Orang-orang yang menjadi percaya dan memberi dirinya dibaptisbertekundalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.
Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.”
Bacaan Kedua, 1Ptr 1:3-9
“Saudara-saudara, terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, berkat rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.
Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu – yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api – sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.
Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.”
Bacaan Injil, Yoh 20:19-31
Setelah Yesus wafat di salib, pada malam pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: ”Damai sejahtera bagi kamu!” Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Maka kata Yesus sekali lagi: ”Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: ”Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”
Pada waktu Yesus datang itu Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: ”Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: ”Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”
Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: ”Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas: ”Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia: ”Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya: ”Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”
Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.”
Renungan Padat
Berada bersama Komunitas yang “telah melihat Tuhan”
Membaca Injil Yohanes perlu teliti dan tekun. Sebab Penulis Injil Yohanes biasanya menaruh pesan-pesannya secara tersembunyi di dalam kisah naratif. Kita tidak bisa membacanya sambil lalu, atau merasa sudah tau. Seperti Bacaan Injil hari ini dari Yoh 20:19-31. Kita mungkin biasa melihat gambar terkenal, Tomas Rasul yang mengulurkan tangan dan berusaha mencucukkan jarinya ke luka lambung dan tangan Yesus. Kalau kita lihat dalam Injil Yohanes, adegan itu tidak pernah ada.
Iya betul. Tomas tidak pernah melakukan itu meski awalnya ia berniat melakukannya. Yohanes menulis, setelah Yesus memperlihatkan luka-luka-Nya kepada Tomas. Tomas mengungkapkan pengakuan imannya, “Ya, Tuhanku dan Allahku”, tanpa adegan, dan gerakan apapun. Spontan saya pun bertanya. Kok bisa Tomas seperti itu? Semudah itukah Tomas melakukan lompatan iman sedemikian masif?
Ternyata kalau kita lebih teliti lagi, jawabannya tidak. Keputusan iman Tomas tidak didapatkan dalam semalam. Tapi dalam 8 hari.
Setelah Yesus wafat di salib, murid-murid berkumpul di satu rumah dengan pintu terkunci, bukan untuk berdoa dan bersekutu, tapi karena takut kepada orang-orang Yahudi. Jadi mereka berkumpul karena dipaksa oleh ketakutan. Coba, komunitas macam apa itu? Komunitas yang terbentuk karena orang-orang di dalamnya mengalami ketakutan dan keterpaksaan. Tomas mungkin merasa komunitas ini toxic. Mereka datang karena terpaksa. Tomas mungkin malas juga berada bersama-sama dengan orang-orang itu. Maka wajar Tomas tidak ada di sana kala itu.
Sebelum mengembalikan Iman Tomas, Yesus lebih dulu datang memperbaiki iman murid-murid-Nya.
Dalam penampakkan-Nya yang pertama, Yesus menjumpai murid-murid-Nya. Pada kesempatan pertama itu, Yesus mengucapkan doa damai, dan menghembuskan Roh Kudus kepada murid-murid, kuasa dan wewenang untuk mengampuni dosa. Para murid ini menjadi komunitas penuh damai sejahtera, dipimpin dan disatukan oleh Roh Kudus dan beri kuasa saling mengampuni dosa.
Sayangnya, saat itu Tomas tidak ada bersama mereka.
Sebelum penampakkan yang kedua, Yohanes mencatat, delapan hari kemudian murid-murid berada kembali di rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Siapa mereka? Yang jelas murid-murid ini sudah bertransformasi. Murid-murid berada kembali berada di rumah – tanpa terkunci, tanpa takut dan tanpa terpaksa. Mereka kembali berkumpul atas inisiatif dan kehendak sendiri.
Murid-murid kini memiliki damai sejahtera, kuasa mengampuni dosa – dan lebih dari itu komunitas yang ‘telah melihat Tuhan”. Itu kesaksian yang mereka bilang pada Tomas. Tomas yang tadinya meragukan kesaksian komunitas toxic ini. Namun selama delapan hari Tomas berada bersama komunitas yang juga bertransformasi. Dan kita bisa bayangkan apa yang juga akan ia alami. Damai, pengampunan, dan komunitas yang telah melihat dan mengenal Tuhan, yang berkobar-kobar seperti kisah dua murid Emmaus di Injil Lukas. Iman Tomas mulai tumbuh di sana dan berakar kuat.
Tomas yang tadinya berniat dengan jarinya menyentuh luka di lambung dan tangan Yesus, ternyata sedang dan telah menyentuh Yesus yang terluka itu saat berada bersama murid-murid yang lain. Sehingga nanti, Tomas tidak perlu lagi menyentuh Yesus – yang ia perlu lakukan adalah membuat pengakuan iman.
Maka, penampakan Yesus yang kedua di hadapan Tomas dan murid-murid yang lain semakin mempertegas apa yang sudah Tomas lebih dulu alami dalam komunitas itu. Penampakkan Yesus yang terluka seperti mau bicara, “Ini Aku, sekarang yang terluka hadir bersama komunitas ini – yang selalu mengusahakan damai sejahtera, memberi pengampunan karena mereka selalu melihat Aku di tengah-tengah mereka”.
Jadi, lompatan iman Tomas tidak berangkat dari ruang kosong. Tapi lahir lagi, terbentuk dan terpelihara karena dia berada bersama komunitas murid-murid Yesus itu.
Orang-orang yang menjadi percaya dan memberi dirinya dibaptis bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.
—
Jadi, sampai kapan kamu merasa cukup beriman sendirian?