Jika Anda berminat, harap menghubungi Frater Patrick atau Camel (telp. 021-4203374, Hp. 91078610; 081617446114; 085718314615).
Pax Christi
Fr. Budi Nahiba (Promotor Panggilan)
Pax Christi
Fr. Budi Nahiba (Promotor Panggilan)

Narasumber: Ibu Susi Hutomo (CEO the Body Shop Indonesia dan member Greenpeace dari Asia Tenggara).
The Body Shop Indonesia merupakan perusahaan yang fokus memperjuangkan Green Behavior.
“Mudah-mudahan melalui seminar ini, kita bisa memperoleh pencerahan yang bisa kita bawa pulang ke tempat kita berkarya dan menjadi pondasi pergerakan Green Behavior kita,” ungkap RD Kuswardiyanto atau yang akrab disapa Romo Anton ketika membuka seminar lingkungan hidup yang difasilitasi oleh The Body Shop Indonesia di Paroki Maria Regina Bintaro (6/9).
Mengawali presentasinya, Susi Hutomo selaku narasumber memutar lagu “Earth” yang mengisahkan kerusakan ekosistem bumi. Kemudian dilanjutkan pemaparan tentang apa itu Global Warming dan efek negative yang ditimbulkannya.
“Global Warming berarti Pemanasan Global yang diakibatkan oleh radiasi sinar infra merah matahari yang terperangkap di bumi,” ungkap CEO The Body Shop ini. Seharusnya sinar infra merah dari matahari itu dipantulkan kembali ke luar angkasa. Namun akibat tingginya kadar gas Karbondioksida (CO2) dan methana (CH4) membuat lapisan ozon menjadi berlubang. Padahal lapisan ozon ini yang seharusnya melindungi bumi dari terjangan sinar infra merah dengan cara memantulkannya kembali ke angkasa.
“Kadar gas karbondioksida dan metana ini paling besar dihasilkan oleh aktivitas manusia yang kebanyakan negative bagi lingkungan seperti hasil pembakaran bahan bakar fosil yaitu minyak bumi dan batu bara. Selain itu juga pembukaan lahan hutan primer untuk dijadikan ladang industry, pembuangan sampah yang tidak bisa didaur ulang secara sembarangan, pembakaran sampah dsb,” jelas Susi Hutomo secara panjang lebar.
Lebih lanjut salah satu aktivis Green Peace di regional Asia Tenggara ini menjelaskan bahwa salah satu efek langsung dari pemanasan global ini adalah Perubahan Cuaca yang ekstrem dan tidak dapat atau susah diprediksi. “Kita lihat saja Glaciers (selimut es abadi) di puncak gunung-gunung tertinggi di dunia mulai banyak yang mencair. Lapisan Es tebal di kutub utara dan selatan juga semakin terkikis secara cepat. Ini tentunya sangat mengancam kehidupan di bumi ini.”
Di suatu negara mengalami musim kering yang luar biasa, sedangkan di negara lain mengalami banjir badang dan badai yang sangat besar. Ini merupakan salah satu perubahan iklim ekstrem yang diakibatkan oleh global warming.
Di Indonesia sendiri khususnya di Jakarta banjir, kemarau, dan hujan lebat sudah tidak sesuai dengan musimnya (tidak bisa diprediksi lagi). Selain itu permukaan air laut pun semakin meninggi akibatnya akan banyak pulau tenggelam. Diperkirakan pada 2050 kenaikan air laut akan menggenangi sekitar 160,4 km2 wilayah DKI Jakarta.
“Sungguh mengerikan bahwa hutan primer dai Kalimantan dan Sumatera mengalami penebangan hutan besar-besaran, dan Papua sendiri pun sudah mulai mengalami hal tersebut juga,” papar Susi, Semua hutan dibuka dan diubah menjadi hutan produksi seperti Kelapa Sawit, dsb. “Indonesia berada pada urutan kedua dunia yang mengalami deforestation (pembukaan lahan hutan primer secara massif untuk menjadi lahan industri) setelah Brazil,” lanjut Susi.
Usai penjelasan dari narasumber, RD Danto dari Keuskupan Agung Jakarta kemudian melontarkan pertanyaan, “Lalu kami sebagai para pastor, tindakan apa yang harus dilakukan untuk menjawab tantangan ini, dan apakah isu global warming ini betul-betul murni isu lingkungan hidup atau isu politik-ekonomi semata?”
