Bicara itu mudah, sebuah buku tentang “public Speaking” mengungkapkan hal itu. Yang saya maksud, berbicara di depan umum. Memang, Ada juga sih, Pribadi yang hobinya berbicara. apapun bisa ia komentari. Tapi, tidak selalu mudah bagi setiap orang. Ada saatnya, bicara menjadi hal yang sangat sulit. Seseorang harus dipaksa untuk berani berbicara dan mengungkapkan pemikiran dan perasaannya.
Tekanan dan ketegangan yang dialami petrus dan rasul-rasul lain, memaksa mereka akhirnya, untuk berbicara. Bukan Hanya sekedar asal berbicara ( Kis 5:29-32). Mereka berbicara dengan landasan yang tepat dan keyakinan yang jelas. Bagi para rasul, berbicara berarti mengungkapkan keyakinan iman dan memberi kesaksian bahwa Kristus telah bangkit.
Lalu? Di zaman romawi kuno, terdapat Forum atau plaza (sekarang:alun-alun), di pusat kota, sebagai sebuah bangunan terbuka, tempat masyarakat berkumpul untuk beradu argumentasi atas suatu hal. Saat ini, banyak juga fasilitas, media mendukung kita uhtuk “berbicara”. Hanya sayangnya, tidak di “depan” umum. Walau begitu, baiklah kita memperhatikan “bicara” kita. Adakah dasar atau landasan apa yang kita bicarakan dan untuk maksud apa kita bicara. Para Rasul, mengundang kita “berbicara” sebagai wujud kesaksian iman.
Bacaan I : Kis 5: 17-26 Mazmur Tgp : Mzm 34: 2-3.4-5.6-7.8-9 Injil : Yoh 3: 16-21
“Allah Membuka Jalan”
Dalam bacaan pertama, para Rasul ditangkap dan dimasukkan penjara karena banyak imam kepala yang iri hati terhadap mereka. Banyak orang mendengarkan dan mengikuti ajaran para Rasul daripada mendengarkan imam-imam kepala. Ketika mereka dipenjara, Allah membantu mereka dan melepaskan mereka. Mereka dengan bebas dan sukacita memberitakan Kerajaan Allah kepada banyak orang dan imam-imam kepala tidak berani menangkap mereka lagi. Ketika para Rasul dalam kesulitan, Allah memberikan jalan bagi mereka.
Demikian dalam bacaan Injil, Allah ingin menyelamatkan manusia. Yohanes menuliskan bahwa kasih sayang Allah terhadap dunia ditunjukkan dengan mengaruniakan Anak-Nya yang terkasih. Untuk memulihkan hubungan manusia dengan-Nya, Allah memberikan yang terbaik. Jalan terbaik yang Allah berikan adalah anak-Nya. Melalui Yesus Kristus, Allah memulihkan perjanjian dan sekaligus memberikan seorang teladan bagi manusia agar manusia juga mampu membangun relasi yang baik.
Dalam hidup keseharian, kadang kita berhadapan dengan masalah yang sulit. Mungkin pula dalam situasi tertentu, kita menjadi merasa lelah dan tidak memiliki solusi. Namun, kita bisa belajar dari bacaan-bacaan hari ini, di mana Allah memberikan jalan bagi umat-Nya. Kepada para Rasul, Allah membuka pintu penjara dan kepada manusia, Allah memberikan jalan agar manusia dapat memiliki hubungan yang baik dengan Allah. Kita belajar bahwa Allah memberikan jalan yang terbaik bagi kita dalam setiap masalah. Allah memiliki cara untuk menolong dan memberikan solusi dalam hidup kita.
Sejak Gereja Perdana, Kesejahteraan Bersama diusahakan terus dengan setia.
“Kumpulan orang yang telah percaya kepada Yesus sehati sejiwa”
Apa itu sehati dan sejiwa? Kisah Para Rasul merunutkan contoh-contohnya.
Segala sesuatu adalah kepunyaan bersama. Tidak ada yang berkekurangan. Yang memiliki harta menjual hartanya dan dipersembahkan di depan kaki para rasul untuk kepentingan bersama. Tidak ada yang memikirkan dirinya sendiri. Sesama adalah dirinya, dirinya adalah sesama.
Salah satu yang melakukannya adalah Barnabas.
Sudah pasti ini adalah karya Roh Kudus, ketika seseorang berani menjual milik-Nya dan memberikannya untuk kebaikan bersama.
—
Barnabas menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul.
“Angin bertiup ke mana ia mau, ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh”. Demikian penjelasan Yesus kepada Nikodemus.
