66 Tahun Majalah Hidup

720
66 Tahun Majalah Hidup

Bertempat di Gereja Katedral Jakarta, sore 5 Januari 2012 lalu Mgr. I. Suharyo, Pr Uskup Agung Jakarta memimpin misa ungkapan syukur  ulang tahun ke-66 Majalah Mingguan Hidup. Misa  konselebrasi dengan dibantu empat orang imam ini menjadi sangat meriah karena diiringi paduan suara Mia Patria pimpinan Putut Pudyarto dengan lagu-lagu nuansa etnis berbagai daerah. “Lagu-lagu berirama Jawa, Bali, Batak, Melayu, serta tari-tarian yang mengiringi misa syukur ini   melambangkan bahwa Majalah Hidup diterima oleh dan diperuntukkan untuk berbagai etnis dari seluruh Nusantara,” jelas Intan Permatasari, mantan finalis Akademi Fantasi Indosiar (AFI) III yang bertindak sebagai pembawa acara.

Dalam kothbahnya Mgr. Suharyo menandaskan bahwa Majalah Hidup adalah majalah KAJ tetapi dibaca oleh seluruh umat katolik Indonesia. “Karena itu saya menganggap kehadiran Majalah Hidup ini sebagai sarana mewartakan kabar gembira melalui cetak kepada umat katolik Indonesia. Saya membayangkan bagaimana seorang umat merasa tersentuh dengan membaca sebuah kesaksian hidup beriman yang disajikan Hidup. Atau seorang umat bertambah imannya dan pengetahuannya setelah membaca Hidup. Itulah sebabnya saya merasa kehadiran Hidup merupakan sarana penting bagi pewartaan terutama di era hidup modern saat ini,” tegasnya.

Lebih jauh Mgr. Suharyo menandaskan bahwa hidup manusia di era sekularisasi saat ini sudah gampang sekali mengesampingkan Allah. “Karena sebagian  merasa dirinya sudah  mampu merencanakan masa depan kehidupannya, mengandalkan kebolehannya meskipun masih ada yang selalu berpasrah kepada kehendak Allah. Ini persis seperti kisah Kain dan Abel,” ungkap Mgr. Suharyo.

Abel yang berprofesi sebagai penggembala yang terus berpindah-pindah dan tidak tahu apa yang akan terjadi mengenai masa depannya. Sehingga Abel hanya bisa berpasrah kepada alam dan Allah.

Sedangkan Kain berprofesi sebagai petani yang sudah menetap. “Sehingga dia sudah bisa merencanakan masa depannya dengan menyimpan hasil panenannya untuk masa depan. Sehingga dia merasa semakin tidak perlu memberi tempat  Allah berperan  dalam kehidupannya,” lanjut Mgr. Suharyo.   Hal serupa juga terjadi di era modern ini. “Manusia telah mampu membuat hujan buatan. Karena itu dia merasa  untuk apa lagi harus berdoa memohon hujan kepada Allah. Dalam keadaan seperti inilah kehadiran Mahjalah Hidup sangat memegang peran penting yaitu  berupaya menghadirkan Allah ditengah-tengah manusia yang semakin menjauh dari Allah,” tegas Mgr. Suharyo.

Misi penting inilah yang harus mendapat dukungan setiap umat KAJ. Seorang pastor, guru,   seorang dosen atau seorang pimpinan lembaga mempunyai tanggungjawab untuk memperkenalkan majalah ini kepada umatnya,  muridnya, kepada mahasiswanya ataupun kepada karyawannya. “Bila seorang imam, guru, dosen atau pimpinan lembaga memperkenalkan  majalah ini kepada warga lingkungannya pasti akan mendapat perhatian mereka. Paling tidak dia pernah melihat dan mendengar mengenai kehadiiran Majalah Hidup yang sudah berusia 66 tahun ini. Artinya ini menjadi bagian dari panggilan hidup kita untuk memperkenalkan Majalah Hidup ini kepada sekitar kita persis seperti Filipus memperkenalkan Yesus kepada Natanael. Tujuan kita agar manusia modern ini tetap dekat dengan Allah,” urai Mgr. Suharyo.

Jadi, lanjut Mgr. Suharyo mengenalkan Majalah Hidup kepada orang lain bukan semata-mata perkara teknis pemasaran, tetapi jauh lebih mendalam dari itu adalah perkara iman. “Karena itu mari umat KAJ mari menjadi Filipus – Filipus dan Filipa-Filipa yang mewartakan Allah,” ajak Mgr. Suharyo.

Di pihak lain Roesilah Kasiyanto, ketua Yayasan Hidup Katolik mengatakan bahwa Majalah Hidup sebagai sarana pewartaan harus tetap bisa  menyesuaikan diri dengan zamannya. “Hanya dengan demikian majalah ini selalu dinanti-nanti pembacanya. Untuk itu seluruh awak Hidup harus terus belajar, belajar dan belajar untuk menyempurnakan dirinya dan kompetensinya. Hidup ini adalah belajar,” tegasnya.

Roesilah juga menekankan perlunya Hidup memperhatikan sisi bisnisnya. “Sebab untuk bisa terus bertahan harus ada profitabilitas untuk menunjang pengembangan lembaganya,” tandasnya. Kehadiran Majalah Hidup juga menurut dia merupakan salah satu sarana KAJ untuk meujudkan Arah Dasar Pastoral KAJ 2010 – 2015.

Harapan senada juga diungkapkan oleh A. Margana, Pemimpin Umum Majalah Hidup.   Dalam usia 66 tahun, ujarnya, Majalah Hidup perlu dukungan semua pihak untuk tetap menjadi bacaan rohani setiap keluarga. Positioning Majalah HIDUP sekarang lebih jelas sebagai Mingguan Katolik, bacaan untuk meningkatkan pengetahuan dan keimanan katolik.

Margana juga menyatakan demi meningkatkan kepuasan pembacanya, pihaknya sebagai pengelola telah membenahi penampilan fisik majalah ini dengan kertas dan desain baru. “Majalah HIDUP ingin lebih memuaskan pembaca. Selain itu, iklan di Majalah HIDUP juga semakin bervariasi. Pemasang iklan bukan lagi melihat sekadar majalah Katolik, tapi mereka melihat pembacanya sebagai pasar potensial. Dari 15.000 majalah yang beredar, 90% berlangganan tetap. Pelanggan berarti orang katolik mampu yang menjadi pasar yang diincar oleh beberapa pemaang iklan seperti otomotif, perbankan, consumer goods, dll,” jelas Margana.

Sonar Sihombing