Pemuda Merayakan Keberagaman dan Mengamalkan Nilai-Nilai Pancasila

609
Pemuda Merayakan Keberagaman dan Mengamalkan Nilai-Nilai Pancasila
Silahkan memberi Rating!

FGD : Orang Muda Lintas Agama

Tema : “Celebrating Diversity For Peace”

KAJ.or.id – Kemajemukan yang dimiliki Indonesia menjadi keunikan tersendiri, itu merupakan kelebihan yang harus disikapi dengan bijak. Persatuan dan kesatuan bangsa hanya diperoleh jika masyarakat bisa menyikapi perbedaan dengan bijaksana. Terlebih perbedaan agama, sebab agama adalah salah satu entitas terbesar yang dimiliki manusia.

Itulah salah satu Focus Group Discussion yang disampaikan dalam tema “Celebrating Diversity of Peace : Pemuda Merayakan Keberagaman dan Mengamalkan Nilai-nilai Pancasila” yang dilaksanakan pada hari Sabtu 17 September 2016 di Gedung Nusantara V ruang GBHN Komplek Parlemen MPR,DPR, DPD RI Senayan Jakarta (17/9).

Kegiatan tersebut di gagas dan diselenggarakan oleh Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Jakarta bersama Orang Muda Lintas Agama. Peserta berasal dari berbagai organisasi dan lembaga seperti Sie-kepemudaan Paroki Se KAJ, PMKAJ, PMKRI, Pemuda Katolik, FMKI, GAMKI, Pemuda PHDI, Hikmabudhi, Gemaku, Pemuda Matakin, Pemuda PGI, IPPNU, Forumg Jong Indonesia, ANBTI, Gusdurian, ICRP, FKUB DKI Jakarta, Peradah, Komisi keadilan dan Perdamaian KAJ dll.

Kegiatan dibuka oleh Pimpinan DPD RI yang diwakilkan oleh Anggota DPD RI Bapak Ir. Anang Prihantoro, beliau menyampaikan bahwa pemuda harus sering bertemu dan berjumpa dalam segala hal, khususnya yang berasal dari berbagai macam agama sebab keberagaman akan terus tumbuh jika para pemuda mampu berdialog dan membangun persaudaraan guna membangun bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik lagi.

Dalam kesempatan tersebut Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Jakarta RD. Albertus Yogo Prasetianto menyampaikan bahwa langkah orang muda untuk membuka dialog terhadap berbagai agama sangat diperlukan dalam kondisi bangsa seperti ini.

Banyaknya tantangan orang muda pada era globalisasi telah membuat orang muda semakin larut dalam sekularisme arus zaman. Untuk itu pemuda harus mengambil peran sebagai pengerak dan lokomotif perubahan untuk membangun budaya dialog antar agama. Gereja katolik dalam hali ini Keuskupan Agung Jakarta juga dalam Arah Dasar 2016-2020 juga berupaya untuk mencapai tugas perutusannya di tengah masyarakat yaitu semakin tangguh dalam iman, terlibat dalam pesaudaraan inklusif serta berbela rasa kepada sesama dan lingkungan.

Tugas perutusan tersebut dilaksanakan dalam konteks KAJ yang berada di wilayah Jakarta, Tangerang dan Bekasi yang penuh dengan keberagaman. Hal ini merupakan tantangan yang khas bagi umat beriman dan Gereja KAJ, oleh karenanya Gereja perlu bergandengan tangan dengan pihak-pihak lain untuk merwujudkan tugas perutusannya.

14324530_10208924534008255_1553101607346709734_o

Dalam sesi pertama, hadir  sebagai narasumber bapak Yudi Latif ketua Reform Intitute dan kepala pusat study pancasila menyampaikan. Forum ini bukan hanya forum keberagaman dalam agama namun dalam pancasila telah dirumuskan ke dalam lima sila terkait keberagaman yang jauh lebih komplek dan mengandung nilai luhur universal.

Pancasila sebagai ideologi besar dalam inklusi sosial (menginklusikan semua keragaman) dan Manusia sebagai multiple identity yang tidak selalu didefinisikan pada unsur keagamaan saja. Jika hanya fokus pada nama dalam suatu agama, maka kita akan tersesat. Karena Tuhan dapat disebut dengan sebutan apapun.

