Ketika dahulu Tuhan merendahkan tanah Zebulon dan tanah Naftali, maka di kemudian hari Ia akan memuliakan jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, wilayah bangsa-bangsa lain.
Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar.
Mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan. Sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya serta tongkat si penindas telah Kaupatahkan seperti pada hari kekalahan Midian.”
Bacaan Kedua, 1Kor 1:10-13.17
Saudara-saudara, aku menasihatkan kamu, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.
Sebab, saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloë tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu.
Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus. Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus? Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itu pun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.
Bacaan Injil, Mat 4:12-23
Ketika mendengar bahwa Yohanes pembaptis telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:
“Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, – bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: ”Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”
ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: ”Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.
Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.”
Renungan Padat
Menggenapi Kehendak Bapa, Memanggil dari Pinggir Jalan
Rekan-rekan pembaca setia renungan mingguan KAJ.
Minggu lalu kita telah melihat Yesus adalah penggenapan warta keselamatan Allah, yang ditunjuk langsung oleh nabi terakhir Perjanjian Lama – Yohanes Pembaptis. Minggu ini kita diajak bagaimana penggenapan itu berjalan secara sistematis. Itu nampak dalam pilihan dan arah hidup Yesus sendiri yang dilandaskan pada ketaatan pada kehendak Bapa.
Ketika Yohanes Pembaptis ditangkap Yesus sebenarnya bisa memilih banyak jalan. Ia bisa bertahan di Yudea, menunggu saat yang tepat. Ia juga bisa bereaksi keras, menggalang perlawanan. Namun Yesus tidak memilih jalan reaktif. Ia memilih jalan yang setia. Setia pada kehendak Bapa yang termuat dalam nubuat Yesaya.
Yesus pergi ke Galilea, ke wilayah Zebulon dan Naftali—daerah yang dianggap jauh, gelap, dan terpinggirkan.
Menariknya, sebelum Yesus mengajar dan menyembuhkan banyak orang, Matius mencatat satu hal penting: Ia lebih dulu memanggil para murid-Nya.
Di sini kita lihat cara Ia bekerja.
Ia berjalan di “jalan pinggir laut”—pinggir danau, pinggir pantai—tempat orang lalu-lalang, bekerja, bertemu, dan hidup. Dari dulu sampai sekarang, wilayah seperti itu selalu menjadi pusat keramaian dan perjumpaan. Lihat saja kota-kota besar dan indah di dunia: Monaco, Barcelona, Porto, Lisbon, Istanbul, Jakarta, hingga New York—semuanya tumbuh di pinggir laut.
Yesus mencari murid-murid-Nya di ruang seperti itu. Ia datang ke pusat kehidupan sehari-hari kita. Di tempat orang sibuk bekerja, berjuang, dan berharap. Di sanalah Yesus berjalan, melihat, dan memanggil.
Seolah Injil ingin mengatakan: panggilan Tuhan jarang datang saat hidup kita berhenti total. Ia justru sering datang di tengah keramaian, di tengah pekerjaan, di tengah keseharian. Yesus tidak menunggu orang-orang meninggalkan dunia lebih dulu; Ia mendatangi mereka di dunia tempat mereka hidup.
Dan dari pinggir “laut” itulah, sebuah perjalanan besar dimulai. Empat murid pertama dari kehidupan nelayan dipanggil.
Mereka bukan orang berkelas, bukan tokoh agama, bukan mereka yang dianggap paling siap. Mereka hanyalah orang-orang yang sedang bekerja, setia pada kesehariannya. Namun mereka memiliki satu keberanian: meninggalkan jala dan mengikuti Yesus. Jala yang bukan hanya alat kerja, tetapi juga sumber rasa aman dan identitas hidup. Mereka diajak untuk memalingkan perhatian dari jala mereka kepada Yesus.
Hidup bukan hanya tentang jala untuk menangkap ikan. Bukan hanya bekerja terus mencari nafkah dan memuaskan keinginan. Tapi hidup juga bisa dengan meninggalkan jala, mendengarkan panggilan Yesus dan mengikuti Dia. Kita dipanggil untuk memalingkan perhatian terhadap dunia dan mengalami kehadiran Tuhan dalam setiap karya-karya yang dilakukan Tuhan.
Melalui pemanggilan murid-murid pertama ini, Injil Matius menyingkapkan cara Allah bekerja. Allah tidak menyelamatkan dunia sendirian. Ia memilih melibatkan manusia. Ia memanggil bukan yang paling sempurna, melainkan mereka yang bersedia berjalan bersama-Nya dan mempercayakan hidupnya kepada Dia.
Di situlah terang mulai bersinar. Menerangi jalan pinggir laut ketika orang-orang berani meninggalkan “jalanya” dan memilih menyertai Yesus.