Menanggapi hal tersebut Susi menjelaskan bahwa salah satu tindakan nyata dan sederhana adalah 3R yaitu Reduce, Reuse dan Recycle. Reduce yaitu mengurangi atau bahkan tidak menggunakan bahan-bahan yang menghasilkan sampah yang tidak atau susah didaur ulang. Reuse menggunakan kembali bahan-bahan yang telah digunakan semaksimal mungkin dan Recycle yaitu mendaur ulang sampah menjadi sesuatu yang berguna kembali.
Terkait dengan hal ini juga, Susi menambahkan bahwa proses penghematan energy merupakan hal yang sangat penting juga. Gunakan air dan listrik seperlunya. “Dan sebaiknya kita menggunakan energy terbaharukan seperti energy panas matahari (Solar Cell), energy angin, energy panas bumi, dsb,” pungkasnya.
Kemudian menanggapi pertanyaan kedua Susi menjelaskan bahwa Global Warming merupakan isu yang mencakup bidang apa saja; politik, ekonomi, sosial, dsb.
“Mari kita mulai melakukan sesuatu yang sederhana di tempat kita misalnya membuat biopori, pembuatan kompos, penghematan listrik dan air, dsb,”
RD Tunjung Kesuma menutup rangkaian kegiatan siang itu dengan menuturkan bahwa Imam yang suci dan pandai adalah Imam yang juga memberi perhatian pada kelestarian lingkungan hidup.
Misa Pembukaan :
Oleh Uskup Agung KAJ Mgr. Ignatius Suharyo didampingi Kardinal Mgr. Julius Darmaatmadja, Ketua Unio KAJ, Rm Hadi Suryono dan ditambah 8 Imam Diosesan lain.
Koor dan Petugas Liturgi Misa dari Paroki Kalvari, misa nuansa Keroncong.
Pertemuan unio region jawa merupakan rahmat Allah sendiri, semoga perjumpaan ini menjadi berkat bagi kita smua untuk semakin merasakan anugerah Allah pd kita khususnya anugerah imamat. SMoga perjumpaan inmi semkin meneguhkan panggilan ini.
Bac I: 1 Kor 2:1-5
Injil: Luk 4: 16-30 (Oleh Rm Adi Prasojo RD)
Homili: Mgr. Suharyo:
Bersyukur atas rahmat Allah atas kesempatan pertemuan ini. Selamat berjumpa untuk kita semua. Terima kasih untuk kita semua terutama panitia penyelenggara dan seluruh umat.
Tema kita: “Imam kami Suci dan Pandai.” Tidak mudah untuk menyatukan tema ini dan bacaan Misa ini. (Judul perikop ini adalah “Yesus ditolak oleh orang Nazaret.”)
Mengapa Peristiwa ini yang letaknya biasanya di tengah Injil pada ketiga injil lainnya, sedangkan Lukas menaruhnya di Depan Injinya. Maksudnya agar kita menjadi imam yang suci dan pandai (langsung disambut senyum dan anggukan oleh para umat yang hadir).
Yesus pertama kali diterima tapi kemudian ditolak. Paulus demikian juga, dia diterima di antiokhia tapi sesudah perjumpaan kedua di anthiokia Paulus kemudian juga diusir dari situ.
Lukas ingin menampilkan Yesus sbg pewarta sabda yg tidak mengikutkan arus Achievement Orianted, artinya Dia bukan berorientasi pada hasil. Karena kalau berorientasi pada hasil, hasilnya terlihat gagal. Yg mau dikatakan oleh Lukas, adalah ia tampak tampil didalam kebebasan rohaninya yg sangat sempurna. Yesus tidak mau diikat oleh interest (Kepentingan) apapun kecuali Allah sendiri.
Nampak dalam kisah, bagaimana Yesus ditolak namun tetap mau mewartakan di kota-kota lain juga. Ketika mau masuk ke Yerusalem juga Dia ditakuti-takuti tapi dia menjawabnya bahwa hari ini lusa atau seterusnya Dia akan tetap ke Yerusalem.