Tuhan adalah kasih sayang, perbedaan ini adalah kondisi baik untuk toleransi positif yaitu menghargai perbedaan tapi dengan cara yang benar. Niat baik tidak cukup tetapi harus memahami keberagaman yang ada. Solidaritas keberagaman bukan hanya emosional tetapi fungsional untuk mengatasi kesenjangan sosial masyarakat dan harus diperjuangkan bersama,” tambahnya.

Menurut Alissa Wahid yang saat ini aktif sebagai Koordinator Nasional Gusdurian, Indonesia ada karena keberagaman, pancasila sebagai permersatunya. Tahun 2015 yang lalu dalam kesepakatan dunia pada forum Global and Peace ada lima poin utama yang menjadi isu dunia yaitu peace, people, plant, partnership, dan prosperety yang kedepanya melihat keberagaman sebagai sesuatu yang harus di maknai lebih dalam dalam konteks hubungan yang berkelanjutan.

Bante Bhikku Darmakaro dari Walubi  menuturkan “kita sebagai pemuda harus sungguh bangga karena kita lahir di negara Indonesia yang banyak sekali keragamannya”. Hendaknya kita memahami Pancasila secara mendalam. Pemahaman dan praktik keagamaan masih kurang yang perlu digarisbawahi adalah kemiskinan. Bukan karena kemiskinan itu sendiri tetapi kedewasaan batin yang belum sampai sehingga banyak kekerasan. Banyak kemudahan yang kita dapat. Mulai dari diri sendiri untuk mempunyai kebanggaan tersendiri terhadap Indonesia dan keberagamannya.

Ketua PGI Wilayah DKI Pdt. Manuel E Raitung juga menyampaikan hakikat hidup orang beriman adalah untuk mengakui sesama selain mengakui Tuhan dan dirinya. Salah satu langkah untuk memperjuangkan hidup bersama dalam keberagaman adalah memperlakukan keadilan bagi semua orang. Ajaran cinta kasih adalah ajaran semua agama. Belajar rendah hati untuk dapat menghormati dan menghargai sesama.

Banyak berdiskusi dan pertemuan orang muda antar agama dirasa penting untuk menyatukan hati juga. Bagimana jika mau berketuhanan jika kita masih saling mencela dan melukai kehidupan bersama yang beradab. Mari menyiapkan diri untuk kedewasaan dan kematangan secara batin agar punya kekayaan mengenai jiwa sosial terhadap sesama.

Kesempatan tersebut hadir pula guru besar STF Driyarkara Prof.Dr. Frans Magnis Suseno menyampaikan bahwa keberagaman memang suatu tantangan dan itu adalah modal yang luar biasa. Masalah datang justru saat masyarakat berubah secara kompetitif. Tahun 1945 Islam sebanyak 88% menegaskan bahwa “Indonesia tidak menjadi negara Islam” dan memilih menjadi bangsa yang mengakui adanya perbedaan dan keberagaman.

Dari toleransi saling menghormati dan menghargai di awali dengan hubungan saling percaya. Pancasila adalah  pengakuan. Pengakuan adalah kita saling menerima dalam identitas suku, etnik, dsb. Semua saling menerima dalam identitas masing-masing. Jadi negara ini tidak perlu ada orang yang takut terhadap religiusitas, ungkapnya.

Dalam FGD Sesi kedua hadir juga sebagai narasumber Ketua Lembaga Kajian PBNU Bapak Dr. H. Rumadi “Agama menjadi bagian penting dalam kehidupan”. Kita seperti sekarang ini karena dibentuk dari tradisi masa lalu. Hubungan antar agama tidak hanya manis tetapi ada pahit juga. Dalam hubungan antar agama pasti ada bagian intelektual yang membentuk sejarah peradaban di masa depan dan agama tidak mempolitisasi perbedaan.

