
Kebun untuk Damai Sejahtera
Hari Minggu Biasa XXVII, Tahun A, 4 Oktober 2026
Yes. 5:1-7; Mzm. 80:9,12,13-14,15-16,19-20; Flp. 4:6-9; Mat. 21:33-43
Minggu ini Yesus masih berbicara dengan perumpamaan kebun anggur dan para pekerjanya.
—
Dalam nubuat Yesaya, Allah digambarkan seperti orang yang menyiapkan kebunnya dengan penuh kasih: mencangkul, membuang batu, menanam pokok anggur pilihan, membangun menara jaga. Semuanya untuk satu tujuan, yaitu supaya kebun itu berbuah baik. Buah yang dimaksud bukan hanya untuk kebun itu sendiri, tapi keadilan dan kebenaran yang dinikmati semua orang. Paulus menyebut hasil akhirnya damai sejahtera Allah. Itulah rencana Allah sejak awal: seluruh ciptaan tumbuh dan berbuah, dalam damai, bagi semua.
Tapi Yesaya mencatat, yang muncul justru buah asam: kelaliman, bukan keadilan; jeritan orang tertindas, bukan kebenaran. Injil hari ini menceritakan hal yang sama lewat para penggarap. Kebun itu baik, tuannya baik. Masalahnya ada pada penggarap. Ketika hamba-hamba dikirim mengambil hasil, mereka dipukul dan dibunuh. Ketika anak sang tuan dikirim, mereka berkata, “Marilah kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita.”
Di situ akar penolakannya: rasa memiliki. Kebun yang dipercayakan mereka anggap milik sendiri, dan buahnya mereka tahan. Padahal justru itu yang memecah damai sejahtera.
—
Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada imam-imam kepala dan tua-tua, dan mereka sendiri sadar bahwa merekalah yang dimaksud. Ini teguran nabi dari dalam kepada para pemimpin umat, bukan penolakan terhadap seluruh bangsa Israel. Dan cermin yang sama kini diarahkan kepada kita semua yang dipercayakan sesuatu: imam, pengurus, orang tua, atasan. Apa pun yang kita pegang, itu kebun titipan.
Belum lama ini saya menghadiri penjubahan seorang orang muda yang saya dampingi. Ia masuk seminari tinggi. Benih panggilan itu sudah ada sejak ia kecil, tapi sempat terhimpit banyak hal. Tugas saya hanya membantu membersihkan apa yang menghimpit, supaya benih itu tumbuh lagi. Saya tidak menanamnya, dan bukan saya yang membuatnya bertumbuh. Justru itu sukacitanya: ia pergi ke kebun lain, dan buahnya bukan untuk saya. Buahnya untuk sementara ia nikmati dan pada saatnya nanti akan dibagikan untuk banyak orang.
Kabar baiknya, penolakan tidak mengalahkan rencana Allah. Batu yang dibuang tukang bangunan justru menjadi batu penjuru. Kebun itu tetap akan berbuah, dan Paulus mengajak kita melepaskan kekuatiran serta menyerahkan segalanya kepada Allah. Sebab hanya penggarap yang tahu bahwa kebun itu bukan miliknya yang bisa hidup dalam damai dan bersukacita melihat buahnya dipetik untuk banyak orang.
Jadi, kebun apa yang dipercayakan kepadamu? Dan kamu sedang menjaganya sebagai penggarap, atau sebagai pemilik?
—
RA