Yesus adalah pribadi Imam yang Suci dan Pandai. Dalam hal ini Suci tidak boleh terpisah dari Pandai. Suci dan Pandai ini adalah bermakna lepas bebas, dan hanya diikat oleh perspektif Allah, “Kedalam tanganmu kuserahkan nyawaku,” demikian Yesus ketika wafat di Salib.
Selain Yesus sebagai tokoh utama ada juga tokoh lain yaitu orang banyak. Orang banyak itu diceritakan mengalami dinamika batin yang menarik, yaitu kekecewaan. “Bukankah dia ini anak Yusup.” Ungkapan ini ungkapan kecewa. “Saya pikir dia anak hebat ternyata anak tukang kayu.”
Biasanya orang yang kecewa akan bertambah besar pengharapannya dan semakin pengharapan itu tidak terwujud maka mereka akan sangat marah dan gelap mata. Maka mereka hendak melempar Yesus ke tebing. Tokoh ini jelas bukan teladan Imam Suci dan Pandai.
Paulus pun dalam Bacaan Pertama dikisahkan pelan-pelan didik dalam rahmat hingga mencapai kesimpulan: “Supaya imanmu bukan bergantung pada hikmat manusia melainkan pada kekuatan Allah semata.” Demikianlah seharusnya kita menjadi Imam yang Suci dan Pandai layaknya Yesus dan Paulus.
“Saya mengajak para Imam untuk mengucapkan “Menjadi Imam yang Suci dan Pandai.” Ucapkan kalimat ini sebagai “mantra”: bangun tidur, mau tidur, mau makan dsb., selalu hendaknya diucapkan kalimat ini. Maka perlahan hal ini akan teringat dan kemudian terwujud dlm kehidupan sehari-hari kita sebagai Imam,” ungkap Mgr Suharyo.
Tuhan Memberkati.
Setelah Misa dilanjutkan dengan Pemberkatan baju dan colar oleh Bapak Kardinal yang akan diberikan satu persatu kepada para Imam untuk digunakan.
PERSAUDARAAN UNIO REGIO JAWA
PROGRAM BINA-LANJUT IMAM-IMAM
3-7 September 2012
Hotel Santika PREMIERE – KS Tubun Jakarta
UNIO adalah Paguyuban para imam diosesan yang sifatnya terbagi menjadi internasional, nasional dan regional, namun semuanya saling berhubungan dan menyatu. Unio merupakan bagian dari upaya para imam diosesan untuk terus-menerus menjawab panggilan sebagaimana dirumuskan Gereja mengenai kehidupan dan pelayanan para imam. UNIO merupakan persekutuan, communio atau menjadi satu dalam tahbisan imamat, menjadi satu dengan uskup diosesan sebagai pimpinannya, dan menjadi satu umat Gereja lokal di mana dia membaktikan seluruh hidupnya kepada uskup tersebut. Dengan demikian prioritas UNIO adalah pada persaudaraan yang didasarkan pada satu panggilan,satu tahbisan dan satu perutusan.
Di Indonesia UNIO adalah Paguyuban imam-imam diosesan yang dibentuk tahun 1983 dan berada di 37 keuskupan di Indonesia. Saat ini di Indonesia terdapat 1864 Imam Diosesan. Di Indonesia UNIO terdiri dari regio Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Maluku, Bali-Nusa Tengara Timur, Papua ini terbagi berdasarkan pembagian regio KWI.
Di Regio Jawa sendiri ada sekitar kurang lebih 560 Imam Diosesan. Dan secara rutin UNIO Regio Jawa bertemu. Tahun 2012 ini Temu UNIO Regio Jawa diadakan di Jakarta, 3 September – 7 September 2012 di Hotel Santika Jakarta.
Tema Besar adalah: Sebuah Program Bina Lanjut (On Going Formation) bagi Imam-Iman dan mempelajari keluhuran St Yohanes Maria Vianney (1786-1859) sebagai Pelindung para imam sedunia.
Tema khususnya (yang selalu terlontar dalam setiap surat dan gagasan temu para Imam): “Imam kami Suci dan Pandai.” Diambil dari kata-kata seorang Kepala Desa yang kagum akan Imam St. Yohanes Maria Vianney dari Ars, Perancis dimana Imam St. Maria Vianney pernah berkarya di sana. “Kami tidak punya Gereja yang bagus, kami miskin dan sederhana tapi Imam kami Suci.”
