KUNCI YANG DISERAHKAN

Bacaan I — Yes. 22:19-23
Mazmur Tanggapan — Mzm. 138:1-2a.2bc-3.6.8bc
Bacaan II — Rm. 11:33-36
Bait Pengantar Injil — Mat. 16:18
Injil — Mat. 16:13-20

Kita semua pernah diberi kepercayaan. Apapun bentuknya. Misalnya kehidupan, yang dipercayakan oleh Tuhan, meski kita tak pernah meminta. Tapi nyatanya itu diberikan. Dan kita terima begitu saja. Bisa kita pandang sebagai beban, tapi bisa juga sebagai sebuah anugerah. Diberikan karena kita dipandang mampu dan sanggup. Sehingga, apa yang diberikan ini dapat mendatangkan anugerah bagi ciptaan yang lain. 

— 

Namun, cita-cita ideal di atas bisa merosot juga nilainya. Ketika ada pergeseran cara pandang kita terhadap apa yang diberikan. Ada godaan halus yang datang bersama kepercayaan semacam itu: pelan-pelan menganggap hidup itu milik kita. Lalu digunakan untuk membangun kemuliaan pribadi di atasnya. Lupa bahwa yang memberikan itu bisa juga menariknya kembali. Saat kehidupan itu diambil, baru kita sadar apa yang selama ini kita kumpulkan tak berarti apa-apa. 



Dalam bacaan pertama, Yesaya mencatat kisah seorang pejabat istana bernama Sebna yang jatuh ke godaan itu. Ia dipercayakan kunci rumah Daud. Alih-alih melaksanakan tugas itu dengan bertanggungjawab, Ia memahat kuburan mewah bagi dirinya sendiri, memakai jabatannya untuk membesarkan nama sendiri.

Pada akhirnya Tuhan mencabutnya dan menyerahkan kunci rumah Daud kepada Elyakim, hamba yang setia. Kunci itu bukan harta yang bisa direbut siapa saja. Kunci itu amanah yang dipikul di bahu, diberikan oleh Sang Pemilik kepada siapa yang Ia percaya. Kunci itu harus dijaga bahkan dengan nyawa sendiri. 

Injil hari ini membawa kita pada penyerahan kunci yang lebih besar lagi.

Di Kaisarea Filipi, daerah terluar dari tanah Israel, jauh dari pengaruh agama tradisi Yahudi. Meski demikian, di tempat itu banyak ilah-ilah tandingan lain. Di sana,  Yesus bertanya perihal siapakah yang dimaksud dengan “Anak Manusia”, yang terdapat dalam nubuatan Daniel. Kepada-Nya diserahkan kemuliaan dan tahta Kerajaan Surga. 

Para murid – meski sudah di tempat yang jauh dari banyak orang – masih membawa pemahaman tradisional mereka – anggapan orang-orang. Yohanes, Elia, dan para nabi yang lain. Di Kaisarea Filipi – Yesus mengajak mereka melihat siapa yang di depan mereka. 

“Menurut kamu, siapakah Aku ini?”. Dengan bahasa lain, Menurut-Mu dan bukan kata orang-orang, Apakah Aku ini “Anak Manusia” itu?

Simon mewakili yang lain menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Engkau adalah Kristus, Yang diurapi, Yang bertahta bersama Allah dalam kerajaan-Nya. Yang mereka lihat Yesus – seorang manusia bertubuh. Tapi iman melampaui apa yang mereka lihat. 

Itulah mengapa, jawaban itu disebut lahir dari pewahyuan Bapa, bukan dari kepintaran manusia.

Di atas pengakuan itulah Yesus mendirikan Gereja-Nya, dan kepada Simon yang mengaku itu Ia menyerahkan kunci Kerajaan Surga. Sang pemilik “rumah surgawi” memberikan kuncinya kepada pihak manusia. Bukan sembarang manusia – tapi sekumpulan manusia yang berdiri di atas iman yang satu. 

Sebagai catatan:

Kunci itu satu. Dipegang satu orang. Sebelas yang lain juga percaya, juga mengaku Yesus sebagai Mesias, tapi kunci itu tidak diperbanyak atau diduplikat sesuka hati sebelas kali. Sebelas pintu tidak dibuka dengan sebelas kunci yang berbeda-beda.

Kalau setiap orang beriman merasa berhak membuat kunci sendiri, iman yang satu itu pecah jadi sebelas versi, lalu seratus, lalu tak terhitung. Gereja tetap berdiri sebagai satu tubuh justru karena semua yang percaya ikut kepada kunci yang sama, yang sudah diserahkan itu. Bukan menciptakan kunci tandingan, melainkan tunduk bersama pada satu kunci yang sudah dipercayakan kepada satu pengakuan dan atas satu dasar batu yang sama. 

Kita sebagai Gereja berdiri kokoh ribuan tahun di atas pernyataan iman yang tak pernah berubah. “Ia naik ke surga, duduk di sebelah kanan Bapa Yang Mahakuasa. Dari situ Ia akan datang mengadili orang yang hidup dan mati”.

Sementara kita menantikan kedatangan-Nya, Yesus memercayakan kunci – yang melepas dan mengikat segala sesuatu – di dunia dan di surga. Gereja mengemban tugas mempersiapkan banyak orang untuk menerima anugerah yang lebih besar di dalam Kerajaan Surga nanti. 

Jadi, kamu gimana?

RA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here