
Kemurahan hati Allah adalah KEHIDUPAN KITA
Hari Minggu Biasa XXV, Tahun A — 20 September 2026
Yes. 55:6–9; Mzm. 145:2–3,8–9,17–18; Flp. 1:20c–24,27a; Mat. 20:1–16a
Biasanya, kalau kita baca perikop Injil hari ini point of view (POV) kita langsung tertuju pada sikap pekerja awal yang protes atas kemurahan hati sang Tuan kebun anggur. Lalu munculah pesan-pesan dangkal: jangan seperti buruh pertama itu. Dia iri hati dia serakah dan egois. Atau pesan lain, jadilah seperti tuan kebun anggur itu yang murah hati kepada semua.
Sebetulnya perumpamaan ini bisa didekati lewat POV apapun. Namun, kita perlu ingat Yesus sedang mengajar tentang Kerajaan Surga. Apa yang dikehendaki Bapa-Nya dalam kerajaan itu, dan bagi keselamatan manusia. Maka lewat tulisan ini saya hendak menawarkan renungan teks dari POV yang lain.
Ini berangkat dari pertanyaan sederhana. Apa sebenernya yang menjadi motivasi sang tuan kebun anggur saat dia mencari pekerja? Sebab dia dari pagi keluar, jam sembilan keluar lagi. Jam dua belas, jam tiga lalu jam lima sore ia keluar lagi. Jadi lima kali dia keluar dari kebun anggur untuk mencari pekerja. Dan semua yang ia ajak adalah pengangguran yang tidak dapat upah.
—
Mari kita coba jawab.
Kalau motivasinya sekadar untung, aneh rasanya seorang tuan tanah bolak-balik lima kali ke pasar, bahkan sampai jam lima sore — ketika hasil kerja satu jam nyaris tidak berarti apa-apa bagi kebunnya. Secara bisnis, ini tidak efisien.
Tapi kalau kita perhatikan jawaban orang-orang yang ia temui, “Karena tidak ada orang yang mengupah kami” — di situ kita menemukan jawabannya.
Sang tuan tidak sedang mencari tenaga tambahan.
Ia sedang mencari orang-orang yang terlantar, yang tanpa pekerjaan hari itu, tidak akan bisa makan hari itu.
Motivasinya bukan cari untung. Motivasinya adalah kehidupan mereka.
Dan kehidupan itu ia jamin lewat satu dinar. Bukan besar, tapi cukup — cukup bagi seorang pekerja dan keluarganya untuk hidup satu hari, berapa pun jam kerja yang mereka berikan.
Di sinilah letak kemurahan hati sang tuan yang sesungguhnya: bukan pada besarnya upah, tapi pada kepastian bahwa tidak ada seorang pun yang ia temui hari itu pulang tanpa kehidupan.
Kalau perumpamaan ini sungguh berbicara tentang Kerajaan Surga, maka sang tuan ini adalah gambaran Allah sendiri — yang terus-menerus “keluar,” tidak berhenti mencari jiwa-jiwa yang terlantar dan terlupakan, sampai tidak ada lagi yang tertinggal tanpa kehidupan.
Kemurahan hati Allah bukan sekadar sifat-Nya. Kemurahan hati Allah adalah kehidupan kita sendiri — sebab tanpa itu, kita seperti pekerja-pekerja yang berdiri saja di pasar, menganggur, menunggu seseorang yang mau memanggil kita masuk ke dalam kehidupan yang Ia tawarkan.
—
Kalau begitu motivasi sang tuan, ini sekaligus jadi cermin yang tidak nyaman bagi kita yang punya kuasa atas penghidupan orang lain — pemberi kerja, dan terlebih lagi pembuat regulasi ketenagakerjaan.
Sang tuan memastikan upah itu cukup untuk hidup, apa pun jam kerjanya. Bandingkan dengan kenyataan yang sering kita saksikan: harga kebutuhan pokok terus naik, tapi upah minimum tidak kunjung menyesuaikan dengan layak. Siapa yang diuntungkan dari jarak yang dibiarkan melebar itu? Bukan pekerja dan keluarganya, melainkan pemberi kerja yang labanya makin tebal justru dari selisih itu.
Kalau motivasi menciptakan lapangan kerja sungguh seperti motivasi sang tuan — supaya orang bisa hidup layak — maka upah bukan beban yang ditekan serendah mungkin, melainkan tanggung jawab yang harus dipenuhi selayaknya.
—
Yesaya mengingatkan kita hari ini: “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku… seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah jalan-Ku menjulang di atas jalanmu.” Cara Allah menjamin kehidupan kita memang tidak selalu masuk akal menurut logika untung-rugi dunia. Karena rencana Allah tidak menguntungkan bagi-Nya, tapi memberi kehidupan bagi dunia.
St. Paulus, dalam bacaan kedua, menunjukkan bagaimana rasanya hidup dari kepastian itu: baginya hidup adalah Kristus, dan itu sudah cukup — ia tidak lagi menghitung apa yang “seharusnya” ia terima, sebab kehidupannya sendiri sudah dijamin oleh kemurahan hati yang jauh lebih besar dari perhitungan dunia mana pun.
Jadi, siapa pun kita hari ini — entah sedang berdiri di pasar menunggu dipanggil, atau justru sedang memegang kuasa untuk memanggil orang lain masuk bekerja — pertanyaannya sama: sudahkah kita percaya, dan sudahkah kita meneruskan, bahwa kemurahan hati Allah itu bukan sekadar berkat tambahan, melainkan kehidupan kita sendiri?
….
RA