Banyak orang menilai St. Yohanes Maria Vianney itu santo yang bodoh, tapi setelah ditelusuri dengan seksama beliau ini sebenarnya pandai, karena jika tidak pandai tidak mungkin dapat membimbing banyak orang. St. Yohanes Maria Vianney memang tidak bisa berbahasa Latin, tapi itu dikarenakan dia tidak memiliki fasilitas untuk mempelajari bahasa Latin.
Tujuan Pertemuan Unio Regio Jawa saat ini:
Unio Regio Jawa tidak bisa terlepas dari Unio Universal (Internasional) Uni Apostolica Cleri dan juga Unio Indonesia (Nasional). Persaudaran Imam-Imam Diosesan ini melekat erat di seluruh dunia, supaya kami bisa saling berkomunikasi satu dengan lain antar negara, antar regio, antar keuskupan, antar individu, dsb. Kami ingin saling menguatkan sebagai sesama Imam Diosesan. Ketika Persaudaraan ini terbangun tentunya kita bisa berbagi bersama dengan siapa saja.
Pertemuan ini diisi dengan usaha Bina Lanjut (On Going Formation), artinya seorang imam yang sudah mencapai status dan pekerjaan tertentu harus selalu berkembang dengan berbagai cara. Beberapa hal yang akan dilakukan selama Pertemuan PERSAUDARAAN UNIO REGIO JAWA 3-7 September 2012, yaitu:
1. Meneladani St Yohanes Maria Vianney (1786-1859) sebagai Pelindung para imam sedunia. Saat itu akan diadakan nonton bareng Film Dokumenter tentang St Yohanes Maria Vianney.
2. Mencermati dan mengambil sikap terhadap keadaan-keadaan mendesak di lingkungan kita khususnya dampak Pemanasan Global (Global Warming) (Dibawakan oleh The Body Shop Indonesia)
3. Kemudian Para Imam diajak untuk menyadari kesehatan sebagai hal yang sangat penting dalam pelayanan. Tantangan Gereja harusnya dijawab dan dilayani oleh para pelayan Imam yang secara fisik sehat dan bugar. (dibawakan oleh Departemen Keshatn masyarakat dari Univ Atma dibaah Prof Ivone Susi Handayani).
Hal lainnya yang akan juga ditekankan yaitu menyangkut Identitas Imam dan Sebutan/Panggilan untuk para imam diosesan:
– Menyangkut Identitas para Imam harus mengenakan identitas yang jelas untuk mencegah kebingungan diantara umat. Para Imam hendaknya mengenakan Jubah atau minimal menggunakan Colar untuk menunjukkan identitasnya sebagai Imam.
– Para Imam Diosesan harus dipanggil dengan sebutan Imam Diosesan bukan Imam Projo.
Press Release
3 September 2012
Rm Kuswardiyanto, Pr
DEWAN KEPAUSAN UNTUK DIALOG ANTAR UMAT BERAGAMA
UCAPAN SELAMAT DI AKHIR BULAN RAMADAN
‘Id al-Fitr 1433 H. / 2012 A.D.
“Mendidik Kaum Muda Kristiani dan Muslim Untuk Keadilan dan Perdamaian”
Sahabat-sahabat Muslim yang terkasih,
Semoga Allah memenuhi hati, keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas mereka yang memelihara hasrat untuk menjadi ‘alat-alat perdamaian’, dengan sukacita dan harapan.
Selamat berbahagia kepada Anda semua!
Dari Vatikan, 3 Agustus 2012
Jean-Louis Kardinal Tauran
Presiden
Uskup Agung Pier Luigi Celata
Sekretaris
PONTIFICAL COUNCIL FOR INTERRELIGIOUS DIALOGUE
00120 Vatican City
Telephone: 0039-06-6988 4321 / 06-6988 3648
Facsimile: 0039-06-6988 4494
Email: dialogo@interrel.va
Pada hari Minggu (12/8) Sri Paus Benediktus XVI meminta umat Kristen di seluruh dunia untuk berdoa dan menunjukkan solidaritas kepada orang-orang dari tiga negara Asia yang baru-baru ini mengalami bencana alam.
