Ekaristi Bukan Sekadar Perayaan Ritual

395
Ekaristi Bukan Sekadar Perayaan Ritual

Sebagai umat Katolik, kita patut mendukung upaya KAJ memaklumkan tahun 2012 sebagai Tahun Ekaristi. Perayaan Ekaristi merupakan puncak perwujudan cinta Kristus kepada manusia, seperti yang dikatakanNya dalam Perjamuan Terakhir bersama 12 rasulNya. Di perjamuan itu, Yesus juga minta agar Ia tetap dikenang melalui Ekaristi (bdk. Lukas 22:14-20).

Dalam kaitan historis itulah, maka Ekaristi hendaknya menjadi pusat kehidupan setiap orang Katolik, bukan semata menjadi perayaan ritual harian, mingguan, atau hari-hari raya yang ditetapkan Gereja. Secara kasat mata, Ekaristi melibatkan dua pihak: Imam sebagai wakil Kristus yang mengurbankan Ekaristi di altar dan umat yang menghadiri perjamuan Ekaristi. Untuk dapat meningkatkan mutu Perayaan Ekaristi dan semakin menumbuhkan penghormatan kepada Yesus Kristus yang hadir dalam Ekaristi – seperti tertuang dalam sasaran Tahun Ekaristi ini, maka perlu penghayatan total dari kedua pihak yang terlibat dalam Perayaan Ekaristi.

Penghayatan dari sisi Imam:

– Mempersembahkan Ekaristi dengan fokus dan sepenuh hati.

–  Menyiapkan homili menurut terang Roh Kudus yang diselaraskan dengan situasi umat dan dinamika masyarakat, bukan sekadar membaca dari buku panduan Misa.

– Mendaraskan doa-doa dengan penuh penghayatan, tidak terburu-buru.

– Mengenang apa yang dilakukan Yesus saat Perjamuan Terakhir pada waktu Konsekrasi dengan penuh cinta dan penghayatan, mengingat bagian ini merupakan puncak liturgi Ekaristi.

Penghayatan dari sisi umat:

– Datang ke pesta perjamuan sebelum Ekaristi dimulai dan mengenakan pakaian yang pantas (bdk. Matius 22:11-12)

– Mengikuti Ekaristi dengan fokus dan sepenuh hati.

– Mendaraskan doa-doa dengan penuh penghayatan, bukan sekadar hafal.

– Bersikap hormat sepanjang perjamuan Ekaristi, terutama sekali saat Konsekrasi, karena saat itulah Yesus ingin dikenangkan dan iman kita diteguhkan.

Marilah kita menyatukan diri dengan Kristus dalam Perayaan Ekaristi, sehingga Ekaristi menjadi perjamuan yang meneguhkan – bukan hanya bagi umat yang merayakannya, melainkan juga bagi Imam yang mempersembahkannya. Dengan peneguhan yang kita peroleh dari Ekaristi, selanjutnya mampu menjadikan kita utusan Kristus dalam panggilan hidup kita masing-masing.

 

 

Patricia Heinrica