Home Blog Page 47

RENUNGAN HARIAN 17 MARET 2023, Jumat Prapaskah III

Bacaan I: Hos 14:2-10;
Mzm 81:6c-8a.8bc-9.10-11ab.14.17;
Bacaan Injil: Mrk 12:28b-34.

Renungan Harian:

Quia primum omnium mandatum est: diliges Dominum Deum tuum ex toto corde tuo, et ex tota anima tua, et ex tota mente tua, et ex tota virtute tua. Hoc est primum mandatum. Secundum autem simile est illi: Diliges proximum tuum tamquam teipsum ; “Hukum yang terutama ialah: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.

Seseorang dikatakan bijaksana, bukan hanya karena pengetahuan yang dia miliki. Melainkan keberanian dia untuk mewujudnyatakan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang coba diungkapkan oleh Nabi Hosea dalam bacaan pertama. “Siapa yang bijaksana, biarlah ia memahami semuanya ini; siapa yang paham, biarlah ia mengetahuinya; sebab jalan-jalan Tuhan adalah lurus, dan orang benar menempuhnya”. Dengan berani menempuh jalan yang lurus kitapun akan mengalami keselamatan dari Tuhan.

Karena kita semua mengetahui Hukum Kasih: Kasih kepada Allah dan pada sesama. Maka kitapun diajak untuk menerapkan itu semua dalam kehidupan sehari-hari Jangan sampai hukum tersebut hanya berada dalam tataran pengetahuan dan tidak dapat diterapkan dalam kehidupan konkret. Oleh karena itu, kasih kepada Allah dan sesama haruslah dimulai dari kasih kepada diri sendiri. Karena bagaimana anda dapat mengasihi Allah yang tidak kelihatan jika tidak mengasihi sesama yang kelihatan; dan bagaimana anda dapat mengasihi sesama yang tidak anda kenal tanpa lebih dahulu mengasihi diri anda yang telah anda kenali? Bentuk nyata dari Kasih kepada Allah, sesama dan diri sendiri nyata dalam pertobatan.

Dengan kita berani bertobat, maka kita telah mengasihi diri sendiri. Rahmat pengampunan yang diterima, memampukan kita untuk mengampuni dan mengasihi sesama sehingga kitapun akan semakin berpaut kepada Allah. Bentuk lain dari pertobatan pada masa ini adalah, kita bisa mulai menjaga kondisi tubuh kita dengan mengkomsumsi vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh, mendaftarkan diri untuk divaksin, menjalankan protokol kesehatan agar tidak terpapar virus Covid-19. Dengan tubuh yang sehat, maka kitapun semakin dimampukan untuk berbagi kasih kepada keluarga kita. Semoga kita boleh mengisi masa penuh rahmat ini dengan pertobatan dan menjadi diri dari virus Corona sebagai bentuk kasih pada Tuhan, sesama dan diri sendiri.

AY

Apakah Anda pernah/sedang mengalami kesulitan mendampingi anak2 belajar bahasa Mandarin ?

Simak yuk …Obrolan Ibu-Ibu tentang TIPS MENDAMPINGI ANAK BELAJAR MANDARIN menampilkan special guest TINE bersama Teresa Winna & Giovanna Sagita

Terima kasih bersedia membagikan, subscribe & like video ini

RENUNGAN HARIAN 16 MARET 2023, Kamis Prapaskah III

Businessman plugging ears with fingers

Yer. 7: 23-28; Mzm.95: 1-2.6-7.8-9;
Luk. 11: 14-23.

Bukan Mengada-ada

Di jalan rimba sebuah hutan, terjadilah sebuah keributan. Rupanya  ditemukan keong dan siput terluka parah di tepi jalan. Infonya, kedua bertabrakan. Seekor kura-kura yang mengaku sebagai saksi mata, ditanya oleh sang ayam hutan tentang kejadian itu, “bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi?” Kura-kura itu lalu menjawab, ” saya tidak bisa melihatnya dengan jelas, kejadiannya terjadi dengan begitu cepat.” Ayam hutan hanya geleng-geleng saja. Ayam hutan sudah menjadi malas mendengarkan kura-kura. Keterangan kura-kura telalu mengada-ada.

