
HADIR DENGAN WAJAH dan SUARAMU
Minggu Paskah VII — 17 Mei 2026 | Hari Minggu Komunikasi Sedunia
Kis. 1:12-14 | Mzm. 27 | 1Ptr. 4:13-16 | Yoh. 17:1-11a
Dalam bacaan Pertama, ketika mencatat peristiwa di ruang atas itu,
Lukas repot-repot menyebut nama mereka satu per satu — Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, dan seterusnya. Mereka yang berkumpul bukan sekadar gerombolan orang tanpa identitas, melainkan pribadi-pribadi dengan nama, wajah, dan sejarah masing-masing yang hadir secara penuh bersama satu sama lain.
Di antara mereka ada Maria, ibu Yesus. Lukas tidak mencatat satu kata pun yang ia ucapkan. Ia hadir — dengan dirinya, dengan wajahnya — dan kehadiran itu sendiri sudah menjadi bagian dari doa komunitas.
Menarik untuk direnungkan bahwa dalam ruang digital, keheningan seseorang sering dibaca sebagai ketidakhadiran. Kalau tidak membalas, tidak berkomentar, tidak bereaksi, kita anggap ia tidak ada. Tapi kehadiran Maria di ruang atas itu membuktikan sebaliknya — diam bukan berarti absen.
Paus Leo XIV dalam pesannya untuk Hari Komunikasi Sedunia tahun ini menulis bahwa wajah dan suara adalah ciri khas unik setiap pribadi, unsur yang paling mendasar dari setiap perjumpaan sejati. Komunikasi yang otentik mensyaratkan kehadiran — dengan nama, wajah, dan suara yang nyata, bukan simulasi.
Ruang atas itu sendiri hanyalah tempat menumpang — sementara, bukan rumah. Mereka tinggal di sana bukan untuk menetap, melainkan untuk bersiap. Bersiap untuk keluar dan pergi ke seluruh dunia, membawa seluruh diri mereka ke mana pun mereka diutus.
Dan Petrus sudah mengingatkan bahwa jalan itu tidak selalu mulus. Ia mengajak mereka untuk bersukacita dalam penderitaan Kristus, karena pergi dan hadir secara penuh memang ada konsekuensinya — ada panas, ada penolakan, ada keringat — namun justru dalam kehadiran yang total itulah ada sukacita yang tidak bisa diperoleh dengan cara lain.
Dalam doanya, Yesus mengucapkan kalimat yang sederhana namun dalam: “Inilah hidup yang kekal: bahwa mereka mengenal Engkau.” Artinya mengenal secara personal dan relasional, bukan sekadar memiliki informasi tentang seseorang. Pengenalan semacam ini tidak datang seketika dan tidak bisa disingkat. Ia tumbuh lewat waktu yang dilalui bersama, percakapan yang kadang tidak selesai, bahkan perdebatan kecil yang justru membuat dua orang semakin sungguh-sungguh melihat satu sama lain.
Yesus sendiri menjalani proses ini bersama para murid-Nya selama tiga tahun — jalan bersama, makan bersama, salah paham, dan berdamai kembali. Ia menyatakan nama Bapa bukan lewat pengumuman dari langit, melainkan dengan hadir sepenuhnya di tengah manusia, hingga di kayu salib Ia bisa berkata tetelestai — sudah selesai, paripurna, tidak ada yang tertinggal.
—
Saya teringat sebuah pengalaman pastoral. Sebuah komunitas orang muda di paroki yang nyaris lenyap setelah pandemi. Yang dibutuhkan ternyata bukan program besar atau konten media sosial yang menarik, melainkan sesuatu yang jauh lebih sederhana — pergi camping bersama tiga hari dua malam, main, keringetan, berebut kamar mandi, tanpa agenda rohani yang berat. Dari sanalah mereka mulai saling mengenal, dan dari pengenalan itu komunitas tumbuh dengan cara yang tidak bisa direncanakan dari balik layar.
Proses mengenal tidak bisa dipercepat dan tidak bisa dipindahkan sepenuhnya ke dalam dunia digital. Dunia Digital tidak pernah bisa membawa kepenuhan. Dalam zaman ketika wajah bisa dipalsukan dan suara bisa disimulasi oleh kecerdasan buatan, Gereja justru dipanggil untuk menjadi komunitas yang mempertahankan kehadiran yang otentik — dengan wajah dan suara yang sungguh-sungguh manusiawi. Seperti para rasul di ruang atas, seperti Maria yang diam namun sungguh ada.
Karena hanya dengan hadir sepenuhnya, kita bisa sungguh-sungguh mengenal. Dan hanya dalam pengenalan yang tumbuh perlahan itulah kita menemukan hidup yang kekal — bukan di tempat yang jauh, melainkan dalam relasi yang nyata dengan Allah dan sesama.
Selamat merayakan Hari Minggu Komunikasi Sedunia. Hadirlah dengan wajahmu.
—
Jadi kamu gimana?
RA





