“Fransiskus, Pergilah dan Perbaikilah Gerejaku yang hampir roboh itu!” : Catatan Kecil Tentang Paus Fransiskus

594
Fransiskus, pergilah Perbaikilah Gerejaku yang hampir roboh itu, Restorasi Gereja, Catatan Kecil Tentang Paus Fransiskus, Yohanes Kristo Tara, OFM, Paroki Paskalis Jakarta, st fransiskus assisi, saint francis,
“Fransiskus, Pergilah dan Perbaikilah Gerejaku yang hampir roboh itu!” : Catatan Kecil Tentang Paus Fransiskus
Silahkan memberi Rating!

Fransiskus, pergilah Perbaikilah Gerejaku yang hampir roboh itu, Restorasi Gereja, Catatan Kecil Tentang Paus Fransiskus, Yohanes Kristo Tara, OFM, Paroki Paskalis Jakarta, st fransiskus assisi, saint francis,

“Fransiskus, Pergilah dan Perbaikilah Gerejaku

yang hampir Roboh itu!”

 

Restorasi Gereja

Catatan Kecil Tentang Paus Fransiskus

(Oleh : Rm. Yohanes Kristo Tara, OFM, Paroki Paskalis Jakarta)

Habemus Papam! Kita memiliki Paus. Seorang Kardinal Jesuit asal Argentina, Jorge Mario Bergoglio terpilih menjadi Paus baru. Nama yang dipilihnya adalah Fransiskus. Semua pengamat, bahkan internal Vatikan hampir sepakat bahwa nama ini merujuk pada St. Fransiskus Assisi.

Dalam sejarah Gereja, St. Fransiskus Assisi menjadi ikon reformis yang pada zamannya melakukan restorasi dan reformasi dalam Gereja. Dengan kekudusan dan keterlibatan langsungnya, dia menentang korupsi patriarkal, hirarkisme dan triumvirat Gereja yg bertumbuh subur pada zaman itu.

St. Fransiskus secara radikal berusaha mengembalikan Gereja pada kemurnian Gereja Kristus, menyegarkan kembalian kelesuan evangelisasi, bahkan mendefinisikan kembali Gereja Katolik sebagai Gereja Kaum Miskin, mengedepankan teologi pembebasan dengan cara yang berbeda, membangun spiritualitas persaudaraan semesta yg adil dan bermartabat.

Bukan karena kecerdasan dan kejeniusannya, atau kesuksesannya dalam menegakkan 3 keutamaan Kristiani (iman, pengharapan dan kasih), tetapi karena kesederhanaan dan keterlibatan langsung Fransiskus-lah, maka Allah mengutusnya untuk mengembalikan Gereja Universal pada hakikatnya sebagai Gereja Kristus. Dalam sejarah Gereja, tidak ada Santo lain  yang diutus langsung oleh Allah untuk menjalankan misi khusus merestorasi/memulihkan Gereja, kecuali Santo Fransiskus Assisi.

Saat itu, tepatnya Februari tahun 1206, pada masa awal pertobatannya, Fransiskus, manusia hedonis yang gemar berfoya-foya itu datang ke Gereja San Damiano di pinggiran kota Assisi. Saat sedang berlutut dan berdoa di depan Salib Bizantium, Fransiskus mendengar suara yang keluar dari mulut Yesus yang Tersalib, “FRANSISKUS, PERGI DAN PERBAIKILAH GEREJA-KU YANG KAU LIHAT HAMPIR ROBOH ITU!” Awalnya, Fransiskus memahami Gereja sebagai bangunan fisik.

Namun kemudian, ia segera sadar bahwa Gereja yang dimaksudkan Allah untuk direnovasi bukan pertama-tama bangunan fisik melainkan lembaga sekaligus persekutuan orang-orang yang beriman dalam Yesus Kristus. Maka mulailah Fransiskus membangun Gereja dengan menghayati Injil secara radikal dalam hidupnya.

Dengan amat militan, Fransiskus menjalankan misi perutusannya untuk menyembuhkan penyakit-penyakit Gereja dan dunia pada zamannya. Ketidaksetiaan kepada Allah dijawab dengan kesetiaan kepada Kristus Yang Tersalib dalam kemiskinan melalui pertobatan dan kekudusan. Ia menjadi muzafir dan perantau, pengemis jalanan, melayani dan tinggal bersama orang-orang kusta yang dikucilkan masyarakat. Ia mengirim para saudaranya untuk bermisi ke seluruh Eropa bahkan Asia, termasuk Indonesia.

Ia mempromosikan dialog dengan saudara-saudara Muslim (berdialog dengan Sultan Malik al Khamil) di tengah kobaran perang salib, bercengkrama di tengah alam semesta sebagai saudara dan saudari yang diciptakan oleh Allah yang sama dan ditebus oleh Kristus yang sama. Dengan cara hidupnya, ia mengkritik jurang antara kaya dan miskin, termasuk melawan kecenderungan Gereja menumpuk harta kekayaan.

Fransiskus amat menekankan Spiritualitas kemiskinan dan persaudaraan sebagai jalan menuju keharmonisan universal, terutama mengembalikan Gereja pada hakikatnya sebagai Gereja Kristus.

Habemus Papam!

Kini kita punya seorang Paus Fransiskus. Ia memiliki sejumlah keutamaan yang kurang lebih mirip dengan St. Fransiskus Assisi: kesalehan, kesederhanaan, kecintaannya pada orang kusta bahkan bersedia mencuci dan mencium kaki para pengidap AIDS, serta kesediaan untuk menggunakan kendaraan umum.

Dengan latar Gereja Amerika Latin, Ia menghayati secara sungguh-sungguh teologi pembebasan namun dengan pemahaman yang berbeda. Ia menunjukkan kepedulian dan keterlibatannya pada persoalan keadilan sosial, dll.

Berbekal sejumlah keutamaan dan berhadapan dengan berbagai penyakit yang sedang dialami Gereja pada masa ini: skandal korupsi dan seks, degradasi dan defisit iman, kelesuan evangelisasi, masalah sosial kemanusiaan, dll, maka Paus Fransiskus diharapkan mampu melakukan sejumlah agenda restorasi, renovasi dan reformasi Gereja, baik ke dalam maupun ke luar layaknya St. Fransiskus Assisi.

Banyak orang berharap visi dan misi besar inilah yang akan dilakukan oleh Paus Fransiskus untuk mengembalikan kemurnian dan kekudusan Gereja sebagai Gereja Kristus yang berdaya guna dan kehadirannya tetap relevan di tengah dunia ini.

Melihat keadaan dan kondisi aktual Gereja dan Dunia saat ini, Semoga Paus Fransiskus adalah pilihan yang paling tepat.

Yesus, Si Miskin yang tersalib dalam ketelanjangan itu memberi mandat suci “Restorasi Gereja” kepada Paus Fransiskus: “Fransiskus, pergilah dan Perbaikilah Gerejaku yang hampir roboh itu!”

Mudah-mudahan demikian adanya, Amin, ya Aminnn….