Dengan Bangsa Israel, Allah kerap menghadapi masalah besar. Bangsa ini berkali kali gagal mendengarkan gagal mendengarkan Allah mereka. Apa yang disampaikan Allah tentu bukan hal yang mengada-ada. _”Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku, dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia!”_  (Yer 7:23). Ini yang disayangkan. Israel malas untuk mendengarkan Allah mereka. Israel memilih bahagia dengan caranya sendiri. Jika sudah begini, _”Sekalipun engkau mengatakan kepada mereka segala perkara ini, mereka tidak akan mendengarkan perkataanmu, dan sekalipun engkau berseru kepada mereka, mereka tidak akan menjawab engkau.”_ (Ul 7:27). Jika saatnya nanti mereka celaka, masihkah Allah patut disalahkan?

Lalu?
Bisa saja terjadi, kita berada seperti Israel yang sudah malas mendengarkan Allah, meski kita percaya Allah tidak pernah mengada-ada. Namun kita tetap bersyukur bahwa Allah tidak pernah malas mendengarkan kita.

PHW

RENUNGAN HARIAN 15 MARET 2023, Rabu Prapaskah III

Bacaan I : Ul 4: 1.5-9
Mazmur Tgp : Mzm 147: 12-13.15-16.19-20
Injil : Mat 5: 17-19


“Menyelaraskan Diri”



Mungkin kita sudah akrab dengan berbagai bentuk peraturan atau perintah. Mulai dari situasi di rumah sampai masyarakat luas, kita pasti akan menemukan adanya perintah. Tidak jarang pula kita enggan untuk selalu menurutinya. Misalnya dengan tata aturan sederhana yang ada di rumah. Bisa jadi kita kerap mencari alasan dan pengecualian. Seperti, kebiasaan makan di meja makan. Hanya saja, karena ingin sambil menonton tv atau sambil mengerjakan tugas sehingga tidak makan di meja makan.

Bacaan-bacaan hari ini mengingatkan kita untuk setia dengan peraturan atau perintah. Hal ini tidak ingin menunjukkan bahwa kita tidak memiliki kebebasan. Justru sebaliknya, kita diajak untuk menyelaraskan diri dengan tata aturan yang ada. Yesus adalah contohnya. Ketika semua orang memandang diriNya sebagai nabi besar dan pembawa pembaharuan, Yesus lebih memilih menjalankan hukum Taurat. Dia ingin tetap selaras dengan perintah Tuhan.

Dalam masa Prapaskah ini, kita diajak untuk memiliki kerendahan hati. Bertobat berarti kembali kepada Tuhan dan memperbaiki relasi dengan Tuhan. Salah satu caranya adalah dengan menyelaraskan diri dengan kehendak Tuhan. Apa yang Tuhan sampaikan kepada kita? Apa yang Dia ingin kita untuk lakukan? Dan dalam kerendahan hati, kita menjalankannya dengan gembira. Di situlah kita belajar menyelaraskan diri dengan kehendak Tuhan.

Selamat mengalami perjalanan bersama Tuhan. Tuhan senantiasa memberkati.


RENUNGAN HARIAN 14 MARET 2023, Selasa Prapaskah III

Tamb Dan 3:25.34-43
Mat 18:21-35


“Berapa kali aku harus mengampuni saudaraku?”



Pertanyaan ini dilontarkan Petrus kepada Yesus. Kok bisa dia bertanya seperti itu? Mungkin Petrus sedang punya musuh, atau sedang sakit hati karena ada yang memusuhi dia.

Yesus menjawab, “Sampai tujuh puluh kali tujuh kali”. Jumlah ini bisa jadi mengisyaratkan, seberapa banyak pun batas yang kamu buat untuk mengampuni seseorang, Yesus meminta puluhan kali dari batas itu. Begitu seterusnya sampai tak terbatas.

Mengapa Yesus minta kita memiliki kapasitas pengampunan unlimited seperti itu?

Karena Allah berbuat demikian kepada kita. Sebesar apapun dosa yang kita buat, Allah mengampuni.

Ingat kata Paulus dalam Suratnya di Roma dalam Minggu Prapaskah III yg lalu, “Tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, karena KRISTUS TELAH MATI UNTUK KITA KETIKA KITA MASIH BERDOSA”.

Saat kita masih berdosa, bahkan belum mengaku dosa sekalipun, Kristus juga mati untuk keselamatan kita. 

Tapi kan susah mengampuni tanpa batas seperti itu?

Ya siapa yang bilang mudah?

Mengikut Kristus tidak mudah, kalau mudah semua orang di dunia sudah jadi pengikut-Nya.

Tapi karena tidak mudah, banyak orang tidak kuat dan menyerah.

Karena tidak mudah perlu diusahakan, diperjuangkan.

Karena tidak mudah tidak mungkin hanya mengandalkan kekuatan sendiri.

Serahkan Tuhan, mohon selalu rahmat-Nya untuk membantu kita.

