KEMANA ARAH DIALOG ANTAR AGAMA

206
(dari ki-ka) Dr. Saleh Partaonan Daulay, Ketum Pemuda Muhammadiyah, Aan Rukmana dari Univ. Paramadina (modertor) dan Rm. Benny Soesetyo. Foto : Sonar S.
KEMANA ARAH DIALOG ANTAR AGAMA

Bedah buku “Muslim Bertanya Kristen Menjawab (MBKM)” karya Christian W. Troll yang diterjemahkan oleh Markus Sola Kewuta, 20 Desember 2011 di Jakarta berjalan semarak. Ruang pertemuan Center for Dialogue and Cooperation Among Civilition  (CDCC) tempat acara digelar terisi penuh.

(dari ki-ka) Dr. Saleh Partaonan Daulay, Ketum Pemuda Muhammadiyah, Aan Rukmana dari Univ. Paramadina (modertor) dan Rm. Benny Soesetyo. Foto : Sonar S.

Para pembedah buku ini menyatakan buku ini sangat baik. “Buku ini dapat menjadi acuan dialog yang substantif dan otentik. Sebagai orang Islam saya tidak merasa tersinggung sedikit pun membaca bahasan dalam buku ini. Ini jauh dari sifat memojokkan Islam seperti yang banyak dilakukan oleh penulis yang mengaku ahli Islamologi,” ungkap Saleh Partaonan Daulay, Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah.

Saleh mencontohkan Robert Spencer, David Horowitz dan Ali Sina sebagai  Islamolog dan  penulis-penulis buku yang secara terbuka menyerang dan hendak memojokkan Islam. “Tentu saja para pembenci Islam ini akan semakin menjauhkan kita dari prinsip-prinsip dialog untuk merajut keharmonisan antara dua agama di masa yang akan datang,” tandas Saleh.

Lebih jauh Saleh mencoba mengidentifikasi mengapa Kristen dan Islam sering bergesakan dalam kehidupan sehari-hari. “Salah satu diantaranya karena agama kita adalah sama-sama agama misioner. Hendak mengembangkan agamanya masing-masing ke semakin banyak orang. Sehingga Islam mencurigai pihak Kristen sedang mengadakan kristenisasi dan sebaliknya kristen mencurigai Islam sedang melakukan aksi islamisasi. Sebenarnya disinilah peran dialog agar tidak ada saling mencurigai yang akan memperuncing kebencian satu sama lain,” lanjut Saleh.

Dari berbagai jenis dialog yang ada maka Saleh menganjurkan agar dialog yang bersikap inklusivisme yang terus dikembangkan. “Sebab dengan dialog bersikap inklusif ini masing-masing pihak meyakini dalam dirinya bahwa agama lain pun memberikan keselamatan bagi umat manusia dan dia sendiri tetap pada keyakinannya bahwa agamanya lebih baik dari agama lain,” jelasnya.

Dengan sikap inklusif seperti ini para pihak yang berdialog untuk beberapa kasus bersedia melakukan interpretasi ulang terhadap beberapa ajaran agamanya untuk selanjutnya diasimilasikan dengan kebenaran agama lain. Dalam dialog  jenis ini semua pihak terbuka tanpa menyebabkan seseorang harus meninggalkan esensi dan kemurnian ajaran agamanya,” jelas Saleh.

Setelah membaca buku ini Saleh merasa perlu memberikan apresiasi kepada penulisnya dengan beberapa alasan. Pertama, penulis buku ini memiliki pemahaman yang baik mengenai kedua agama ini. Dengan pemahaman itu dia berani mengangkat secara terbuka topik-topik yang selama dianggap tabu dan sensitif. Kedua, dia juga dinilai berhasil memberikan landasan berpijak berdasarkan Kitab Suci maupun Al Quran dan Hadits. Memperluas pengetahuan penganut kedua agama. Ketiga, menurut Saleh penulis memberi penghormaan yang tinggi terhadap ajaran-ajarann Islam. “Dalam buku ini tak satu katapun saya temui yang menghina, menjelekkan  atau melecehkan ajaran Islam,” tandasnya.

Alasan ke-4, buku ini merupakan model dialog yang sangat efektif dan efisien bagi semua agama. “Dengan berbagai alasan di atas saya katakan inilah dialog agama yang otentik dan substantif,” tegas Saleh.

Pembahas lainnya adalah Rm. Benny Soesetyo, sekretaris  Komisi Hubungan Antar Umat Beragama KWI. Benny mengatakan bahwa apa yang ditulis dibuku ini dinilai sangat efektif untuk memberi penjelasan mengenai pendapat kita tentang agama kita dan agama orang lain. “Sehingga saya tidak perlu lagi kesana kemari memberi penjelasan, cukup menyuruh mereka membaca bukunya,” ujarnya. Benny juga memuji kejernihan dan kelugasan pembahasan dalam buku ini. “Sehingga hal yang ruwet dan sulit bisa dijelaskan dengan demikian gamblang dan bisa dibaca di kemacetan jalan,” ungkapnya.

Memang Benny mengatakan dialog antar iman seperti ini diperlukan. “Tetapi untuk lebih mewujudnyatakan di lapangan perlu aksi bersama dalam hal mengembangkan kesejahteraan dan membebaskan rakyat banyak dari ketertinggalan, kemiskinan dan kebodohan,” tandasnya.

Sebab dialog antar umat beriman di bidang teologi dan filsafat itu lebih pada kebutuhan para ahli dikalangan atas. “Sedangkan dikalangan bawah yang dibutuhkan adalah kebersamaan untuk bisa sama-sama menikmati kesejahteraan dan keadilan. Karena  itu dibutuhkan dialog aksi dan tindakan praktis. Karena itu saya mengajak kaum muda Muhammaddiyah, Pemuda Katolik, Perhimpunan Mahasiswa Katolik RI dan kalangan muda lainnya untuk bergandeng tangan untuk mujudkan dialog aksi ini agar secepatnya pula rakyat banyak kita menikmati hasilnya,” tandasnya.

Menurut Benny, dialog aksi ini bukanlah hal baru. Para pendahulu kita sudah lebih dahulu mempraktekkannya. Dulu pendiri Muhammadiyah Kiyai Dahlan berdialog dengan Rm. Van Lith bagaimana mendirikan sekolah yang modern. Hal yang praksis juga telah dilakukan oleh pahlawan nasional IJ Kasimo bersama para pemuka agama Islam lainnya.

Dari peserta bedah buku ada yang menganggap harga buku MBKM sekitar Rp50.000 per eksemplar dinilai terlalu mahal. “Buku agama biasanya diberikan gratis apalagi buku seperti dialog ini.  Apalagi memiliki misi khusus, sedangkan gratis aja belum tentu dibaca,” ungkap Abujamin Roham yang juga penulis buku keagamaan. Dia sendiri mengaku buku yang sangat tebal ditulisnya hanya dibagikan gratis dan hanya beberapa yang memberi ongkos cetak dan kirim.

Sonar Sihombing