Mengenang Karya Romo Alfons Sebatu

174

as.jpg

Romo Alfons adalah anak ke-5 dari 9 bersaudara, yang lahir pada 2 Agustus 1954 di Manggarai, NTT. Romo Alfons ditahbiskan menjadi imam di Keuskupan Bogor pada 2 Januari 1983. Ia sudah menamatkan pendidikan S3-nya di University of Philippines, tahun 1993 mengambil program Doktor Psikologi Klinis. Karya Romo Alfons tidak sedikit. Banyak buku bertema psikologi, doa, dan spiritualitas yang sudah diterbitkan. Tidak hanya itu, ia juga ditunjuk untuk memegang Komisi Keluarga, Kepemudaan, Mahasiswa dan Bina Iman Anak. Romo Alfons juga menjabat sebagai anggota Dewan Iman Keuskupanm Koordinator Bidang Pendampingan Hidup. Pada tahun 2008, ia mendirikan PCC (Kursus Konseling Pastoran) yang berfokus dalam pelayanan konseling. Tapi yang paling berkesan dalam dirinya yaitu talentanya dalam melakukan pengusiran roh jahat (eksorsisme), dan penyembuhan luka batin. Romo Alfons sangat gemar mengadakan seminar-seminar penyembuhan luka batin yang menarik banyak antusias umat yang tidak hanya dari Keuskupan Bogor saja.

Romo Alfons adalah penggemar berat olahraga basket, bahkan saat sore hari ia sering terlihat bermain basket di lapangan sekolah Budi Mulia Bogor. Ia menghembuskan nafas terakhirnya tak lama usai bermain basket di lapangan SMA Budi Mulia pada 12 Agustus 2013, lalu dimakamkan di pemakaman Kalimulya, Depok. Peran besarnya dalam membangun Keuskupan Bogor akan selalu dikenang.

Karya dan Teladan Iman
Semasa hidupnya, Romo Alfons memiliki banyak peran dan teladan yang dapat kita contoh. Ia memiliki talenta yang hebat dalam penyembuhan luka batin, dan dapat melakukan pengusiran roh jahat (eksorsisme). Tidak hanya itu, ia merupakan sosok imam yang amat perhatian dan bersahabat kepada siapapun terutama orang-orang muda dan anak-anak.
Buku yang pernah dibuatnya, yaitu :
o buku Psiko-Eksorsisme
o buku Charismata
o buku Psikologi Jung
o buku Karunia Penyembuhan
o buku Penyembuhan Luka Batin
Tidak hanya membuat buku, Romo Alfons juga merupakan pendiri PCC (Kursis Konseling Pastoran) Keuskupan Bogor, yang seringkali menggelar seminar-seminar penyembuhan luka batin.

Dalam terjemahan buku Manual of Deliverance Prayers, terbitan Komisi Exorcisme Keuskupan Agung Manila, Romo Alfons memberikan pendapatnya terkait psikologi klinis :
Bapa Suci Paus Paulus ke-VI, pernah berkata bila salah satu pokok iman orang Katolik adalah percaya kalau setan itu ada. Kitab suci mengingatkan kita akan sosok setan yang berbahaya itu dalam ayat (1 Petrus 5:8) “Sadar dan berjaga-jagalah! Lawanlah si iblis yang berjalan berkeliling seperti singa yang sedang mengaum-ngaum dan mencari mangsa yang dapat diterkamnya.” Meskipun kita percaya akan adanya iblis, kita juga harus mengetahui dan percaya bahwa kebangkitan Kristus dari alam maut telah menghancurkan kekuasaan setan itu. Kristus telah mengalahkan setan. Oleh karena itu jangan takut setan, tetapi lawanlah dia. Kalau kita berbicara tentang pekerjaan setan atau kuasa kegelapan, kita akan menjumpai dua perlawanan Gereja terhadapnya. Kedua perlawanan itu dikenal dengan nama Eksorsisme (Exorcism) dan Doa Pelepasan (Deliverance Prayer). Eksorsisme hanya boleh dilakukan oleh imam yang ditunjuk oleh uskup setempat. Sedangkan eksorsisme sederhana (eksorsisme untuk diri sendiri) dan doa pelepasan dapat kita lakukan secara pribadi.

Dari pengalaman berpraktek sebagai psikolog klinis di Indonesia, romo Alfons menemukan banyak karya setan yang muncul dalam bentuk kesurupan, ilmu hitam, santet, susuk, barang-barang antik, tempat-tempat angker dan sebagainya. Oleh karena itu buku Romo Jose yang sudah menjadi pegangan para pastor dan awam di seluruh Filipina, juga pasti dapat menjadi pegangan para pastor dan umat Katolik Indonesia.

Permasalahan terbesar yang sangat sering dialami oleh sebagian orang yaitu masalah konflik batin. Apalagi, dalam masa pandemi Covid-19 ini, banyak sekali tekanan yang dialami oleh kita, karena diharuskan belajar, bekerja, beribadah, dan aktifitas lainnya dari rumah. Tak jarang tekanan itu yang berujung pada luka batin yang dapat membekas dan berlangsung lama. Namun bukan berarti luka batin tidak dapat disembuhkan. Dalam bukunya “Penyembuhan Luka Batin”, Romo Alfons memaparkan teori kebutuhan konseling berdasarkan Four Basic Needs, yaitu kebutuhan akan Self Preservation, kebutuhan akan Romance, kebutuhan akan Money, dan Kebutuhan akan Recognition. Berdasarkan hal tersebut, kita dapat mengkategorikan permasalahan yang kita alami, lalu kita sembuhkan luka itu dengan bermeditasi, konsultasi ke ahlinya, dan berbicara ke Bapa kita.

Romo Alfons bahkan mengajak kita yang mengalami luka batin untuk kembali merasakan situasi yang membuat kita mengalami hal tersebut. Lalu bicara kepada Yesus, kemudian diteruskan dengan doa untuk penyembuhan luka batin serta ucapan syukur. “Teruslah berada di hadapan Yesus. Rasakan kenyamanan di hadapan-Nya. Mohonlah kepada-Nya untuk menyembuhkan luka-luka hati Anda. Mintalah juga kepada-Nya karunia untuk mau mengampuni dan agar tabah, sehingga Anda dapat menerima dengan baik mereka yang menyakiti Anda. Mintalah kepada-Nya agar meneruskan proses penyembuhan itu dalam diri Anda.”

————————————————————————————————
Artikel ini ditulis oleh Mahasiswa T. Robotika & AI, Universitas Airlangga, Surabaya.