“Saudara-saudara terkasih, pikiran dan hati saya saat ini pergi mengunjungi orang-orang di Asia, terutama di Filipina, Republik Rakyat Cina, yang paling terpukul oleh hujan badai dan banjir, serta mereka di Iran yang dilanda kekerasan gempa. Peristiwa ini telah menyebabkan banyak kematian dan cedera, ribuan pengungsi dan kerusakan yang luas. Saya mengundang Anda untuk bergabung dengan saya dalam doa dan bantuan nyata bagi mereka yang kehilangan kehidupan mereka dan untuk semua orang berusaha membantu dalam bencana yang menghancurkan tersebut.”
Korban tewas akibat hujan lebat dan banjir yang merendam sebagian besar Filipina Manila telah meningkat menjadi 85 jiwa. Hampir dua minggu musim hujan di seluruh pulau utama Filipina, Luzon, memuncak dengan datangnya banjir.
Sementara itu sebuah topan kuat juga mengancam Cina pekan ini, dengan angin 120 km per jam yang menerpa Shanghai. Puluhan orang dipastikan tewas dan hampir dua juta orang diungsikan.
Namun, jumlah korban tewas terbesar datang dari Iran di mana gempa bumi berurutan meratakan seluruh desa di bagian utara negara itu. Korban tewas resmi dari gempa Sabtu malam adalah 250 orang tewas dan lebih dari 2.000, terluka. Namun menurut stasiun tv resmi Iran, jumlah korban akan bertambah.
Lebih dari seribu penyelamat bekerja sepanjang malam untuk menyelamatkan orang yang terjebak di bawah reruntuhan dan untuk membantu para korban serta pengungsi di beberapa desa yang terkena dampak.
Menjelang sore pada hari Minggu, televisi Iran melaporkan bahwa operasi pencarian telah berhenti sementara. Ratusan tenda telah didirikan untuk menampung para tunawisma.
US Geological Survey melaporkan bahwa gempa pertama Sabtu di 4:53 am (1223 GMT) memiliki berkekuatan 6,4 dan terjadi 60 kilometer timur laut kota Tabriz pada kedalaman 9,9 kilometer. Gempa kedua dengan kekuatan 6,3 melanda 11 menit kemudian. Pusat gempa adalah 48 kilometer timur laut Tabriz pada kedalaman 9,8 kilometer.
Gempa melanda kota Ahar, Haris dan Varzaqan Timur Azerbaijan provinsi. Setidaknya enam desa benar-benar diratakan, dan 133 lainnya mengalami kerusakan mulai dari 50 hingga 80 persen.
Beberapa gempa susulan mengguncang 36 daerah yang sama dan dirasakan hingga dekat Laut Kaspia, menyebabkan kepanikan di antara penduduk.
Iran terletak di jalur patahan seismik dan rawan terhadap gempa bumi. Iran mengalami setidaknya rata-rata satu gempa setiap hari. Sebelumnya, pada tahun 2003, sekitar 26.000 orang tewas akibat gempa 6,6 SR yang meratakan kota bersejarah Bam sebelah tenggara.
SURAT KELUARGA AGUSTUS 2012
Sentuhan ibu bisa menyembuhkan
Pelukan ayah sangat menentramkan
Pernyataan kasih anak-anak bisa melegakan
Dan seluruh keluarga disatukan dalam peneguhan
Keluarga-keluarga KAJ terkasih,
Akhirnya keluarga kita memasuki masa-masa sibuk bersama lagi. Anak-anak memasuki rutinitas sekolahnya; orang tua kembali menata pekerjaan atau usahanya sambil menantikan liburan panjang menjelang hari raya lebaran yang akan datang. Kalau boleh saya bertanya, “Apa yang Anda peroleh dari liburan kemarin?” Apakah Anda menikmatinya? Apakah anak-anak gembira untuk kebersamaan itu?
Saya berharap, seluruh keluarga menikmati rekreasi yang membangkitkan semangat baru untuk bekerja, belajar, dan melakukan aktivitas lainnya. Semakin kuat kebersamaan diciptakan, semakin kuat pula relasi di antara kita sebagai satu keluarga. Kali ini saya ingin membagikan pesan indah untuk memberikan kata kata peneguhan yang sangat dibutuhkan oleh setiap anggota keluarga.
