Yesaya 56:1.6-7
Roma 11:13-15.29-32
Matius 15:21-28


KEADILAN ALLAH

Pada minggu-minggu sebelumnya, kita telah kenyang dengan tema KERAJAAN SURGA. Perumpamaan tentang Kerajaan Surga, Yesus yang berubah rupa dalam kemuliaan surgawi  dan Santa Perawan Maria diangkat ke Surga. Maka, pada minggu ini kita masuk pada tema yang lain lagi. Tapi masih berkaitan dengan faktor bagaimana Kerajaan Surga dapat hadir di muka bumi ini. 

Tema itu adalah mengenai KEADILAN ALLAH. 

Sebagai manusia, apa yang kita pahami sebagai keadilan? Sama rata-sama rasa? Setiap orang berhak mendapatkan apa yang menjadi hak sesuai kewajibannya? atau apa? Tentu bicara soal keadilan dalam kacamata manusia kita bisa berdiskusi panjang. 

Yang saya maksud tentang Keadilan Allah di sini juga bukan tentang Allah akan mengadili orang-orang pada zaman akhir nanti – yang benar masuk surga, yang salah masuk neraka. Bukan. Bukan sama sekali. 

Mari kita lihat Sabda-Sabda Tuhan pada hari ini. 

Kitab Nabi Yesaya dalam Bacaan Pertama menyampaikan Firman Tuhan seperti ini, “…sebab sebentar lagi akan datang keselamatan yang dari pada-Ku, dan keadilan-Ku akan dinyatakan. Sebab Aku akan membawa ke gunung-Ku yang kudus ORANG-ORANG ASING yang menggabungkan diri pada Tuhan untuk melayani Dia dan mengasihi nama-Nya untuk menjadi hamba-hamba-Nya..” Di akhir perikop juga disebutkan, “SEBAB RUMAH-KU akan disebut RUMAH DOA bagi segala bangsa“.

Rasul Paulus dalam bacaan kedua menjelaskan apa itu keadilan Allah. Keadilan Allah adalah kemurahan hati-Nya. Kemurahan bagi bangsa-bangsa yang tidak taat. Karna justru dalam ketidaktaatan mereka, Allah menunjukkan kemurahan-Nya: memanggil mereka untuk menerima kasih karunia dan menjawab panggilan-Nya. 

Tema ini juga ditunjukkan melalui tindakan Yesus terhadap perempuan Kanaan. Yesus berjumpa perempuan ini saat Dia menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon.

Tirus dan Sidon terletak di garis pantai Laut Mediterania, sebelah utara Galilea. Anda tentu tau bagaimana pandangan orang-orang Yahudi mengenai orang-orang dari daerah ini. Perempuan Kanaan ini memohon kepada Yesus untuk menyembuhkan anak perempuannya yang sakit. Ibu ini tau, dia orang asing. Bahkan dia juga sadar sebutan orang-orang yahudi bagi bangsanya.

“Benar, Tuhan, tapi anjing-anjing pun makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya”.

Tapi itu tak menyudutkan hati Ibu ini. Labeling atau cap yang diberikan kepadanya dan sebangsanya tidak menghalangi dia untuk berharap pada kemurahan Allah yang adil. Kalau Allah adil, maka Rahmat-Nya tidak hanya diberikan untuk segelintir orang saja yang dianggap layak, tapi juga bagi bangsa asing, yang disebut kafir itu. Harapan Ibu ini timbul dari imannya yang sangat besar – demikian ungkapan Yesus. “Hai Ibu sungguh besar imanmu!”. 

Jadi, hari ini saya TIDAK mengajak anda untuk bersikap seperti ibu yang punya iman itu. Tapi, saya ingin mengajak anda untuk sadar – bahwa keadilan Allah yang murah hati harus hadir di bumi ini. Maka kita sebagai anak-anak Allah dipanggil untuk mewujudkan itu. 

Masih banyak sesama kita yang terasing, atau diasingkan, yang butuh pertolongan seraya terus berharap bahwa kemurahan hati Allah mereka rasakan juga. Misalnya, mereka yang terjerat dan menjadi korban praktek perdagangan orang. Mereka yang terasing dari kebijakan pemerintah. Mereka yang betul-betul belum merasakan apa artinya sejahtera. Dan masih banyak lagi.

Kita, saya dan anda dipanggil Allah untuk ikut serta terlibat dalam menghadirkan keadilan-Nya, yakni kemurahan hati-Nya. 

Kalau anda, saat ini anda merasakan Rahmat Allah yang begitu besar, dalam rupa kesehatan, kesejahteraan, rezeki yang berlimpah – lalu bagaimana rahmat itu adil dirasakan juga dalam diri orang yang tidak mengalaminya? Sebaliknya, ketidakadilan terjadi karena ulah segelintir orang dengan kepentingan pribadinya.

Rahmat-Nya harus dirasakan oleh semua orang – juga bagi mereka yang terasing. 

Jadi, kamu gimana?

RA

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here