Tidak ada seorang pun yang tau bagaimana seseorang hidup secara baru. Tuhan memilih siapa yang Ia mau.
Bukalah dirimu, biarkan Roh Tuhan memimpinmu, membebaskanmu dari segala yang lekat tak perlu.
Refresh adalah salah satu tombol di komputer untuk mempercepat kerja komputer kita. Refresh juga istilah untuk menyegarkan diri setelah lelah dan jenuh bekerja serta beraktivitas. Pastinya, refresh juga istilah iman untuk memperbarui diri kita.
Peristiwa Paskah menyadarkan kita bahwa Allah me-refresh diri kita untuk jadi baru. Kita diberikan kesempatan untuk melangkah lagi dengan mantap. Kita memulai lembaran baru dan bangkit dari kegagalan kita. Kegagalan telah berlalu dan harapan ada di depan mata.
Maukah kita bertahan di masa lalu atau melangkah ke depan? Maukah kita berjalan bersama Yesus yang dijumpai oleh Nicodemus hari ini? Ya, Yesus yang memperbarui hidup Nicodemus untuk melihat dunia dengan penuh iman dan harapan. Ingat, Dia itu setia dan tidak pernah meninggalkan kita.
Semoga kita makin membarui diri dan melangkah ke depan bersama Yesus. Mari bersaksi dan berbahagia sebagai orang beriman. Thank God It’s Monday! Thank God It’s Monday!
“Tuhan Yesus itu wajah aslinya yang mana ya? Karna di patung, di gambar-gambar wajahnya bisa beda-beda”.
“Lalu kalau wajahnya beda-beda, dari mana kita bisa mengenali Yesus yang sebenarnya?”
Kalau kamu yg mendapat pertanyaan ini, bagaimana jawabanmu?
—
Iman Katolik itu Apostolik. Dasar iman para rasul – para saksi mata.
Setelah kebangkitan Kristus, para rasul dan murid-murid sendiri pun tidak bisa langsung mengenali-Nya. Aneh ya, padahal merekalah circle terdekat Yesus. Tiap hari bersama-Nya. Mereka sudah lupa apa bagaimana? Apakah Yesus sudah berubah rupa sehingga wajah-Nya tidak dikenali lagi?
Para Rasul dan Gereja mengenali Yesus dengan cara lain.
—
Pertama,
Para Rasul mengenali Yesus lewat luka-luka-Nya, di tangan dan di lambung-Nya.
Sesudah berkata demikian, Yesus menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.
Wajah Yesus, warna kulit-Nya, rambut-Nya, bisa berbeda-beda. Tapi luka-luka di tangan dan secara khusus luka di lambung-Nya pasti selalu ada. Karena biasanya, dalam tradisi penyaliban kekaisaran Roma mereka yang disalib kakinya akan dipatahkan. Hanya Yesus yang memiliki luka di lambung karena tusukan tombak dan di kepala-Nya karna mahkota duri. Karena luka di tangan dan lambung Yesus juga Thomas mendapatkan iman-Nya kembali.
Di mana kita bisa melihat gambar Yesus dengan luka-luka di tangan dan lambung-Nya?
Coba cek patung atau gambar salib di Gereja Katolik di seluruh dunia ini, selalu ada luka di tangan dan lambung-Nya meski wajah-Nya berbeda-beda.
—
Kedua, dalam murid-murid yang berkumpul, berdoa, mendengarkan Kitab Suci dan memecahkan roti.
Ekaristi.
Setelah kebangkitan, berulangkali para murid mengenali Yesus yang bangkit dengan cara ini.
“Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.” Lukas 24:30-31.
Ditambah lagi, murid yang bersatu, saling berbagi harta miliknya kepada semua orang sesuai keperluannya masing-masing.
“Semua orang yang percaya tetap bersatu, dan semua milik mereka adalah milik bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.” Kisah Para Rasul 2:44-45
Di mana kita menemukan Yesus menjelaskan Kitab Suci, memecahkan roti dan memberikannya. Di mana kita menemukan murid-murid-Nya yang saling berbagi harta miliknya untuk semua orang?
—
Hanya di Gereja Katolik Roma kita berjumpa dengan Yesus yang sebenarnya. Yesus yang sama seperti murid-murid mengenali-Nya setelah kebangkitan. Dalam Ekaristi dan persatuan umat yang saling berbagi.
Tapi Ekaristi di Katolik itu membosankan, bikin ngantuk, dan saya menderita. Mending di tempat lain meriah, lagunya hingar bingar segar.
