Pra Temu Mahasiswa PMKAJ 2016: “Muda dan Merdeka”

704
Pra Temu Mahasiswa PMKAJ 2016: “Muda dan Merdeka”
Silahkan memberi Rating!

IMPLEMENTASI ARDAS KAJ

KAJ.or.id – Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta (PMKAJ), merupakan pelayanan pastoral yang dinaungi & dihidupi oleh mahasiswa Katolik di Keuskupan Agung Jakarta. PMKAJ terdiri dari berbagai unit, yaitu unit tengah, unit barat, timur, selatan & Pastoran Unika Atmajaya Jakarta.

Dalam rangka mempererat basis komunitas, memetakan kegiatan bersama, serta menumbuhkan kepedulian semangat nasionalisme kaum muda terhadap sesama, komunitas, gereja dan negara yang berlandaskan Arah Dasar (ARDAS) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), maka dirancang kegiatan Temu Mahasiswa PMKAJ 2016 yang akan dilaksanakan pada September 2016 nanti.

Publish

Seminar Pra Temu PMKAJ 2016

Rangkaian acara tersebut dimulai dengan kegiatan Pra Temu Mahasiswa PMKAJ 2016, yang berbentuk seminar bertemakan “Muda dan Merdeka” di aula Kolese Kanisius, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (26/6), yang dihadiri 100 peserta bersama romo moderator dan panitia . Seminar ini dibagi menjadi dua sesi yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Sesi pertama seminar ini mengenai “Arah Dasar KAJ dan Pancasila sebagai Dasar Negara dengan pembicara RP. Ignatius Ismartono, SY dan Rafael Udik Yunianto dan sesi kedua mengenai “Implemetasi Pancasila Dalam Kehidupan Mahasiswa Katolik” dan pembicara sesi kedua, yaitu Surya Tjandra dan Yuniarto Wijaya. Inti dari sesi pertama adalah memberikan penjelasan mengenai Arah Dasar (ARDAS) dan Pancasila sedangkan sesi kedua mengenai penerapan Arah Dasar dan Pancasila pada mahasiswa Katolik.

IMG_8947

Sesi Pertama: Kaum Muda Berciri Pancasila

Sesi pertama Romo Ismartono, SY sangat menekankan bahwa Pancasila seharusnya menjadi motivasi untuk menggerakkan komunitas agar terwujudnya kaum muda yang bercirikan Pancasila. Selanjutnya Romo Ismartono juga mengatakan, jika Pancasila dapat dilaksanakan dengan baik akan terwujud kaum muda yang lebih baik dari sebelumnya karena mereka dapat mengetahui hal yang baik dan buruk. Beliau juga berpesan agar kaum muda lebih peka terhadap keadaaan negara dan menegakkan keadilan bagi mereka minoritas yang mengalami diskriminasi.

Rafael Udik Yunianto yang biasa disapa Udi ini berkata, “kaum muda harus mempunyai aksi yang berasal dari diri sendiri agar bisa mempengaruhi sesamanya dan bersama mempraktekkan aksi tersebut dan menyebarkan nilai-nilai Pancasila ini pada sekiatarnya”. Beliau yang merupakan seorang praktisi HR juga memberikan contoh seorang Mahatma Gandhi dalam memimpin bangsa India dimana dia selalu memberikan contoh atau aksi sehingga bangsa India mengikuti aksi tersebut. Udik juga memberitahukan Keuskupan Agung Jakarta merupakan Keuskupan pertama yang mempratikkan Pancasila sebagai Arah Dasar umatnya dalam menjalankan kehidupan. Intinya, KAJ mengharapkan gereja dapat berubah dari eksklusif menjadi inklusif dan dari pastoral menjadi evengelisasi.

1111

Sesi Kedua: Pancasila bagi Mahasiswa Katolik

Sesi kedua yang membahas mengenai “Implemetasi Pancasila Dalam Kehidupan Mahasiswa Katolik”, Surya Tjandra menjelaskan, sekarang dan dulu jauh berbeda. Ada jarak waktu yang tidak bisa terus diterapkan pada waktu berikutnya. “Kalau zaman dulu kita bermain kelereng saja sebagai sebuah permainan, beda ceritanya dengan sekarang, kalian bermain dengan gadget kalian. Adakah yang salah? Tentu tidak, justru kehadiran gadget memudahkan kita dalam berkomunikasi.” Tambahnya. Jadi, dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila tentu disesuaikan dengan perkembangan zaman dan tetap mengindahkan kaidah-kaidah yang berlaku.

Pada kesempatan yang sama Yuniarto Wijaya atau akrab disapa Toto ini, mengatakan seperti apakah Pancasila yang membekas diingatan kita. Pancasila bukan lagi membahas isinya, tetapi aksi nyata kita di lingkungan masyarakat. “Kita perlu memiliki sikap toleransi kepada sesama kita. Cara pandang kita terhadap suatu masalah bukan dari satu sisi saja, tetapi melihatnya dari beragam akspek. Ketika seseorang atau pun komunitas hingga suatu negara mengalami musibah perlu pula sikap simpati, meski dalam bentuk tulisan, dan ucapan melalui medsos. Dalam hal memilih pemimpin bukan asal pilih, tetapi terlibat langsung dalam proses pengusungan hingga pemilihan. Dan jangan jadikan kebiasaan yang buruk menjadi budaya sehingga menyusahkan kita dikemudian hari,” tegasnya.

IMG_8970

Dapat disimpulkan bahwa implementasi Pancasila oleh mahasiswa Katolik adalah melakukan sikap toleransi antar umat beragama, menumbuhkan kepekaan dan simpati terhadap lingkungan sekitar, dan tidak melakukan kebiasaan buruk yang merugikan diri dan sesama. (PMKAJ)