‘TIMOTIUS’ oleh Uskup Suharyo

554
Artwork: Ludwig Glötzle, St. Paul Ordains Timothy as Bishop of Ephesus, 1891. Fresco, Dom Sankt Rupert und Sankt Virgil (Cathedral of St. Rupert and St. Vergilius), Salzburg.
‘TIMOTIUS’ oleh Uskup Suharyo
Silahkan memberi Rating!
St. Timothy is currently meeting at St. Mary of the Assumption Catholic Church in Fort Worth. http://fwdioc.org/parish-finder-item?r=ZQG7UKWSA6
St. Timothy is currently meeting at St. Mary of the Assumption Catholic Church in Fort Worth.
http://fwdioc.org/parish-finder-item?r=ZQG7UKWSA6

KAJ.or.id – ‘Timotius’ yang secara harafiah berarti pribadi yang menghormati Allah – dikenal sebagai rekan kerja dan pendamping terpercaya Rasul Paulus dalam perjalanan-perjalanan misinya. Mengenai hal ini Rasul Paulus menulis, “Dalam Tuhan Yesus kuharap segera mengirimkan Timotius kepadamu, supaya tenang juga hatiku oleh kabar tentang hal ihwalmu. Karena tak ada seorang padaku yang sehati dan sepikir dengan aku dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu … Kamu tahu bahwa kesetiaannya telah teruji dan bahwa ia telah menolong aku dalam pelayanan Injil sama seperti seorang anak menolong bapanya …” (Flp 2:19-22).

Timotius lahir di Listra dalam keluarga yang orangtuanya tidak seiman. Ayahnya orang bukan Yahudi, ibunya seorang Yahudi. Bersama ibunya, Eunike dan neneknya Lois, ia menjadi pengikut Kristus (2 Tim 1:5). Semenjak masa mudanya, Timotius sudah mengenal Kitab Suci agama Yahudi dari ibunya (2 Tim 3:15). Namun sebagai orang yang tumbuh dalam keluarga nikah campur, kiranya Timotius bukan orang yang dengan ketat dengan aturan-aturan agama Yahudi. Ini jelas dalam Kis 16:2-3, baru ketika ia diajak ikut menemani Paulus dalam perjalanan misinya Timotius diminta untuk sunat. Ini dilakukan untuk menghindari atau menghilangkan pertentangan antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Yahudi Kristiani. Pada waktu itu ia sudah dikenal sebagai pribadi yang baik, bukan hanya di Listra tempat kelahirannya, tetapi juga di Ikonium. Selanjutnya ia menemani Paulus dalam perjalanan misinya yang kedua (tahun 40-52) sampai ke Berea (Kis 17:14). Di sana ia tinggal bersama Silas, sementara Paulus melanjutkan perjalanannya. Kemudian, ia bertemu lagi dengan Paulus di Korintus (Kis 18:5), lalu menemani Paulus ke Yerusalem (Kis 20:4).

Artwork: Ludwig Glötzle, St. Paul Ordains Timothy as Bishop of Ephesus, 1891. Fresco, Dom Sankt Rupert und Sankt Virgil (Cathedral of St. Rupert and St. Vergilius), Salzburg.
Artwork: Ludwig Glötzle, St. Paul Ordains Timothy as Bishop of Ephesus, 1891. Fresco, Dom Sankt Rupert und Sankt Virgil (Cathedral of St. Rupert and St. Vergilius), Salzburg.

Timotius sungguh dicintai dan disayang oleh Paulus. Bukan karena apa-apa, tetapi karena Timotius telah mewarisi (seluruh) kekayaan pribadi Paulus:” Engkau mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku. Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokia dan di Ikonium dan di Listra” (2Tim 3:10-11). Ini pula kiranya yang dapat menjelaskan bahwa ada enam surat Paulus yang juga “ditandatangani” oleh Timotius (1Tes 1:1; 2 Tes 1:1; 2 Kor1:1; Flp 1:1; Kol 1:1; Fil 1).

Kita dapat belajar dari pribadi Timotius : pribadi yang masih muda (1 Tim 4:12), lahir dalam keluarga yang orangtuanya tidak seiman (Kis 16:1; 2 Tim 3:15) dengan kesehatan yang tidak prima (1 Tim 5:23), mampu dengan unggul menjadi “pembantu” Rasul (Kis 19:22), “kawan seperjalanan” (Kis 20:4), “rekan sekerja” (Rom 16:21), “saudara” (2 Kor 1:1). Semoga keluarga-keluarga kita – dan komunitas kita juga – menjadi tempat yang subur untuk lahir dan bertumbuhnya pribadi-pribadi seperti Timotius. Salam dan Berkat Tuhan.

+ I. Suharyo (Uskup Keuskupan Agung Jakarta).