
Itu Tuhan
Minggu Biasa XIX Tahun A — 9 Agustus 2026
1Raj 19:9a.11-13a • Mzm 85 • Rom 9:1-5 • Mat 14:22-33
Mungkin sesekali kita perlu merasakan, berada di tengah danau/lautan, hujan badai, gelap, tanpa cahaya, panik seperti yang dialami para Murid dalam kisah injil minggu ini. Dengan demikian, kita merasakan kekalutan dan ketakutan yang hinggap di dalam diri mereka.
Saya teringat akan pengalaman bertahun2 lalu saya menjalani misi di pedalaman Papua.
Waktu itu, kami berencana berkendara ke kota (185km dari pedalaman). Perjalanan sudah lewat 70an km dan harus terhenti karena longsor. Daripada menunggu lama longsor dibereskan dengan resiko menginap di jalan, kami akhirnya memutuskan putar balik ke pastoran. Di tengah perjalanan pulang itu mobil mogok. Kanvas kopling habis. Kami harus ambil keputusan. Saat itu hari sudah larut menjelang malam.
Rekan yang menyertai saya menumpang mobil yang lewat kembali ke pastoran, berjanji akan mengirim bantuan ke tempat itu. Karena waktu itu tidak ada jaringan telpon. Sementara di pastoran ada wifi satelit. Jadi rekan saya bilang akan kontak teknisi untuk datang ke tempat saya menunggui mobil.
Saya tinggal sendirian menunggui mobil itu, tengah hutan gelap belantara di pinggir jalan. Hanya berbekal ubi di bagasi. Dua malam saya tidur di dalam mobil.
Anehnya, saya tidak merasa perlu berdoa rosario atau novena khusus memohon pertolongan. Atau saya merengek2 ikut balik ke pastoran dan meninggalkan mobil itu. Bukan karena saya kurang percaya. Justru karena satu janji itu sudah cukup untuk dipegang: bantuan akan datang. Saya tinggal menunggu dengan tenang.
Benar.
Hari ketiga, frater datang dari arah pastoran membawa makanan, tak lama kemudian disusul teknisi dari arah kota datang. Lalu ia mengganti kanvas kopling yang habis dengan yang baru. Mobil bisa jalan lagi. Lalu saya dan frater kembali ke pastoran dengan selamat.
—
Kalau boleh saya tanya kepada Petrus malam itu. Knapa sih kamu masih perlu minta berjalan mendatangi Yesus. Apa tidak cukup, dengan mendengar suara-Nya saja? Ia sudah berkata dan kamu mendengar dengan jelas, “Tenanglah, Aku ini, jangan takut!”. Kalau sudah terdengar, berarti posisi-Nya sudah dekat. Ia pasti akan datang. Apakah itu belum cukup?
Tapi mungkin kalau saya bertanya itu kepada Petrus, saya akan kena tegur juga oleh Yesus, “Biarkan dia Romo”.
—
Di tengah kegelapan, badai dan ketakutan, Yesus menghampiri murid-murid dengan berjalan kaki.. di atas air. Berjalan kaki. Tidak tergesa, atau berpindah tempat dalam sekejap. Slow but sure. Saya duga, Yesus sudah tau badai itu tidak akan menenggelamkan mereka. Ini kesempatan yang baik juga, mampukah murid-murid menanti dengan tenang di tengah badai?
Mereka tambah panik setelah melihat-Nya, dan mengira Yesus hantu.
Sampai jarak yang cukup, Tuhan bersuara, “Tenanglah, Aku ini, jangan takut”. Suara itu sampai di telinga mereka. Akrab dan seharusnya sudah mereka kenal. Tapi rupanya badai dan gelap menimbulkan asumsi yang lain. Suara yang sudah mereka kenal itu tidak cukup membuat mereka tenang. Sudah melihat dan mendengar, juga tak cukup
Bahkan Petrus – meminta bukti untuk berjalan juga di atas air untuk mencapai Yesus.
Sudah bisa berjalan di atas air, Petrus tak cukup percaya. Ketakutannya lebih besar daripada harapannya untuk bisa sampai menjumpai Tuhan. Ia perlahan tenggelam.
Sudah melihat, mendengar, bahkan berjumpa – selama ketakutan itu masih mendominasi – kita tetap bisa gagal menyadari kehadiran-Nya yang menenangkan.
—
Kadang yang kita butuhkan dari Tuhan bukan melulu mukjizat, bukti-bukti yang hebat terus menerus.
Justru kita perlu memohon hati yang cukup untuk tidak lagi meminta bukti. Hati yang tidak lagi takut dan sepenuhnya percaya.
Hati yang cukup untuk mengatakan “Ya Tuhan saya percaya”, “Ya Tuhan, melihat dan mendengar suara-Mu saja sudah cukup, aku tahu Engkau dekat, dan karenanya hatiku menjadi tenang”.
—
Jadi, kamu gimana?
RA