Jadi, kamu gimana?

RA 

RENUNGAN HARIAN 13 MARET 2023, Senin Prapaskah III

2Raj 5:1-5a

Lukas 4:24-30

 

“Kita Semua Istimewa”

Pernahkah kita bertanya, mengapa kita mesti menghormati sesama kita? Mengapa kita mesti punya sopan santun dalam hidup? Jawabnya sederhana. Ya, karena kita hidup bersama dengan orang lain. Kita tidak bisa hidup seorang diri. Dari awalnya, kita lahir dari seorang ibu dan nanti akhirnya kita akan kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Selalu ada orang lain di dalam hidup kita yang membantu kita secara langsung atau tidak. Pada saat yang bersamaan, kita juga menjadi penolong bagi sesama kita secara langsung atau tidak. Contohnya, dengan kita membeli makanan, kita dibantu orang lain untuk makan dan tidak kelaparan. Di sisi lain, kita juga mendukung mereka yang bermata-pencaharian sebagai pembuat atau penjual makanan.

Hidup selalu demikian. Kita semua saling terhubung satu dengan yang lain. Karena demikian, ya sudah otomatis pula, kita perlu memiliki sikap hormat terhadap sesama kita juga. Ukurannya tidak terletak pada diri sendiri saja, tetapi juga terletak pada diri sesama kita. Bukan hanya aku bahagia, tetapi kamu bahagia, dan kita bahagia.

Dengan demikian, tidak ada alasan untuk merendahkan sesama kita atau tidak menganggap mereka sebagai orang yang istimewa. Kita semua istimewa dan Yesus yang istimewa itu pun hadir di dalam diri sesama kita tiap harinya. Menghormati sesama kita artinya menghormati dan mencintai Yesus setiap hari.

Semoga hati kita penuh syukur atas kehadiran sesama kita setiap harinya dan semoga kita pun bisa menjadi penolong bagi mereka. Mari bersaksi dan berbahagia sebagai orang beriman. Thank God It’s Monday!

RAB

RENUNGAN HARIAN 12 MARET 2023, Minggu Prapaskah III

Keluaran 17:3-7
Roma 5:1-2.5-8
Yohanes 4:5-42


“Adakah Tuhan di tengah-tengah kita”



Judul kalimat itu adalah kalimat dari umat Allah yg mencobai Tuhan. Di padang gurun, mereka bersungut-sungut. Apa yang diperbuat Tuhan bagi mereka tidak mengenakkan. Mereka kehausan. Padahal mereka telah dibebaskan dari perbudakan. Tapi masih kurang.

Kurang, selalu kurang, itu yang kadang kita rasakan akan kebaikan Tuhan. Padahal apa yang Dia sudah berikan terlalu banyak untuk kita.

“Tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita oleh karena KRISTUS telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa.” Begitu tulis Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma – bacaan kedua.

Kristus tinggal di tengah-tengah kita, hadir untuk kita bahkan mati untuk kita, padahal harusnya kita yang berdosa ini menerima hukuman dari Allah, tetapi Kristus mengambil hukuman itu.



Perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria menjadi tanda bahwa Kasih Allah hadir untuk semua orang. Juga bagi mereka yang “disingkirkan”.

“Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria”. Dalam sejarah, orang-orang Samaria dianggap tidak murni, keturunan campuran dari bangsa-bangsa non Yahudi. Orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria. Tapi Yesus tetap menawarkan diri-Nya sebagai Air Kehidupan kepada siapapun yang haus.

“Kehausan” perempuan Samaria nampak dalam hidupnya. Dia sudah mempunyai lima suami, dan yang ada sekarang padanya pun bukan suaminya. Perempuan ini dalam hubungan yang tidak resmi. Yesus datang berbicara kepadanya, menawarkan jalan keselamatan baginya. 

Yesus menawarkan hidupnya sebagai air kehidupan bagi kita yang haus. 

Jadi, kamu gimana?

RA

RENUNGAN HARIAN 11 MARET 2023, Sabtu Prapaskah II

Mikha 7:14-15.18-20
Luk 15:1-3.11-32


“Kasih Bapa tanpa batas”


Kisah dalam Injil hari ini lebih dikenal dengan kisah “Anak yang hilang”. Tapi sebetulnya lebih tepat adalah kisah seorang Bapa yang murah hati. Kisah ini diceritakan kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang bersungut-sungut karena melihat Yesus makan bersama para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. 

Semua manusia sama martabatnya di hadapan Allah. Kita dianugerahi kehidupan dan dilimpahi kasih Allah. 

