Temu Katekis Dekenat Banten – Kanwil Bimas Katolik Banten

178
Temu Katekis Dekenat Banten – Kanwil Bimas Katolik Banten
Silahkan memberi Rating!

Pada 11-12 Oktober 2013 di Hotel Royal Raya, Anyer, sejumlah 34 katekis dari 14 Paroki seBanten berkumpul bersama untuk mendapatkan pembekalan dari dua orang Pakar di bidangnya, yaitu Rm. Driyanto, Vicaris Yudicial Keuskupan Bogor, dan Rm. Rudy Hartono, Ketua Komisi Kateketik KAJ.

Penyelenggaraan acara ini dimungkinkan berkat kerjasama dari Kanwil Bimas Katolik Provinsi Banten dan Forum Pemimpin Gereja Katolik (Forpijak) Dekenat Tangerang.

Hari pertama rekoleksi, selama dua sesi Rm. Driyanto menyampaikan aneka pengajaran dan contoh permasalahan Hukum Gereja, dengan pesan inti tentang Chronos dan Kairos di kehidupan nyata kita.  Kita semua sering kali terjebak pada fenomena Chronos, tanggal, detail suatu peristiwa, beserta nuansa emosi di dalam berbagai peristiwa tersebut. Peristiwa yang bernuansa emosi negatif, seperti kesedihan, kekecewaan, keterhinaan, kemarahan, ketertolakan, semuanya begitu melekat dalam memori emosi kita. Semua itu membuat kita mudah kehilangan sukacita hidup, arah hidup, tidak bias bergerak maju, terpenjara dendam, dll.

Padahal, kalau kita bias merefleksikan dengan baik rangkaian peristiwa tersebut, kita bias melihat suatu rangkaian kejadian hdup yang bukan kebetulan. Kita sekarang ini ada, menjadi diri kita seperti saat ini, karena rangkaian kejadian di masa lalu. Kalau kita bias sampai pada kesadaran tersebut, maka kita akan memandang aneka peristiwa tersebut sebagai Kairos, momen, yang berdampak satu sama lain, membuat kita bergerak maju, berubah dari kondisi awal menjadi kondisi terkini. Dengan pertolongan pencerahan dari Roh Kudus, kita bias berkata, “segala sesuatu indah pada waktunya.”

Dalam melihat peristiwa kehidupan, kita juga hendaknya tidak terjebak dalam pasal-pasal hukum secara mati, kaku, stereotype. Hukum itu dibuat untuk membantu kehidupan manusia. Misalnya dalam perkara Tata Ibadah; ada suatu fenomena yang aneh di mana ada sebagian umat yang merasa Liturgi Ekaristi itu kering, membosankan, perlu diubah, perlu divariasikan, sementara dalam Ibadat umum oleh kaum awam, yang semestinya berlangsung lebih fleksibel, justru dibuat mengikuti Tata Ibadah Formal yang berlebihan. Ini merupakan contoh penerapan hokum Gereja yang salah kaprah.

Di hari kedua rekoleksi, walaupun hanya satusesi, Rm Rudy Hartono berhasil mengingatkan para peserta akan pentingnya Spiritualitas ber-Katekese, dengan meneladani Yesus sendiri, sang Katekis Agung. Rm Rudy menggugah kesadaran akan kondisi dunia yang krisis iman saat ini, sehingga Sri Paus menetapkan hadirnya Tahun Iman.  Di dunia barat, seperti di Jerman, orang-orang katolik secara terang-terangan menyatakan diri untuk meninggalkan Gereja Katolik karena mereka merasa tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari iman mereka.

Mereka melihat di Negara-negara yang mengklaim dekat dengan Tuhan justru muncul fanatisme, konflik dan terorisme. Di Negara-negara yang tidak menempatkan Agama sebagai hal penting, justru tampak kehidupan masyarakat lebih berbudaya, lebih maju, lebih aman. Di Jerman mereka yang beragama Katolik justru terkena pajak lebih besar. Jadi buat apalagi punya agama / iman?

Catechein, Catecheo, yang artinya Menggemakan kebawah, tidak dapat lepas dari Pengajaran. Yesus mendapat sebutan Rabbi, Rabuni, Guru. Namun pengajaran yang dimaksud bukanlah pengajaran yang melulu bermuatan pengetahuan. Katekese harus bermuatan Pengajaran Iman +  Sharing Pengalaman Iman.

Iman itu harus menyentuh Perasaan dan juga Kebenaran. Perasaan paling tersentuh manakala bertemu dengan Kasih. Kasih harus menjadi pokok sharing iman, menjadi Inti Spiritualitas. Kebenaran itu membuat pemilik iman tidak tergoyahkan, bias terus bertumbuh dan berkembang karena Kebenaran Iman juga bersifat Inspiratif dan Transformatif. Paulus merupakan contoh besar Pengajaran Iman yang benar. “Saya Tahu Kepada Siapa Saya Percaya” membuat Paulus terus menerus digerakkan mewartakan Injil Keselamatan kemana saja Tuhan menggerakkan dia.

Metode Katekese ala Yesus

Yesus mengajar dalam aneka bentuk katekese: berkhotbah, melayani, baik untuk umum maupun pribadi-pribadi, memenuhi kebutuhan umat. Yesus menyapa  aneka jenis manusia, dengan pengajaran yang bersifat Apolegetik, Provokatif, Ia sangat  menguasai Firman dan sangat peka terhadap kebutuhan. Khotbah Yesus juga beraneka ragam bentuknya; Ilustrasi, Narasi, Khotbah/Pengajaran Tematik, Diskusi, dll.

Dengan demikian para katekis juga hendaknya memperkaya diri dengan aneka bentuk pengajaran. Sesudah BIA, BIR, pikirkan juga BIOTA;  Bina Iman Orang tua. Krisis Iman yang terjadi di dunia saat ini tidak dapat lepas dari lemahnya iman para orangtua.

Jangan pernah berhenti pada pencapaian katekese di masa lalu. Teruslah memperbaharui diri dengan bahan-bahan katekese yang baru dan juga aneka media berkatekese di jaman ini.

 

dr.Wijaya H. Yahya

Koordinator Katekese Dekenat Tangerang