KUNJUNGAN (Belajar dari Pater Jules Chevalier)

780
KUNJUNGAN (Belajar dari Pater Jules Chevalier)
Silahkan memberi Rating!
Páter Jules Chevalier MSC
Páter Jules Chevalier MSC

KAJ.or.id – Belum lama ini, saya mengadakan kunjungan orang sakit. Tiba-tiba seorang ibu janda yang sudah sepuh nyelethuk, “Sekarang ini, para pastor tidak pernah kunjungan umat. Mungkin karena kami orang miskin, “pauper ubique iacet” – di mana-mana orang miskin itu tidak dihargai, seperti yang dikatakan Ovidius (43 seb.M – 18 M). Kalau zaman dulu, pastor-pastor bule itu rajin kunjungan walau hanya jalan kaki saja!”
Kata-kata yang keluar dari bibir
ibu itu memang harus saya amini. Kunjungan umat adalah reksa pastoral yang tidak tergantikan.

Kebanyakan umat mengeluh, karena pastor parokinya dalam berkunjung itu “pilih-pilih”. Bahkan ada salah seorang umat yang berkata, “Kebanyakan pastor-pastor yang bertugas di paroki kami khan dari keluarga yang sederhana bahkan miskin, kenapa setelah menjadi pastor lupa asal-usulnya”. Kata-kata itu sempat membuat telinga saya merah, karena saya memang dari keluarga miskin, orang nggunung lagi!

hungerHerman Pongantung MSC dalam bukunya yang berjudul, “Pastor Jules Chevalier” menyadarkan kita yang sebagian besar pembaca milis ini adalah pastor. Pastor Jules Chevalier sangat dekat dengan orang miskin dan sangat terbuka dengan mereka. Ia senantiasa mengadakan kunjungan umat, terutama keluarga-keluarga susah atau janda miskin. Pada kesempatan itu pula, Chevalier menyadari bahwa ia sendiri adalah orang miskin, lahir dari keluarga susah.

Sementara itu, Hans Kwakman MSC dalam bukunya yang berjudul, “Karisma Jules Chevalier dan Indentitas Keluarga Chevalier” memberikan masukan tentang kedekatan Pastor Chevalier dengan kaum miskin, “Ia berbicara tentang perlunya mengunjungi kaum miskin secara personal, mengesampingkan keenakan diri, duduk di sisi kaum miskin, menghirup udara yang mereka hidup. Itulah cara kita menunjukkan bahwa kita mengasihi mereka dan menganggap mereka sebagai saudara-saudara kita” (hlm. 49).

paus francis mencium kakiBarangkali, Pastor Chevalier sangat memahami bahwa Gereja adalah gereja kaum miskin, seperti apa yang ditulis C. Congar dalam bukunya yang berjudul, “Gereja Hamba Kaum Miskin”. Seorang pastor – mau tidak mau – dipandang oleh sebagian umat memunyai jabatan penting.

Sebagai contoh, sebutan “Romo” di kalangan masyarakat Jawa, pasti berasal dari lingkungan kraton yang feodal. Dan untuk beberapa orang, kesan keningratan atau kefeodalan itu masih terasa. Di negeri Barat, orang kenal istilah, “Don” (Itali), “Monsieur l’abbé” (Prancis). Di Indonesia kita juga kenal istilah RP dan RD yang barangkali membuat umat miskin bertanya-tanya, “Kuwi ki apa to” – singkatan apa sich itu? Padahal kita sering mendengar azas Injil, “Non dominari, sed ministrare” – bukan memerintah melainkan melayani. Atau dalam Injil kita membaca, “Just as the Son of Man did not come to be served, but to serve, and to give his life as a ransom for many” – Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20: 28).

poor

Pastor Berthy Tijow dalam refleksinya untuk para imam dan bruder “Sulkaltim” (Sulawesi Kalimantan Timur + Utara) pada akhir Juni 2016, menulis bahwa orang-orang miskin sangat dekat dengan Pastor Jules Chevalier, “Mereka tahu bahwa tidak akan ditolak. Untuk umat paroki, dompetnya selalu terbuka” (hlm. 48). Hal ini barangkali mirip dengan apa yang dibuat oleh Kardinal Justinus Darmoyuwono, yang mengatakan, “Mungkin orang-orang yang datang itu ada yang menipu kita. Tetapi siapa tahu ada yang memang butuh sekali uang. Toh kita lebih baik ditipu daripada menipu.

Dan pada masa kini, Mgr. Ignatius Suharyo dalam suatu kesempatan Temu Pastoral di Aula KAJ (September 2015) memberikan input untuk para petugas pastoral. Katanya:

“Orang miskin itu butuh makan, pakaian, uang sekolah, obat dan perhatian. Berikanlah kepada mereka apa yang mereka butuhkan saat itu. Urusan pemberdayaan adalah urusan lain atau nanti.”

Sabtu, 9 Juli 2016, RP. Markus Marlon MCS