Seorang anak SMP membagikan pengalaman hidup kepada teman-temannya dalam sebuah rekoleksi. Ia membagikan bahwa selama ini studi adalah sebuah tekanan. Ia jarang mengalami kegagalan dan selalu naik kelas, tetapi baginya pengalaman sekolah sama dengan pengalaman kekerasan belajar bersama ibunya. Ibunya selalu menuntutnya untuk rajin, mengerjakan PR, mendapat nilai di atas rata-rata, dan mencapai 10 besar di kelas. Itu semua selalu diperjuangkannya.
Akan tetapi, anak laki-laki ini tidak memperoleh kegembiraan penuh meskipun ia sejaun ini bisa meraihnya. Ibunya selalu menuntut, bahkan menyebutnya “bodoh”, “telmi”, “tidak seperti kakak perempuan yang pandai”, atau “malas”. Ia pernah mencapai 6 besar, tetapi itupun tidak membuat si ibu puas. Kalimat ibunya adalah, “Kamu harusnya bisa lebih dari itu kalau rajin”.
Si anak merasakan bingung. Di satu pihak, ia merasa bahwa kata-kata ibunya itu benar dan penting, tetapi ia merasa semakin hari ibunya jauh dan tidak mencintainya. Keinginannya adalah menjadi besar dan berpisah dengan ibu yang selalu membuatnya tertekan. Baginya bersama ibu itu hanya dituntut dan dimarahi, dicela dan dikecilkan. Rupanya anak itu membutuhkan kata-kata afirmasi atau peneguhan positif dari ibunya.
Keluarga-keluarga di KAJ yang terkasih, setiap kita membutuhkan peneguhan dan kata-kata peneguhan yang keluar dari mulut yang jujur dan hati yang penuh kasih. Kita dapat memberikan peneguhan itu melalui kata kata yang baik, positif, membesarkan hati, dan disampaikan secara spontan dan langsung. Kebutuhan akan kata kata yang meneguhkan dan positif ini sering kita abaikan.
Cara mendidik kita pasti mempunyai tujuan baik. Setiap orang tua pasti menginginkan kesuksesan anak-anaknya. Di sela-sela itu, terseliplah ambisi, ketakutan gagal, gengsi, emosi, dll yang bisa sangat bertentangan dengan tujuan baik tadi. Anak-anak belajar karena takut, terpaksa, dan bahkan merasa “dikekang” kebebasannya. Meskipun sukses, tetapi dihantui rasa minder karena tuntutan dan kata-kata kasar orangtuanya.
Kalau kita berteriak, maksudnya adalah agar didengarkan. Tetapi kita mengabaikan perasaan anak, yang barangkali akan merasa ditindas, tidak dihargai dan direndahkan. Ketika kita memukul, barangkali kita merasa putus asa dengan cara-cara halus, tetapi bagi anak hal ini adalah penganiayaan dan pemaksaan sebagai bukti tidak dicintai oleh orangtua. Ketika kita memaki, anak-anak tidak menangkap disiplin, melainkan belajar memaki juga.
Keluarga-keluarga terkasih, sebenarnya, anak-anak itu belum tentu pemalas atau kurang bertanggungjawab, sikap mereka itu memberi pesan adanya kerinduan untuk mendapat pengakuan dan penghargaan atas dirinya sendiri serta hal baik yang sudah dilakukannya. Mereka ingin belajar sambil menikmati waktu dengan lega. Mereka ingin menjadi dewasa dan bertanggungjawab tanpa teriakan, pukulan, atau kata-kata kasar.
Mungkin bagi beberapa bapak ibu, mengajar tanpa kekerasan itu tidak mungkin, tetapi bukankah kita yang dulu memulai cara “andalan” itu? Bagaimanapun, kelembutan haruslah menjadi kekuatan yang diprioritaskan. Salah satu bentuk yang bisa menyembuhkan dan memperbaiki hubungan antar keluarga adalah kalimat-kalimat yang baik dan positif tadi. Kalimat-kalimat itu selain mendukung juga memberikan penghargaan dan rasa percaya diri pada orang-orang yang kita kasihi.
