L

Api yang Mengakar

Bacaan I: Yer. 20:7-9
Mazmur: Mzm. 63:2,3-4,5-6,8-9
Bacaan II: Rm. 12:1-2
Injil: Mat. 16:21-27

Ada panggilan yang kita jawab dengan penuh kerelaan, lalu ternyata jalannya jauh lebih berat dari yang kita bayangkan. Yeremia mengalami itu. Ia menjawab panggilan Tuhan menjadi nabi dengan hati yang menunduk, mengenali siapa dirinya di hadapan Tuhan. Namun perutusan itu tidak membawanya pada kegembiraan. Ia bertemu cemooh, olok-olok, dan penolakan di sepanjang jalan.

Berkali-kali Yeremia ingin menyerah. “Aku tidak mau mengingat Dia,” katanya dalam hati, “dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya.” Tapi setiap kali niat itu muncul, ada sesuatu yang menyala di dalam dirinya, terkurung dalam tulang-tulangnya sendiri. Ia berlelah-lelah menahannya, tapi tidak sanggup. Panggilan itu sudah mengakar. Semakin ia coba memadamkannya, semakin ia sadar itu bagian dari dirinya sendiri yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Yang tadinya dijalankan dengan keterpaksaan, menjadi sebuah kerelaan. Setengah hati menjadi sepenuh hati.

Injil hari ini melanjutkan persis dari titik pengakuan iman Petrus minggu lalu. Begitu Petrus mengaku Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup, Yesus mulai menyatakan apa yang akan terjadi selanjutnya: Ia harus pergi ke Yerusalem, menanggung banyak penderitaan, dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga. Petrus menariknya ke samping dan menegurnya. Ia mendengar penderitaan dan kematian, tapi kabar tentang kebangkitan seperti terlewat dari telinganya.

Bentuk tantangan seperti apa yang paling tepat untuk menguji pengakuan iman, “Engkaulah Mesias, ANAK ALLAH YANG HIDUP”?

Betul. Penderitaan dan kematian. Di sanalah pengakuan iman kita akan menancap betul dalam hati. Iman bukan cuma diucapkan tapi akhirnya menjadi pengakuan yang betul-betul mengakar.

Yesus lalu menyatakan apa yang sesungguhnya dikehendaki Allah bagi siapa saja yang mau mengikuti-Nya: menyangkal diri, memikul salib, bahkan rela kehilangan nyawa. Tapi perintah itu tidak berhenti di sana. Yesus menutupnya dengan berkata bahwa Anak Manusia—diri-Nya sendiri, sosok yang sama yang diakui Petrus minggu lalu—akan datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya untuk membalas setiap orang menurut perbuatannya. Penderitaan bukan tujuan akhir. Penderitaan adalah jalan menuju kemuliaan yang sudah dijanjikan sejak awal.

Paulus memberi jawaban yang sama dari sisi lain. “Berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.” Yang perlu diperbarui bukan Allah, yang selalu sama, selalu baik, selalu setia. Yang perlu diperbarui adalah budi kita, supaya sanggup mengenali kehendak-Nya bahkan ketika jalannya berat, bahkan ketika dunia di sekitar kita menawarkan jalan yang lebih mudah dan lebih masuk akal.

Yeremia yang berkali-kali ingin menyerah tetap berjalan karena api itu mengakar dalam dirinya. Petrus yang gagal memahami arah penderitaan Yesus tetap dipanggil untuk mengikuti-Nya sampai memikul salibnya sendiri. Keduanya diajak percaya pada satu hal yang sama: penderitaan yang mereka jalani bukan akhir dari kisah, melainkan jalan menuju kemuliaan yang sudah dijanjikan sejak semula.

Jadi, kamu gimana?

RA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here