di ASEAN, bisa jadi insinyur dari negeri lain akan mengisi lowongan itu.

Astronom ini juga menyebut perlu sikap rendah hati atas hal yang kita ketahui. Bisa jadi hal yang kita ketahui tak selalu merupakan kebenaran, dan kebenaran bisa datang dari orang lain. Kita pun harus siap menerima kondisi pengetahuan kita yang terbatas untuk satu bidang tertentu.

Memang pandangan yang disodorkan Karlina bukan suatu formula cespleng, semacam obat yang diminum dan langsung menyembuhkan. Sebaliknya, siasat ini membutuhkan suatu proses, suatu pergumulan untuk menghadirkan situasi baru, kebiasaan baru. Transformasi budaya sebagaimana diusulkan di atas memang bukan kerja cepat, tidak diperhatikan banyak orang, serta tak mengundang tepuk tangan.

Proses ini adalah jalan sepi yang harus dilalui dengan penuh ketekunan dan kecintaan. Satu hari nanti baru akan berbuah, lepas dari apakah kita akan bisa menyaksikan perubahan tersebut terjadi atau tidak. Perubahan harus bermula pada satu titik sebelum menapak pada langkah-langkah berikut. (www.hidupkatolik.com)