Cara ini tidak hanya perlu diperhatikan oleh para orang tua. Anak-anak, misalnya, yang tinggal dengan orangtua yang sudah lanjut pun dapat melakukannya sebagai tanda dukungan dan peneguhan pada mereka. Semua anggota keluarga seharusnya membuktikan kasihnya melalui kesungguhan saling memberi peneguhan positif dan baik.
Kita juga dapat mengungkapkan peneguhan dan ungkapkan positif dengan surat, kartu, sms, email, dll. akan tetapi, cara terbaik menyampaikan peneguhan adalah mengungkapkannya secara verbal (berbicara). Ketika kita mengungkapkannya yang perlu diingat adalah bahwa tujuan ekspresi ini adalah menyenangkan pasangan atau anggota keluarga lain, bukan memenuhi kebutuhan pribadi kita saja.
Semoga kita semua mampu menjadi pelaku-pelaku kasih bagi pasangan, anak-anak serta orang tua kita di rumah. Mari menjadikan keluarga sebagai ladang menabur kasih melalui ekspresi penuh kasih untuk kemudian hari menuai kesejahteraan lahir batin, kerukunan dan kebahagiaan berkeluarga. Tuhan memberkati.
Salam Keluarga Kudus Nazareth
Rm. Alexander Erwin MSF
Pada hari Minggu kemarin (22/7), Paus Benediktus mengungkapkan betapa ia sangat terkejut dan sedih mendengar tragedi kekerasan di Aurora, USA, dimana 12 orang terbunuh dan puluhan lain luka-luka. Termasuk salah satunya yang menjadi korban luka-luka adalah WNI Anggiat M Situmeang beserta keluarganya. Bapa Suci menyebut tragedi tersebut sebagai “Kekerasan yang tak masuk diakal.”Dalam tragedi itu dikisahkan seorang pria melepaskan tembakan secara membabi-buta selama film screening bioskop berlangsung.
Selain itu Beliau juga menyatakan empati yang sangat mendalam pada korban tragedi bencana tenggelamnya kapal Feri di Zanzibar, kepulauan semiotnomi yang masuk wilayah Tanzania. Peristiwa itu memakan korban jiwa 68 orang. “Saya turut berbagi penderitaan keluarga dan teman dari para korban dan, terutama anak-anak yang terluka dan dia meyakinkan bahwa semua orang yang menderita dalam tragedi itu akan dibawanya dalam doa.”
Paus Benediktus mengucapkan hal ini setelah pembacaan doa Angelus di halaman kediaman musim panas Paus di Castelgandolfo di perbukitan Roma. Dalam kesempatan itu tidak lupa beliau memberikan dorongan semangat kekeluargaan bagi mereka yang mengambil bagian dalam Olimpiade 2012 di London.
“Saya mengirim salam hangat kepada para atlet, panitia penyelenggara dan penonton semuanya. Saya berdoa bahwa dalam semangat sportif Olimpiade, muncullah niat baik yang dihasilkan melalui setiap peristiwa olahraga internasional ini yang tentunya membuahkan, terutama dalam hal, mempromosikan perdamaian dan rekonsiliasi di seluruh dunia. Bagi semua yang hadir dan terlibat langsung maupun tak langsung dalam Olimpiade 2012 London, saya memohonkan berkat khusus dan berlimpah dari Allah Yang Mahakuasa.”
Sebelum Angelus, Paus Benediktus mengambil waktu sejenak untuk merenungkan Injil hari Minggu ini, di mana Yesus digambarkan di “Gembala yang baik”.
Bapa Suci menjelaskan kepada umat beriman yang berkumpul, bahwa Tuhan adalah Gembala umat manusia yang ingin membimbing kita ke padang rumput yang baik, yang disebutkan sebagai “Kepenuhan Hidup.”
Yesus, kata Paus Benediktus, menyajikan dirinya sebagai Gembala yang selalu mencari domba yang hilang.
Lebih lanjut, Bapa Suci menjelaskan bahwa penyembuhan tersembunyi dalam diri Allah bekerja melalui Yesus, yang membawa kedamaian sejati dan rekonsiliasi.
Menutup renungannya, Paus mengatakan, bahwa di tengah-tengah benih “kejahatan perang, Allah tetap hadir menciptakan perdamaian.” (http://www.news.va/).