YANG TERPENTING ADALAH… 

Yes 55:1-3 — Rm 8:35, 37-39 — Mat 14:13-21

Saudara-saudari..

Minggu lalu kita diajar oleh Yesus – agar jangan lupa memohon karunia harta ilahi. Harta ilahi yang kita perlukan untuk setiap tugas-tugas ilahi yang diberikan oleh Allah. Salomo yang baru saja menjadi raja sadar bahwa statusnya diberikan oleh Allah, namun tidak dibarengi dengan kompetensi yang benar untuk menjalankannya. Ia meminta kompetensi ilahi untuk tugas yang baru saja ia emban, yaitu kemampuan untuk menghakimi dengan bijak dan adil. Namun sayang, Salomo lalai menjaga harta ilahi itu. Alih-alih ia malah mengumpulkan harta-harta lain – yang seharusnya ia lepaskan. 

Minggu ini, harta ilahi itu mendapatkan definisi yang terang benderang. Harta itu ialah relasi dengan Allah sendiri – kembali masuk dalam perjanjian kasih ilahi. 

Nabi Yesaya mengajak kita membayangkan hal yang aneh: orang tanpa uang boleh datang, makan dan minum tanpa bayar (Yes 55:1-3). Maksudnya bukan roti gratis tanpa bayar.

Yang ditawarkan adalah hubungan dengan Allah sendiri — sesuatu yang memang tidak pernah bisa dibeli. Bukan karena Allah sedang berbaik hati memberi diskon, tapi karena kasih itu bukan barang dagangan.

Masalahnya ada pada kita: sering salah alamat mencari kepuasan, menghabiskan waktu dan tenaga untuk hal yang tidak pernah benar-benar mengenyangkan.

Ketika kita benar-benar sadar betapa berharganya relasi dengan Allah, genggaman kita pada hal-hal lain pelan-pelan mengendur sendiri.

Jadi keterikatan kita dengan harta duniawi – meski masih dibutuhkan – tidak benar-benar sekuat keterikatan kita dengan harta ilahi. Dengan harta duniawi, bahkan kita rela melonggarkan, menjual dan akhirnya melepaskan. 

Paulus menambahkan satu hal: tidak ada penderitaan, bahaya, atau bahkan maut yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah (Rm 8:35, 37-39). Kalau begitu, yang bisa membuat kita menjauh dari-Nya sebenarnya cuma satu — pilihan kita sendiri untuk melepaskan.

Kisah penggandaan roti dalam Injil membuktikan semua ini bukan kata-kata kosong (Mat 14:13-21).

Yesus sendiri sedang berduka atas kematian Yohanes Pembaptis, tapi tetap tergerak hati melihat orang banyak yang lapar.

Lima roti dan dua ikan pun cukup untuk lima ribu orang. Para murid diajarkan tidak menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri. Masalah tetap ada, tapi mereka diminta untuk melibatkan Tuhan sendiri. Menyerahkan segalanya sambil kita tetap mencari cara untuk ‘memberi mereka makan’, tidak menyerah begitu saja. 

Allah yang berjanji lewat Yesaya, membuktikannya lewat tangan Yesus sendiri.

Jadi pertanyaannya bukan lagi apakah Allah menyediakan — itu sudah pasti.

Pertanyaannya, apakah kita masih mencari roti di tempat yang salah, atau sudah mau duduk dan makan dari apa yang sudah Ia sediakan cuma-cuma. 

Jadi, kamu gimana?

RA

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here