Sarasehan Pancasila: “Perlunya Kegelisahan”

406
Bambang Ismawan, Setia Budiantoro , J. Kristiadi, sarasehan pancasila, uskup suharyo,
Para Narasumber dan moderator mendapatkan kenang-kenangan dari panitia sarasehan.
Sarasehan Pancasila: “Perlunya Kegelisahan”
Silahkan memberi Rating!

KAJ.or.id – Mgr. Ign. Suharyo, Pr Uskup Agung Jakarta tampil sebagai pembicara dalam serasehan mengenai Pancasila. Sarasehan ini digagas oleh para alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Jogyakarta, St. Thomas Aquinas ke-69 di Gedung Nusantara V Komplek DPR-RI 25 Mei 2016. Bapa uskup mengajurkan agar anak bangsa ini dan para alumni PMKRI tidak bedoa kepada Tuhan hanya untuk memohon berkat, bersyukur dan mohon kesembuhan serta keselamatan dan kesejahteraan.

“Saya kira tidak cukup hanya beriman dan berdoa seperti itu. Kita juga perlu memohon kegelisahan. Sehingga akibat kegelisahan itu kita bisa keluar dari zona aman dan nyaman kita dan melihat realita lingkungan yang lebih luas,” ungkapnya yang disambut tawa para alumni PMKRI dari seluruh Indonesia yang menghadiri serasehan ini.

Bapa Uskup menandaskan bahwa tugas kita adalah membuat lingkungan kita semakin lebih bermartabat, lebih manusiawi dan semakin kristiani. Apa yang harus kita buat untuk mencapai tujuan itu? “Kita butuh kompetensi etis atau belarasa atau compassion. Sebab tanpa belarasa kita akan cuek bebek dan berkata itu bukan urusanku,” ungkap Mgr. Suharyo.

Setia Budiantoro , J. Kristiadi, sarasehan pancasila, uskup suharyo,
Mgr. Ign. Suharyo dan J. Kristiadi (kanan) sebagai narasumber dan Setia Budiantoro sebagai moderator.

Untuk melakukan itu dibutuhkan kebersamaan (kerjasama) semua pihak agar kemampuan kita lebih besar dan lebih tahan lama. “Selain itu kita butuhkan analisa iman untuk membaca realitas yang ada dalam iman. Hal ini akan menimbulkan kegelisahan dan keinginan serta dorongan untuk berbuat sesuatu untuk mengatasinya melalui analisa ilmiah. Inilah yang kita sebut gerakan. Gerakan yang kita canang tidak harus besar-bear tetapi mulailah dari yang kecil-kecil,” ungkapnya.

Bapa Uskup memberi contoh wilayah Tangerang yang banyak dihuni oleh para buruh pekerja dan keluarganya. Pertanyaan kita, siapa yang akan memelihara anak-anak mereka saat mereka harus bekerja? “Ini memunculkan kegelisahan untuk ingin segera menghasilkan jalan keluar. Maka dilakukanlah riset lapangan dan analisa mendalam. Akhirnya kita temukan jawabannya yaitu perlu didirikan rumah penitipan anak,” ungkapnya.

Demikian juga LSM. Apa yang harus dilakukan agar APBD benar-benar termanfaatkan dengan baik bagi pembangunan dan kesejahteraan rakyat. Ini harus benar-benar menjadi kegelisahan batin sehingga akan muncul ide mengadakan pengawalan yang ketat terhadap pemanfaatan APBD.

Berkaitan dengan Pancasila, Para uskup yang tergabung dalam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mencemaskan keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia. “Para uskup melihat perujudan sila ke-5 Pancasila ini makin jauh dari harapan. Karena itu selama tiga tahun berturut-turut sejak 2003, 2004 hingga 2005 para uskup membicarakan topic ini. Dari kegelisahan ini para uskup sepakat untuk terus mengembangkan Credit Union (CU) yang terbuka untuk umum. Paling tidak dengan gerakan ini para anggota CU semakin bisa memanfaatkan dana mereka secara tepat guna dan tepat sasaran sehingga keadaan ekonomi mereka semakin baik. Karena itu sekarang di semua keuskupan tumbeuh berkembang CU,” tambah Mgr. Suharyo.

Setia Budiantoro , J. Kristiadi, sarasehan pancasila, uskup suharyo,
Para Narasumber dan moderator mendapatkan kenang-kenangan dari panitia sarasehan.

Di lain pihak J. Kristiadi, dari peneliti CSIS mengemukakan pembicaraan mengenai Pancasila sudah sangat banyak. Tujuan Pancasila adalah pencapaian kebahagiaan rakyat bangsa ini. “Semua pembicaraan menjadi sangat abstrak. Karena itu kadang sudah membosankan. Bagi saya yang penting adalah bagaimana kita merasakan arti nilai-nilai Pancasila itu dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana istri dan anak-anak merasakan secara kongkrit cinta saya kepada mereka. Karena itu saya usulkan mulailah dari keluarga masing-masing menerapkan nilai-nilai Pancasila itu,” anjuran J. Kristiadi.

Secara politik, menurut Kristiadi saat ini jumlah anggota DPR dan DPD yang beragama katolik sudah sangat besar bila dibandingkan dengan jumlah umat katolik di negri ini. “Sekarang sebagai umat katolik bagaimana mereka berjuang untuk kepentingan rakyat. Bagaimana sentuhan kritianitas yang mereka miliki dalam perjalanan bangsa ini. Bisakah diharapkan akan lebih baik? Ini yang penting,” tandas Kristiadi. Kita, lanjutnya, tidak boleh lagi mengandalkan orang-orang katolik KTP. “Setiap hari kita harus bisa merasakan mukjizat terjadi karena merasakan adanya sentuhan Tuhan dalam aktivitas kita. Untuk bisa merasakan sentuhan itu tiap hari kita juga harus baca Kitab Suci. Karena disanalah sumber inspirasi,” ujar Kristiadi.

Bambang Ismawan, Setia Budiantoro , J. Kristiadi, sarasehan pancasila, uskup suharyo,
Usai sarasehan para peserta (alumni PMKRI Cab. Jogya) masih mengerubungi Mgr. Suharyo dan J Kristiadi.

Selain kedua pembicara ini, dalam sambutannya Bambang Ismawan, mewakili para mantan ketua DPC PMKRI Jogyakarta menyambut hangat pembahasan topik Pancasila ini. Ia topic ini telah mengingatkannya kembali akan Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia (KUKSI) pada 27-29 Desember 1957. Inilah kongres keagamaan pertama yang bersifat nasional sejak 1945. KUKSI merupakan pendorong utama akan lahirnya gerakan Pancasila. “Gerakan ini digagas oleh Pater John Dijkstra, SJ. Maka lahirlah serikat-serikat yang sifatnya umum dan tidak terafiliasi dengan Partai Katolik. Bahkan sering dikatakan Geralam Ikhlas. Sehingga lahirlah Ikatan Buruh Pancasila, Ikatan Petani Pancasila, Ikatan Nelayan Pancasila,” tandas Ismawan yang juga pengelola LSM Bina Swadaya. Dari pengalaman ini dapat disimpulkan bahwa Pancasila adalah pemberi peluang yang terbuka bagi setiap warga negara Indonesia. “Sekarang bagaimana kita memanfaatkannya untuk membangun bangsa ini dengan sebaik-baiknya,” tandas Ismawan.

Sonar Sihombing, Anggota Komisi Komsos KAJ