Refleksi Prapaskah: “Pencobaan Yesus = Pencobaan Kita”

815
Refleksi Prapaskah: “Pencobaan Yesus = Pencobaan Kita”
Silahkan memberi Rating!

Refleksi Prapaskah

 

“Pencobaan Yesus = Pencobaan Kita”

Seperti Yesus yang dibawa Roh Kudus ke padang gurun dan tinggal di sana selama empat puluh hari, dalam masa Prapaskah ini kita pun diajak Roh Kudus untuk berada di padang gurun spiritual. Menarik untuk mencermati tiga godaan yang dialami Yesus saat itu, karena ternyata godaan-godaan tersebut tetap relevan dengan situasi kita sekarang:

  1. 1.    Meraih berbagai kenikmatan duniawi

Yesus yang lapar didekati Iblis dengan bujukan menggiurkan: mengubah batu menjadi roti. Meskipun Putera Allah dapat melakukan mukjizat yang lebih besar dari sekadar mengubah batu menjadi roti, Yesus tetap rendah hati, tidak mau menunjukkan kuasa-Nya. Bagi Yesus, ada yang lebih penting daripada sekerat roti, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.” (Lukas 4:4)

Kita yang “lapar” didekati Iblis dengan bujukan menggiurkan: meraih berbagai kenikmatan duniawi. Sering kali kita tidak rendah hati seperti Yesus, melainkan kita berusaha keras siang-malam mengejar harta, jabatan, dan kesuksesan demi kehidupan yang mapan dan terpandang di masyarakat. Padahal masih ada yang lebih utama, yaitu menjadikan Allah sebagai prioritas dalam hidup kita, serta Firman-Nya sebagai “makanan” yang lebih penting daripada harta, jabatan, dan kesuksesan.

  1. 2.    Memperoleh kerajaan dunia dengan menyembah Iblis

Iblis mengaku, semua kerajaan dunia telah diserahkan kepadanya. Kerajaan dunia bukan hanya mencakup kekuasaan dalam arti harfiah, melainkan juga segala perbuatan daging yang dapat membuat manusia terlena dan terjerat. Bujukan kedua dari Iblis ini lebih luas cakupannya. Namun, Yesus tidak bergeming. Dengan tegas Ia mengatakan, “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Lukas 4:8)

Sampai sekarang, “kerajaan dunia” masih sangat menggoda kita. Dalam Galatia 5:19-21, rasul Paulus menyebut macam-macam perbuatan daging, yaitu percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Jika kita terlena dan terjerat dalam perbuatan daging tersebut, berarti kita telah berhasil ditakhlukkan Iblis, kita belum menyembah Tuhan dengan sepenuh hati.

  1. 3.    Mencobai Tuhan supaya keinginan terkabul   

Pencobaan ketiga menyangkut relasi dengan Allah. Yesus ditempatkan di bubungan Bait Allah dan ditantang Iblis untuk menjatuhkan diri. Jika benar Yesus adalah Anak Allah, tak perlu takut, karena malaikat-malaikat-Nya akan melindungi. Menangkal godaan ini, Yesus berkata, “Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Lukas 4:12) 

Karena sudah dibaptis menjadi anak-anak Allah, kita sering kali menuntut “hak istimewa”  kepada Tuhan dengan mengajukan berbagai permohonan. Ketika kenyataan hidup tidak sesuai keinginan dan harapan, doa-doa tak kunjung mendapat jawaban, kita protes dan mencobai Tuhan bahkan mengancam Tuhan untuk memenuhi bermacam keinginan kita.

Pencobaan-pencobaan Yesus di padang gurun berakhir. Namun, Iblis tidak menghilang untuk seterusnya. Iblis mundur dari hadapan Yesus dan menunggu waktu yang baik untuk kembali menggoda Yesus (bdk. Lukas 4:13).

Belajar dari kegagalannya di padang gurun, kali lain Iblis berusaha memengaruhi Yesus melalui rasul-Nya, Simon Petrus. Ketika Yesus untuk pertama kali memberitahukan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga; Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur-Nya. “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” (Matius 16:22)

Yesus yang selalu waspada, menyadari yang berbicara itu adalah Iblis yang memakai mulut Petrus. Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Matius 16:23)

Dapat dibayangkan, Petrus tentu sangat terkejut digertak Yesus seperti itu. Tetapi, dari pengalaman tersebut, ketika mewartakan Kristus yang telah bangkit dan naik ke surga, Petrus dapat menasihati, “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. (1 Petrus 5:8-9)

Iblis masih mengintai kita sampai saat ini. Namun, kita tidak perlu mencemaskan sepak-terjangnya, karena Yesus menyertai kita senantiasa sampai akhir zaman (bdk. Matius 28:20b). Dalam hidup-Nya di dunia ini, Yesus telah mengalahkan roh-roh jahat, Iblis, dan musuh terakhir yang dikalahkan-Nya ialah maut. Ia telah membuktikan kuasa Allah yang jauh lebih besar daripada kuasa kegelapan, Iblis, dan maut. Berpegang pada Sabda Yesus, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41), kita dapat menangkal godaan-godaan Iblis dalam hidup kita.

(Patricia Heinrica-Kontributor Web KAJ)