
Diangkat Karena Setia
Why. 11:19a;12:1-6a.10ab — 1Kor. 15:20-26 — Luk. 1:39-56
Sebelum Maria diangkat ke surga, ia lebih dulu berdiri di depan pintu rumah Elisabet dan mengucapkan Magnificat. Jiwaku memuliakan Tuhan. Kalimat itu keluar justru ketika Maria baru saja menerima kabar yang mengubah seluruh hidupnya secara tidak terduga. Kemuliaan yang kita rayakan hari ini berakar di sana — pada kesediaan seorang perempuan muda untuk berkata ya, jauh sebelum ia tahu ke mana ya itu akan membawanya.
Wahyu 12 melukiskan perempuan berselubung matahari yang berhadapan dengan naga besar. Kemuliaan Maria hadir di tengah ancaman, tumbuh justru dari pergumulan yang nyata. Ini yang sering luput dari cara kita membayangkan kekudusan. Maria menunjukkan bahwa kekudusan sejati justru teruji dalam keadaan yang sulit — kesetiaan yang bertahan ketika situasi tidak menjanjikan kepastian apa pun.
Paulus menyebut Kristus sebagai buah sulung dari kebangkitan, dan mereka yang ada di dalam-Nya akan menyusul. Maria menjadi bukti pertama janji itu digenapi, sekaligus jaminan bagi setiap orang yang menjalani kesetiaan yang sama — dalam skala yang jauh lebih kecil dan lebih sunyi.
Saya pernah mendampingi seseorang yang bertahun-tahun merawat anggota keluarganya yang sakit, tanpa sorotan, tanpa penghargaan, tanpa kepastian kapan semua akan berakhir. Ia menjalani semua itu dengan diam, sebagai bagian biasa dari kasihnya. Kesetiaan seperti itulah yang dirayakan hari ini lewat diangkatnya Maria — kesetiaan yang dijalani dalam ketidaktahuan, dan yang pada akhirnya diangkat Tuhan ke tempat yang layak baginya.
Hari Raya ini menegaskan bahwa kemuliaan adalah upah bagi mereka yang tetap berkata ya di tengah perjuangan yang panjang.
—
RA




![[LINK LIVE] RIP Rm. Adrianus Andy Gunardi,Pr – Misa Requiem | Selasa, 11 Agustus 2026, Pk.19.00 di RD Carolus](https://www.kaj.or.id/wp-content/uploads/2026/08/ChatGPT-Image-11-Agu-2026-09.18.59-100x70.png)






