Film Soegija Makin Marak Diperbincangkan

159
Film Soegija Makin Marak Diperbincangkan
Silahkan memberi Rating!

Menjelang 7 Juni 2012 saat Film Soegija untuk pertama kalinya diputar, semakin ramai diperbincangkan dan didiskusikan. Antara lain dalam preview & press conference di Setiabudi 21, pada 24/5 lalu.

Dalam momen ini para wartawan infotainment diajak menonton film yang ditulis dengan pendekatan sejarah popular-romantis ini tentang Romo Soegijapranata yang diangkat Vatikan menjadi uskup pribumi pertama di Indonesia. Usai menyaksikan film ini dilanjutkan dengan dialog dengan para pemain, penulis skenario serta sutradara film ini.

“Kenapa Garin Nugroho kepincut menyutradari film sejarah dan perjuangan seorang romo seperti Soegija ini?” tanya seorang wartawan. Garin tanpa beban memberi jawaban. “Film ini merupakan assemble dari banyak kalimat. Film ini film hiburan yang sangat komunikatif tanpa merendahkan kemanusiaan kita. Tetapi yang jauh lebih penting film ini mengandung banyak unsur pendidikan soal kebersamaan, pluralisme, patriotismen, kepemimpinan di masa krisis. Semua ini saya lihat saat ini sudah pudar dari bangsa ini, jadi perlu dihidupkan kembali,” tegas Garin.
Lebih jauh Garin mengatakan bahwa peran-peran yang ditampilkan memiliki misi tersendiri. Tak heran selama menonton film ini banyak sekali kalimat-kalimat yang ditangkap telinga dan langsung menyentuh. Itu ketika seorang mantan pejuang mohon restu kepada Mgr. Soegija mau jadi kepala daerah. “Kalau mau masuk politik kamu harus punya mental sebagai politisi.”

Demikian juga ketika Mariyem diminta seorang tentara yang jatuh hati kepadanya mengubah namanya menjadi Maria, dengan tegas dia mengetakan saya Mariyem bukan Maria. Menggambar keberanian me sebagai suku Jawa.mpertahankan jati dirinya sebagai seorang suku Jawa.
Di film ini juga ada kritik sosial yang membuat rasa tidak nyaman bagi etnis tertentu. “Mengapa saya lahir sebagai orang Tionghoa sehingga selalu menjadi sasaran penjarahan saat ada kerusuhan,” ungkap Ling Ling anak remaja yang kecewa atas keadaan yang berlangsung.

Yang juga banyak mendapat pertanyaan adalah Nirwan Dewanto pemeran Mgr. Soegija. Padahal Nirwan sendiri adalah seorang muslim. “Saya butuh tiga minggu untuk memutuskan menerima peran ini. Saya baca scripnya. Saya tangkap ada pesan yang sangat kuat di dalamnya. Saya pun siap mempertaruhkan nama besar saya sebagai sastrawan demi film ini,” tegasnya.

Henky Solaiman yang berperan sebagai Pak Mo (kakek Ling Ling) juga mengungkapkan kegembiraan dan rasa syukurnya bisa bermain dalam film Soegija ini. “Film ini sangat edukatif terutama mengenai pluralisme. Ini sangat penting bagi manusia Indonesia masa kini,” ujarnya.
Sedangkan bagi ButetKartaredjasa yang berperan sebagai koster Toegimin yang selalu membantu Mgr. Soegija mengatakan dirinya sangat serius dan taat pada skrip film ini. “Sakin seriusnya menjadi banyak terjadi di luar skrip,” ungkapnya dengan canda khasnya.
Mariyem yang diperankan oleh Anissa Hertami juga mengemukakan bahwa dalam film ini sosok Soegija mampu memberikan keteladanan yang luar biasa melampaui kemampuannya dan terutama melampaui agamanya.

Testimoni lain juga terungkap dari beberapa pengamat sosial dan para ahli sejarah. “Dengan menonton film ini saya semakin yakin tak ada satu pihak atau kelompokpun yang berhak merasa memiliki negara ini,” ungkap seorang sosiolog.

Sonar Sihombing