SURAT KELUARGA SEPTEMBER 2015: “KITAB SUCI adalah HIDUP SEHARI-HARI”
Silahkan memberi Rating!

family-bible-time

Selamat hari hari Kitab Suci untuk keluarga-keluarga semua. Bulan September selalu dinantikan, karena membawa sukacita bertemu Sabda Tuhan yang mengajar dan membimbing kita bersama seluruh lingkungan di Keuskupan Agung Jakarta ini. Kita diajak untuk semakin mengenal panggilan kita sebagai anak-anak Allah yang secara pribadi mengimani Kristus secara unik.

Seluruh keluarga Anda juga diundang untuk datang dan merasakan sapaan Tuhan bersama permenungan yang mengingatkan, menyegarkan, memperdalam, memperkaya, dan menyadarkan iman Anda, bahwa Allah tetap menyertai melalui sabda-sabda-Nya. Ia begitu dekat, sedekat kita yang mau membaca dan mendengarkan firman-Nya.

Setelah membaca Kitab Suci, kita diharapkan dapat menemukan hidup baru di dalam bimbingan Tuhan. Seringkali kita mengatakan dalam doa-doa kita, “Terjadilah kehendak-Mu”. Apa yang akan dan harus terjadi? Seluruh keluarga beriman belajar untuk memahami dan menerapkan ajaran sesuai yang dikehendaki Tuhan dalam Kitab Suci. Inilah kehendak Tuhan dalam arti sebenar-benarnya. Tuhan berbicara dan menyampaikan kehendak-Nya melalui kata-kata dan sentuhan-sentuhan yang khas yang membimbing kita sebagai pribadi.

Keluarga Katolik di Keuskupan Agung Jakarta, tidak banyak anggota keluarga yang berminat mengikuti Pendalaman Kitab Suci (bukan hanya pendalaman iman). Biasanya jauh lebih banyak orang berminat untuk berdoa Rosario. Hal ini kurang tepat, karena firman Tuhan lebih berkuasa dan bahkan firman ini dapat mengubah hidup kita, jika kita percaya penuh dan berdoa dengan sungguh-sungguh untuk menjalaninya.

Doa Rosario dan doa devosional lain tentu saja sangat baik, tetapi di balik peristiwa berdoa itu, biasanya tersembunyi juga kebutuhan untuk menyampaikan permohonan-permohonan. Salam kepada Maria dan memohon doanya menjadi lebih disukai daripada mempelajari Kitab Suci atau pendalaman Alkitab, karena kita lebih senang menyampaikan kebutuhan daripada belajar firman Tuhan. Kita sering merasa berdoa sebagai tempat meminta, padahal ada banyak kekayaan dalam doa, juga kalau kita hanya sekedar “curhat” pun, itu diperhitungkan sebagai komunikasi yang dirindukan Tuhan.

Maria disebut memilih yang terbaik karena ia duduk diam di kaki Tuhan Yesus dan mendengarkan firman-Nya. Yesus bahkan mengatakan kepada Marta, bahwa mendengarkan firman itu baik daripada sibuk bekerja, terutama ketika Tuhan bersabda (bdk. Lukas 10.41-42). Penghargaan ini harus menjadi habit untuk kita juga sebagai pengikut Kristus di masa sekarang.

Dalam pendalaman Kitab Suci, kita menyampaikan kerinduan untuk belajar bersama Tuhan dan sesama selingkungan. Tetapi dalam pendalaman Alkitab, tujuan memohon jelas bukan yang utama, karena tujuan kita memang belajar kebijaksanaan hidup dari Firman Tuhan. Kita ingin dekat dengan Sang Firman, maka kita mempelajari isinya. Mempelajari firman Tuhan dalam Kitab Suci membawa kita merasa lebih dekat dengan Tuhan.

Pendalaman Kitab Suci membawa gambaran yang semakin lengkap tentang Tuhan, bukan hanya menjadikannya tempat meminta, tetapi juga menyampaikan rasa gembira. Sekedar berbagi rasa, dan tempat menumpahkan rasa syukur karena belas kasih Tuhan. Ketika firman itu disampaikan dan direnungkan, sering kita merasa tersapa secara pribadi; menemukan hal penting yang dapat mengarahkan hidup lebih baik dan mendalam.

Roma 10:8 mengatakan, “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.” Betapa dekatnya Tuhan sedekat firman yang dapat kita baca setiap waktu dalam Kitab Suci. Jika kita ingin mendekatkan anak-anak dan seluruh keluarga pada tuhan, maka Kitab Suci perlu mendapat perhatian istimewa. Ada banyak cara mendekatkan anak pada Kitab Suci, melalui membaca komik alkitab, aplikasi alkitab, dan terutama mendengarkan firman Tuhan dari perayaan Ekaristi.

Ketika anak-anak belajar untuk dekat dengan Tuhan, maka Ia akan lebih mudah dimpimpin ke dalam kebenaran. Kalau kita hanya mengandalkan “Datang ke perayaan Ekaristi”, hanya “datang” dan “setor muka”, yang terjadi iman menjadi kering, karena kita kurang merasa “masuk” dalam hadirat Tuhan. Tuhan hadir dalam pembacaan firman dan terutama dalam komuni kudus, tetapi kemauan kita mengerti dan menghayatinya selama proses Ekaristi itulah yang menentukan seberapa banyak kita akan merasakan kehadiran Tuhan. Dan salah satunya adalah mendengar firman Tuhan itu.

Ambillah waktu untuk membaca bacaan harian. Jadikanlah ini sebagai kebiasaan rutin, seperti saudara-saudara kita yang beragama lain yang mempunyai rutinitas harian untuk beribadah. Jika kita mau menyisihkan waktu untuk membaca Kitab Suci atau membacakan Kitab Suci kepada anak-anak dengan cara apa saja, saya percaya, ada suasana rohani yang akan orangtua ajarkan kepada anak-anak. Memperkenalkan Tuhan paling baik melalui kisah. Cerita membuat orang tidak harus terpaksa belajar, tetapi mengikuti kisah.

Iman adalah sesuatu yang selalu bisa kita andalkan dan bahkan menjadi bekal untuk anak-anak kita. Rejeki bisa dicari dengan usaha manusiawi, tetapi iman adalah bekal yang diturunkan dari kesungguhan orangtua mencari Tuhan. Jangan hanya memberi harta atau pendidikan duniawi, berilah bekal rohani, agar anak-anak dan seluruh keluarga menjadi semakin sehat jasmani dan rohani. Usia belajar anak-anak adalah saat terbaik mereka mencari sendiri Tuhan dalam Kitab Suci.

Tuhan memberkati

Alexander Erwin MSF