Tapi, apakah di sana kamu menjumpai gambar Yesus dengan luka-luka-Nya? Dia yang menjelaskan isi kitab suci dan pemecahan roti? Murid-murid-Nya saling berbagi harta untuk semua orang bukan untuk pemimpin-Nya?
Renungkan tulisan Rasul Petrus dalam bacaan kedua hari ini,
“Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya kelak.” 1 Petrus 1:6-7
“Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira dengan rasa sukacita yang mulia dan tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” 1 Petrus 1:8-9
Sebagaimana Yesus, Petrus dan Yohanes pun dihadapkan ke Mahkamah Agama. Itu terjadi karna mereka menyembuhkan, membuat mukjizat dan mengajar di mana-mana bahwa Yesus yang disalibkan dan wafat itu telah bangkit.
Saat perundingan, para mahkamah agama kebingungan. Mukjizat terjadi nyata disaksikan oleh mereka sendiri dan banyak orang. Supaya berita ini tidak makin luas, mereka melarang para rasul untuk bersaksi.
“Tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang kami lihat dan kami dengar” kata dua rasul ini. Mereka lebih memilih taat kepada Allah daripada kepada manusia.
—
Banyak waktu dan kesempatan tiba-tiba disediakan Tuhan, menjadi kesempatan bagi kita untuk bersaksi tentang kebaikan Tuhan di hadapan banyak orang.
Tapi sebelum itu, yakinkah kamu akan apa yang telah kamu lihat dan dengar tentang Kristus? Bagaimana kita bisa bersaksi, kalau kita sendiri masih ragu?
Hoc jam tertio manifestatus est Jesus discipulis suis cum resurrexisset a mortuis ; “Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati”.
Tuhan yang bangkit adalah Dia yang setia dan berkomitmen dalam menyertai kita. Hal ini dibuktikan Kristus hingga penampakan-Nya yang ketiga kali kepada para murid. Allah tidak pernah meninggalkan kita melainkan selalu mengingatkan kita agar senantiasa memperbarui diri.
Namun kitalah yang kerap tergoda untuk kembali ke manusia lama kita, cara hidup kita yang dipenuhi dosa. Bila selama masa Prapaskah kita sudah berjuang meninggalkan sifat dan kebiasaan buruk, maka hendaklah hal itu dilanjutkan hingga kini. Jangan sampai setelah selesai masa pantang, kita kembali pada rutinitas manusia lama kita.
Kita diajak untuk bangkit bersama Kristus menjadi pribadi baru, manusia yang memiliki keutamaan kristiani. Sehingga dengan bangkit bersama dengan Kristus, kita boleh berbuah dan menjadi terang serta garam bagi sesama. Mewartakan Tuhan yang bangkit dengan cara hidup kita yang mengikuti teladan Kristus.
Kita baru saja memasuki masa paskah. Sebagai persiapan, di masa prapaskah lalu diadakan pertemuan APP – retret umat. Kita semua diberi kesempatan untuk mengisi hidup dengan firman Tuhan dari KItab Suci. Senang sekali mendengar kisah para penggiat lingkungan yang mengusahakan pertemuan ini tetap berjalan meski dengan cara virtual. Syukur Kitab Suci masih dirindukan. Mereka tetap berusaha hadir, meski kadang merasa Kitab Suci adalah bacaan yang sulit.
Dalam kisah kebangkitan, terlebih dalam kisah Murid yang ke Emaus, rahmat kebangkitan menghantar para murid untuk memahami Kitab suci. “Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.” (Luk 24:45). Memahami kitab suci bukan sekedar mempunyai banyak pengetahuan. Pemahaman berlangsung dari Tuhan. Pemahaman dan pikiran para murid yang terbuka tentang kitab suci justru terjadi ketika mereka “berkumpul” dan merenungkan bersama. Dalam kebersamaan, iman tumbuh dan pemahaman berbuah.
Lalu?
Sabda Tuhan di dalam Kitab suci bukan sekedar tulisan mati. Yesus bukan sekedar tokoh di masa lalmpau. Ia tetap berjalan bersama kita. Ia terus membuka hati dan pikiran kita untuk memahami sabda-Nya. Baiklah kita membuka dengan doa sebelum membaca sabda-Nya.
Bacaan I : Kis 3: 1-10 Mzm : Mzm 105: 1-2.3-4.6-7.8-9 Bacaan Injil : Luk 24: 13-35
Kekhasan yang Menggembirakan
Setelah kematian Yesus dan peristiwa kubur kosong, para rasul mengalami kehilangan dan kebimbangan, termasuk kedua rasul yang sedang berjalan menuju Emaus. Dalam perjalanan, Yesus mendekati, berbincang, berjalan bersama mereka dan singgah untuk makan bersama mereka. Dari sepanjang waktu perjalanan dengan Yesus, kedua rasul tidak mengenal Yesus. Namun, ketika perjamuan makan bersama dengan Yesus, mereka mengenal Yesus karena kebiasaannya dan kekhasannya dalam mengucapkan doa syukur.
