Nyala “Api” Semangat Kristus

Populer

cross-and-fire_1024x768

Hari Minggu XX dalam masa biasa tahun ini, jatuh dalam suasana peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. “Api” perjuangan dikobarkan untuk mencapai cita-cita kemerdekaan dan membangun Negara yang adil dan makmur berazaskan Pancasila.

Mgr Albertus Soegijapranata SJ (1896-1963) menyalakan “api” perjuangan umat Katolik dengan penegasannya, “Umat Katolik itu 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia.” Bacaan Kitab Suci pada hari Minggu ini pun berbicara tentang “api” yang harus tetap menyala, semangat yang tak kunjung padam. Mari kita merenungkannya sejenak.

“Aku datang melemparkan api ke bumi dan betapa Kudambakan agar api itu selalu menyala!” (Luk 12:49). Kata-kata Yesus tersebut tergolong keras. Ia mengajak kita untuk melakukan tugas panggilan kristiani dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat. Kita diharapkan tidak ragu atau mundur menghadapi kesulitan ataupun tantangan yang kita temui di tengah jalan. Arah dan tujuannya jelas, maka “api” semangatnya tidak boleh padam demi memperjuangkan dan mencapai apa yang dicita-citakan.

Dalam situasi zaman sekarang ini, di satu sisi, kita melihat perkembangan dan kemajuan di pelbagai bidang. Namun di sisi lain, tantangan materialisme, konsumerisme, hedonisme, dan individualisme merajalela di mana-mana. Selain itu, jurang perbedaan antara kaya-miskin semakin mencolok. Perjuangan mesti terus dilakukan demi kesejahteraan manusia seutuhnya, jasmani dan rohani.

Visi misi Yesus sangat jelas, yaitu melaksanakan kehendak Bapa untuk keselamatan umat manusia, jasmani dan rohani. Demikianlah yang harus Ia lakukan, apapun kesulitan dan hambatannya, betapa pun besar pengorbanannya.

Dalam melaksanakan kehendak Bapa, Yesus tidak melakukannya sendiri. Ia mengumpulkan para rasul dan murid-murid perdana untuk diikut-sertakan dalam pelaksanaan kehendak Bapa bersama-Nya. Orang-orang ini merupakan orang-orang pilihan-Nya. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh 15:16).

Kita ini pun termasuk orang-orang pilihan-Nya, meski kita menyadari kelemahan dan ketidaklayakan kita. Kristus telah memilih kita menjadi pengikut dan murid-Nya, sahabat-Nya dalam mengemban amanat Bapa.

Kita yang dipanggil dan dipilih menjadi murid-murid-Nya hendaknya melaksanakan perutusan-Nya dengan mata yang tertuju kepada Yesus. “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, …” (cfr. Ibr 12:2). Konsentrasikan pada diri Yesus Kristus! Pahami dan kenalilah Dia! Jadilah sehati sepikir dengan-Nya! Sehingga Ia menjadi teladan dan kekuatan yang meneguhkan kita untuk berjuang terus bersama-Nya.

Dialah yang memimpin kita dalam iman. Ia tidak peduli akan kehinaan kayu salib, Ia tekun memikul salib-Nya sampai ke titik akhir, yaitu penyaliban di Golgota. Yesus setia dan tabah menanggung segala bantahan terhadap diri-Nya, pun kalau bantahan dan perlawanan itu datang dari orang-orang yang berdosa, orang-orang yang tidak pantas.

Melihat teladan Yesus tersebut, kita pun semakin dikuatkan oleh “api” semangat yang menyala dalam Hati-Nya. Kalau Ia rela dan berani menghadapi segala cobaan itu, kita pun mengikuti ajakan-Nya, “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9:23).

Seperti yang terungkap dalam Ibr 12: 3-4, “…janganlah kita menjadi lemah dan putus asa”, sebab “dalam pergumulan kamu melawan dosa, kamu belum sampai mengucurkan darah.” Kita harus berani mengikuti Yesus seperti yang ditunjukkan oleh para martir. Sanggupkah kita untuk itu? Adakah “api” Kristus menyala dalam diri pribadi kita?

Mgr Joseph Theodorus Suwatan MSC
Uskup Manado
Sumber: www.hidupkatolik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RADIO LINE KAJ

INFO TERBARU

TERPOPULER

ARTIKEL LAINNYA

Open chat
Butuh Bantuan?
Adakah yang bisa kami bantu?