Firman Tuhan yang maha esa adalah manusia mulia karena diberikan watak sejati Nilai yang harus diterapkan cinta kasih, kebenaran, kesusilaan, dan kebijaksanaan. Anak muda harus bisa mengendalikan emosi dan nafsu yang ada dalam diri. Misalnya dengan bimbingan agama. cinta kasih, kejujuran, kebijaksanaan, dan keberanian. Bagaimana cara menjadi bijaksana dan harus banyak belajar dan lakukan setulus hati. Ujar Ketua Matakin Js. Liem Liliany Lontoh.

Wayan Sudane dari PHDI DKI Jakarta menyampaiakan hubungan kepada Tuhan, ke sesama manusia, dan lingkungan adalah inti dari setiap tindakan. Hubungan kepada Tuhan terkait dengan ayat suci adalah bagaimana kita membuat karakter beragama. Hubungan sesama manusia menjadikan toleransi antar sesama. Jika kita terlalu asik dengan agama kita/diri kita maka muncul fanatisme yang sempit dan tidak mau memahami lingkungan sekitar.

Mengapa seseorang terlarut dalam radikalisme? Kekecewaan, ketidakadilan, kemiskinan. Akar radikal tidak tunggal. Begitu mudah anak muda dapat mengakses informasi tetapi apa yang ditangkap menjadikan dia/membuat dia menganggap bahwa itu adalah benar/ajaran dari kepercayaannya. Orang muda mudah dipengaruhi oleh media massa. Jika saat ini ajaran dalam agama dibuat dalam bentuk cerita yang ‘masa kini’ seperti Mukidi maka akan lebih santai. Orang-orang tidak akan mudah marah dengan hal tersebut. Anak-anak muda harus merangkul teman-temannya untuk membuat persahabatan sejati, saling merangkul, menggunakan bahasa yang berbelas kasih, optimis, dan positif. Ujar Romo Benny Susetyo yang turut hadir sebagai pembicara.

14362505_10210536001294814_6900942430247474836_o

Menurut Bondan Wicaksono, antusias peserta juga nampak dalam FGD sesi 1 dan 2. Harapanya kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan bersama lebih banyak lagi komunitas yang berpartisipasi di berbagai macam kesempatan. Agar para orang muda dapat secara terbuka menerima perbedaan sebagai anugrah bukan sebagai ancaman. Budaya dialog perlu terus dihidupkan untuk membangun persaudaraan yang inklusif untuk membangun bangsa yang lebih humanis dan damai. Ujar Ketua SC sekaligus wakil ketua komisi Kepemudaan KAJ.

Sebagai tindak lanjut kegiatan akan ada Interfaith Youth Day yang rencananya akan diadakan pada bulan November tahun ini bersama orang muda lintas agama. Ujar Luciana Dita sekaligus Ketua Panitia.

Hasil FGD Dalam Komitmen Bersama Orang Muda Lintas Agama

  1. Menggugah dan mengingatkan orang muda Indonesia tentang pentingnya budaya dialog antar umat dari berbagai latar belakang agama dan tradisi budaya agar tercipta budaya damai, toleran dan saling memahami antar umat, sebagai aktualisasi kasih kepada Tuhan Allah dan sesama sesuai dengan ajaran kasih dari agama dan keyakinan masing-masing.
  2. Agar peran kerukunan antar agama dapat menjadi suatu forum untuk saling tukar informasi diantara umat dari berbagai latar belakang budaya dan agama guna mendapatkan pemahaman yang lengkap dan mencari common world agar tercipta budaya toleransi dan saling memahami satu sama lain.
  3. Menyebarluaskan budaya damai dan toleran sampai di tingkat akar rumput secara bersama-sama oleh tokoh lintas agama dan memperteguh pelayanan kasih dalam sesama umat beriman.
  4. Memfasilitasinya orang muda dari berbagai agama untuk saling mengenal perbedaan agama dan memahami nilai-nilai pancasila serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Membentuk komunitas orang muda lintas agama yang mempunyai visi keterbukaan, toleran dan mengedepankan dialog untuk mewujudkan perdamaian.
  6. Memunculkan para orang muda sebagai lokomotif perdamaian berbakat yang concern terhadap isu-isu kerukunan dan perdamaian.

 

Jakarta, 17 September 2016