Dalam permenungan saya, kebangkitan Kristus semakin diperkuat dengan mengenal kekhasan Yesus. Dalam hal ini, kekhasan itu adalam makan bersama, atau sekarang kita mengenalnya dengan Ekaristi. Perjamuan makan telah membuka mata dan hati kedua rasul dan mereka pulang dengan keyakinan bahwa Yesus telah bangkit. Mereka tidak lagi mempersoalkan apakah Yesus telah hilang atau apakah mereka kecewa dengan kematian Yesus. Mereka kembali dengan keyakinan, Yesus sudah bangkit, karena orang yang telah makan bersama dengan mereka adalah Yesus yang mereka kenal, hanya Dia yang seperti itu.
Dalam hidup sehari-hari, kita pun dapat mengenali orang dari kekhasannya dan kita sungguh yakin bahwa dia adalah orang yang kita kenal. Demikian pula dalam kehidupan iman kita. kita dapat berefleksi, peristiwa hidup manakah yang senantiasa mengingatkan saya kepada Tuhan? atau, dalam Ekaristi, apakah aku sungguh merasakan kedekatan dan kegembiraan dengan Tuhan? Kegembiraan Paskah dapat senantiasa kita rasakan ketika kita mengenal Tuhan dan merasakan kekhasan-Nya dalam hidup kita. Kekhasannya akan senantiasa menjadi penanda bahwa Dia telah bangkit dan menyertai perjalanan hidup kita.
Kata Yesus kepada Maria Magdalena, "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa"
Kis 2:36-41 Yoh 20:11-18
“DARI WARISAN MENJADI KEPUTUSAN”
Anda baptis bayi atau dewasa? Tentu baptisnya sama saja. Yang membedakan adalah siapa yang membuat keputusan.
Waktu kecil, orangtuaku yang memutuskan bahwa iman katolik adalah yang terbaik. Dan itu mereka wariskan kepadaku. Aku dibaptis katolik 9 bulan setelah lahir di dunia.
Berpuluh-puluh tahun berlalu, mengenal, semakin memahami aku menjadikan iman yang pada awal mulanya dipilihkan ini menjadi pilihanku sendiri. Ini keputusanku untuk tetap mengimani Yesus dalam Gereja Katolik. Bahkan lebih lagi, aku menjadi imam-Nya. Aku tidak ingin kehilangan segala hal yang Tuhan berikan lewat Gereja-Nya. Dari warisan menjadi keputusan, aku tetap simpan apa yang telah diberikan.
—
Namun ada banyak yang terjadi sebaliknya. Pada usia hidup tertentu memutuskan tidak memilih iman katolik yang dulu dipilihkan oleh orangtuanya. Itu sah-sah saja. Tuhan menghargai kebebasan setiap orang.
Namun, pertanyaannya adalah apa yang terjadi pada fase antara dipilihkan sampai pilihannya sendiri? Apakah dia dibantu untuk mengenal, memahami dan akhirnya semakin mencintai iman yang telah dipilihkan itu? Apakah lingkungan hidupnya, keluarga dan komunitasnya memberi kesaksian yang cukup bagi perkembangan imannya?
—
Dan dengan banyak perkataan lain lagi Petrus memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh, dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya “Biarlah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini”.
Banyak orang terharu mendengar kesaksian Para Rasul dan bertanya, “Apakah yang harus kami perbuat?”. Iman adalah sebuah keputusan. Setelah mendengar dan mengalami Tuhan lewat kesaksian para rasul mereka ditantang untuk ambil keputusan bagi hidup mereka sendiri.
“Bertobatlah, dan hendaklah dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu”, kata Petrus kepada mereka.
—
Maria Magdalena menangis di dalam kubur Yesus. Tuhan menampakkan diri kepadanya dan memanggil nama pribadinya, “Maria!”. Imannya diteguhkan kembali. Tuhan lalu mengutusnya untuk memberi kesaksian kepada para murid yang lain.
Maria Magdalena menjadi saksi pertama kebangkitan dan diutus untuk menguatkan para murid yang sedang goyah. Ia bersaksi kepada para Murid, “Aku telah melihat Tuhan!”. Tebak keputusan apa yang diambil para murid setelah mendengar kesaksian itu?