Seperti anak bungsu, terkadang kita lalai. Kasih Allah yang begitu besar kita anggap biasa saja. Lalu dengan dalih “kebebasan” kita mau menentukan apa yang menyenangkan untuk diri kita sendiri. “Bapa berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku”. Padahal kepunyaan Allah adalah kepunyaan kita juga. 

Seperti anak sulung, terkadang kita tidak bersikap seperti Allah sendiri. Dia yang kasihnya tanpa batas, menerima pertobatan pendosa seberat apapun. Tapi yang mengaku dan berlaku sangat dekat dengan Allah, malah tidak mencerminkan sifat Allah sendiri. Jadi mudah menghakimi, sulit mengampuni dan murah hati.

Allah akan selalu mengampuni dosa-dosa kita, seberat apapun. Itu terjadi jika memutuskan untuk bertobat, kembali kepada-Nya. 

Dia tidak pernah menghukum. Pergi meninggalkan Allah, adalah juga keputusan kita. Kehilangan rahmat dan segala berkat-Nya. 

 

Jadi, kamu gimana?

RA

 

RENUNGAN HARIAN 10 MARET 2023, Jumat Prapaskah II

Kej 37:3-4.12-13a.17b-28
Matius 21:33-43.45-46



“Yang Dibuang, Menyelamatkan”



Kisah Yusuf dan saudara-saudaranya dalam bacaan pertama, dan perumpamaan tentang kebun anggur dalam bacaan Injil memiliki kemiripan inti kisah.

Yusuf “dibuang” – dijual oleh saudara-saudaranya sendiri. Yusuf lebih disayang oleh ayahnya. Hal itu membuat iri saudara-saudaranya. Yusuf diam saja, tidak melawan, sampai akhirnya dia pergi ke Mesir. Dia jadi terkemuka di sana, bahkan kelak menjadi penyelamat keluarga manakala bencana kelaparan menerjang Israel.

Terkadang, kehidupan memang aneh seperti itu. Karna iri, antar saudara bisa saling sikut, bahkan membunuh. Tapi justru yang dibuang menjadi penyelamat. Bukan karna Yusuf kuat, tapi karna Yusuf setia pada imannya, dan Tuhan menyertainya.



Batu yang dibuang menjadi batu penjuru.
Mereka yang terbuang atau dibuang justru dipakai Allah untuk menyelamatkan sesamanya. Injil sedang berbicara tentang Yesus, yang dibuang, disalib oleh bangsa-Nya sendiri tapi justru menjadi juruselamat. Allah menyertai-Nya.

Kamu sedang merasa disingkirkan? Dibuang dan dipinggirkan? Setia dan tetap berharaplah kepada Tuhan. Bisa jadi pengalaman itu bisa menjadi pengalaman yg menyelamatkan, bagi dirimu atau orang-orang terdekatmu.

Jadi, kamu gimana?
RA

RENUNGAN HARIAN 9 MARET 2023, Kamis Prapaskah II

Yer 17:5-10;

Mzm 1:1-2.3.4.6;

Luk 16:19-31.

 

Harapan Kosong

 

Seorang pemuda berkisah tentang kisah cintanya yang kandas. Pujaan hatinya meninggalkan dirinya. Padahal menurut rencana, mereka hendak beranjak ke jenjang serius. Pacarnya lebih memilih pilihan orang tuanya. Mengandalkan harapan pada manusia belaka memungkinkan rasa kecewa. Banyak korban yang jatuh akibat tergoda iming-imaing keuntungan besar dalam sebuah investasi, menjadi gambaran lain juga bahwa begitu mudah kita hanya mengandalkan harapan dari manusia saja.

Yeremia memberi peringatan kepada bangsa yang hanya mengandalkan kekuatannnya sendiri (Yer 17:5). Hidup yang hanya mengandalkan manusia akan hidup dalam kekeringan. Hari-harinya menjadi gersang. Setiap orang yang hanya mempercayakan hidupnya kepada sesama manusia adalah orang-orang yang malang. Untuk itu, manusia perlu mengandalkan Tuhan di dalam hidupnya, Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering (Yer 17:8).

Lalu?
Orang kaya dalam injil, akhirnya menyadari bahwa dirinya perlu mengandalkan Tuhan, “sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini” (Luk 16:28). Mengandalkan Tuhan memang bukan berarti hanya mendengar janji manis, ada kalanya Ia memperingatkan, menegur, atau bahkan mengarahkan kita kembali. Harapan manusia kepada Tuhan tidak pernah kosong.

PHW

Terbaru

Populer