Bagi kita, ketetapan Taurat perihal makanan yang halal dan haram tidak lagi relevan. Walaupun demikian kisah ini tetap bermakna, sebab mengajarkan kepada kita untuk meletakkan kehendak Tuhan di atas segala sesuatu.
Sejak tahun 2004, Keuskupan Agung Jakarta mengutus beberapa imamnya untuk melayani umat di pegunungan Mapiha, kampung Bomomani, wilayah pedalaman Papua di kabupaten Nabire dan Dogiyai dengan jumlah umat sekitar dua ribu tiga ratus orang. Karya-karya yang dilakukan amatlah sederhana.
MISTIK DAN POLITIK. “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga”. (GS No.1)
Pada tahun 2011 Konferensi Waligereja Indonesia (=KWI) dalam sidangnya, mengangkat tema katekese dengan judul “Mewartakan Injil adalah rahmat dan panggilan khas Gereja, merupakan identitasnya yang terdalam” (EN. No. 14). Keuskupan Agung Jakarta menanggapinya dalam Temu Pastoral tahun 2012.
Hari Minggu XX dalam masa biasa tahun ini, jatuh dalam suasana peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. “Api” perjuangan dikobarkan untuk mencapai cita-cita kemerdekaan dan membangun Negara yang adil dan makmur berazaskan Pancasila.
Mgr Suharyo diangkat sebagai Uskup Koadjutor Keuskupan Agung Jakarta pada 25 Juli 2009. Sebelumnya, ia adalah Uskup Agung Semarang sejak 22 Agustus 1997. Uskup Agung kelahiran Sedayu, Bantul, DI Yogyakarta, ini menjadi Uskup Agung Jakarta pada tanggal 28 Juni 2010
Pada bulan Oktober 2012 dilaksanakan Sidang Umum Biasa XIII, Sinode Uskup-uskup di Vatikan. Tema yang diangkat adalah Evangelisasi Baru Untuk Penyebarluasan Iman Kristiani. Pada akhir sidang, disampaikan yang disebut Sapaan Dan Pesan Sidang Untuk Seluruh Umat.